Sejarah Maulid Nabi Muhammad SAW: Asal-Usul, Perkembangan, dan Tradisinya di Nusantara
sejarah maulid nabi muhammad saw (h)
Maulid Nabi Muhammad SAW adalah peringatan hari kelahiran Rasulullah SAW yang menurut tradisi Sunni jatuh pada 12 Rabiulawal. Sejarah Maulid Nabi Muhammad SAW menunjukkan bahwa tradisi ini baru lahir beberapa abad setelah beliau wafat.
Kata maulid berasal dari bahasa Arab yang bermakna hari lahir. Menelusuri sejarah Maulid Nabi Muhammad SAW membantu umat memahami akar sekaligus makna di balik perayaan yang kini mendunia.
Dilansir dari Britannica, peringatan maulid belum dirayakan secara luas oleh umat Islam hingga abad ke-13, meskipun Dinasti Fatimiyah di Mesir sudah memperingatinya sejak akhir abad ke-11 sebelum menyebar pesat seiring berkembangnya tasawuf pada masa Ayyubiyah. Kalangan Sunni bahkan menganggap perayaan pada tahun 1207 sebagai festival maulid pertama.
Advertisement
Baca juga: Amalan Maulid Nabi yang Baik Dilakukan Beserta Sejarahnya
1. Menelusuri Asal-Usul Sejarah Maulid Nabi Muhammad SAW
Untuk memahami sejarah Maulid Nabi Muhammad SAW, kita perlu kembali ke titik awal munculnya tradisi ini. Para sejarawan sepakat bahwa peringatan maulid tidak berasal dari masa Rasulullah maupun para sahabat, melainkan muncul beberapa abad sesudahnya.
Kelahiran Rasulullah pada Tahun Gajah: Nabi Muhammad SAW lahir di Makkah sekitar tahun 570 Masehi, bertepatan dengan Tahun Gajah, dan menurut tradisi Sunni terjadi pada 12 Rabiulawal dalam penanggalan Hijriah.
Perayaan Perdana di Masa Dinasti Fatimiyah: Peringatan maulid pertama kali muncul pada masa Dinasti Fatimiyah yang beraliran Syiah Ismailiyah di Mesir, mulanya sebagai acara istana yang bersifat terbatas di kalangan elite.
Catatan Tertulis Paling Awal: Penyebutan tertulis paling awal tentang perayaan maulid berasal dari catatan Ibn al-Ma'mun yang kemudian dilestarikan sejarawan Mesir al-Maqrizi, dan menyebut perayaan tahunan mulai digelar sekitar 517 H atau 1123 Masehi.
Empat Jenis Maulid Fatimiyah: Pada masa itu penguasa Fatimiyah tidak hanya memperingati kelahiran Nabi, tetapi juga maulid Ali bin Abi Thalib, Fatimah az-Zahra, serta khalifah yang sedang berkuasa.
Jonathan A.C. Brown, sejarawan Islam dari Georgetown University, dalam bukunya "Muhammad: A Very Short Introduction" sebagaimana dikutip dari Goodreads, menuliskan, "Menariknya, Maulid atau hari lahir Nabi kemungkinan berasal dari perayaan Syiah terdahulu atas hari kelahiran Ali."
Baca juga: Kata-Kata Mutiara untuk Nabi Muhammad, Ungkapan Cinta Umat Islam
2. Tahapan Perkembangan Maulid Nabi dari Masa ke Masa
Perjalanan sejarah Maulid Nabi Muhammad SAW tidak berhenti di era Fatimiyah. Tradisi ini terus berevolusi dan menyebar ke berbagai penjuru dunia Islam melalui beberapa tahapan penting berikut.
Kebangkitan di Dunia Sunni: Kalangan Sunni menganggap perayaan yang digelar Sultan Muzaffaruddin al-Kukburi, gubernur Irbil di Irak, pada awal abad ke-13 sebagai maulid Sunni pertama, dengan jamuan besar bagi ulama dan rakyat.
Kaitan dengan Salahuddin al-Ayyubi: Tradisi populer mengaitkan penyebaran maulid dengan Sultan Salahuddin al-Ayyubi yang ingin membangkitkan semangat umat pada masa Perang Salib, meski sejumlah sejarawan lebih menisbatkannya kepada al-Kukburi.
Menyebar Bersama Tasawuf: Perayaan maulid menyebar dengan cepat seiring berkembangnya ajaran tasawuf pada masa Dinasti Ayyubiyah, sehingga menjangkau lapisan masyarakat yang lebih luas.
Puncak pada Era Ottoman: Maulid memperoleh kedudukan yang semakin penting pada masa Kekaisaran Ottoman, kerajaan Turki-Muslim yang mencapai puncak kejayaannya pada abad ke-16.
Pengakuan di Era Modern: Kini maulid diakui sebagai hari libur resmi di banyak negara berpenduduk mayoritas Muslim, dan juga di sejumlah negara lain yang memiliki komunitas Muslim besar.
Berdasarkan data EBSCO, perayaan Maulid mulai menonjol pada era Kekaisaran Ottoman, dan pada abad ke-21 tercatat sebagai hari libur resmi di lebih dari 45 negara. Fakta ini memperlihatkan bagaimana tradisi lokal berubah menjadi peringatan berskala global.
3. Cara Umat Islam di Indonesia Memperingati Maulid Nabi
Di Nusantara, sejarah Maulid Nabi Muhammad SAW berkelindan erat dengan dakwah para wali dan budaya lokal. Hasilnya, lahir beragam tradisi khas yang masih lestari hingga kini dan menjadi bagian dari identitas keislaman masyarakat.
Warisan Dakwah Wali Songo: Peringatan maulid di Indonesia dikembangkan para wali sekitar tahun 1404 Masehi sebagai media dakwah yang mudah diterima, salah satunya melalui tradisi Sekaten di lingkungan keraton.
Grebeg Maulud: Di Solo dan Yogyakarta, maulid dirayakan dengan kirab gunungan hasil bumi dari keraton menuju masjid agung sebagai wujud syukur sekaligus ajang silaturahmi.
Endog-endogan: Masyarakat Banyuwangi menghias telur rebus yang ditancapkan pada pohon pisang, lalu membagikannya sebagai simbol kelahiran dan kemuliaan Nabi.
Weh-wehan: Warga Kaliwungu, Kendal, saling bertukar makanan tradisional sebagai wujud syukur dan sarana mempererat tali silaturahmi antarsesama.
Ampyang Maulid: Di Kudus, warga mengarak tandu berisi nasi kepel dan hasil bumi yang kemudian didoakan tokoh agama lalu dibagikan kepada masyarakat.
Tradisi Walima: Masyarakat Gorontalo melantunkan dzikir dan pujian kepada Nabi, lalu mengarak tolangga berisi aneka kue dan makanan menuju masjid.
Amalan Keagamaan: Secara umum, umat mengisi maulid dengan pembacaan Barzanji, Simtudduror, atau Burdah, pengajian, memperbanyak bacaan sholawat nabi, hingga santunan anak yatim.
Dari pengamatan redaksi, banyak daerah lain juga memiliki tradisi serupa, seperti Bungo Lado di Padang Pariaman dan Kuah Beulangong di Aceh. Ragam tradisi ini menegaskan bahwa maulid di Indonesia bukan sekadar seremoni, melainkan perpaduan antara syiar agama dan kearifan budaya setempat.
Baca juga: 45 Ucapan Maulid Nabi Muhammad SAW Penuh Syukur dan Doa
Baca juga: Kata-Kata Maulid Nabi Muhammad SAW Terbaik untuk Media Sosial
Baca juga: Kata Mutiara Kalimat untuk Maulid Nabi yang Penuh Makna
Baca juga: Contoh Teks MC Maulid di Masjid untuk Pembawa Acara
4. Makna dan Pandangan Ulama tentang Peringatan Maulid Nabi
Legalitas peringatan maulid termasuk topik yang paling banyak diperbincangkan dalam khazanah keislaman. Secara tradisional, mayoritas ulama Sunni dan hampir seluruh ulama Syiah membolehkan perayaan ini, sementara kalangan Salafi dan Deobandi cenderung menolaknya karena menganggapnya sebagai bidah. Sebagian ulama klasik seperti Imam al-Suyuti bahkan menggolongkannya sebagai bidah hasanah, yaitu inovasi yang mengandung kebaikan selama diisi dengan pembacaan Al-Qur'an, sirah Nabi, sedekah, dan pujian kepada Rasulullah. Perbedaan pandangan ini justru memperkaya diskusi umat tentang bagaimana sebaiknya menghormati kelahiran sang teladan.
Bagi kelompok yang mendukung, maulid dimaknai sebagai ungkapan cinta dan penghormatan. Syaikh Muhammad Tahir-ul-Qadri, ulama sekaligus pendiri Minhaj-ul-Quran International, dikutip dari Business Standard, menyatakan, "Tujuan mendasar dari Maulid Nabi adalah meraih cinta dan kedekatan dengan Nabi serta menghidupkan kembali hubungan seorang mukmin dengan sosok yang paling ia muliakan." Melalui pembacaan sholawat dan kisah keteladanan, umat diajak menumbuhkan kecintaan yang berujung pada peneladanan akhlak.
Dari sudut pandang akademik, para peneliti melihat maulid sebagai fenomena keberagamaan yang tumbuh secara organik dari kehidupan masyarakat. Marion Holmes Katz, pengajar kajian Timur Tengah di New York University, dalam bukunya "The Birth of the Prophet Muhammad" sebagaimana dikutip dari Google Books, menjelaskan, "Perayaan maulid mengungkapkan harapan akan keselamatan melalui hubungan cinta dan kedekatan dengan Nabi, bukan semata-mata melalui ketaatan pada hukum Islam." Perayaan ini juga dinilai berkembang bukan dari satu peristiwa tunggal, melainkan dari perpaduan berbagai narasi dan praktik pengabdian yang perlahan menyatu.
Terlepas dari perbedaan pandangan, esensi peringatan maulid mengajak umat untuk mengenal lebih dekat perjalanan hidup Rasulullah dan meneladani sifat-sifat mulia beliau dalam kehidupan sehari-hari. Nilai kejujuran, kasih sayang, kesabaran, dan kesederhanaan yang beliau contohkan tetap relevan sebagai pedoman menghadapi tantangan zaman, sekaligus perekat ukhuwah di tengah masyarakat yang majemuk. Kehadiran Nabi Muhammad SAW sebagai rahmatan lil alamin menjadi pengingat abadi bahwa Islam datang membawa pesan kedamaian dan kebaikan bagi seluruh umat manusia.
Baca juga: Makna Rahmatun Lil'Alameen, Rahmat dari Rasulullah bagi Semesta
Baca juga: Kata Mutiara Nabi Muhammad, Kumpulan Hikmah dan Nasihat Bijak
Baca juga: Kata-Kata Mutiara untuk Rasulullah, Ungkapan Cinta dan Penghormatan
Baca juga: Lirik Sholawat Jibril yang Dinyanyikan Nazwa Maulidia
Baca juga: Caption Maulid Nabi untuk Memperingati Kelahiran Rasulullah
Baca juga: Caption IG tentang Maulid Nabi untuk Media Sosial
Baca juga: Caption untuk Maulid Nabi yang Penuh Inspirasi
Baca juga: 40 Kata-Kata Maulid Nabi Muhammad SAW Penuh Makna
5. Pertanyaan dan Jawaban Seputar Maulid Nabi Muhammad SAW
Siapa yang pertama kali merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW?
Peringatan maulid pertama kali muncul pada masa Dinasti Fatimiyah yang beraliran Syiah Ismailiyah di Mesir. Adapun di kalangan Sunni, perayaan yang digelar Sultan Muzaffaruddin al-Kukburi, gubernur Irbil, pada awal abad ke-13 kerap dianggap sebagai festival maulid Sunni pertama.
Kapan Maulid Nabi Muhammad SAW diperingati?
Umat Islam Sunni memperingati Maulid Nabi pada 12 Rabiulawal, sedangkan sebagian kalangan Syiah memperingatinya pada 17 Rabiulawal. Karena kalender Hijriah bersifat lunar, tanggal peringatannya bergeser sekitar 11 hari lebih awal setiap tahun dalam penanggalan Masehi.
Apa tujuan memperingati Maulid Nabi?
Tujuan utamanya adalah mengenang dan meneladani akhlak mulia Rasulullah SAW, meningkatkan kecintaan kepada beliau, serta memperkuat ukhuwah Islamiyah. Peringatan ini sekaligus menjadi momentum introspeksi diri dan sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Daftar Referensi
- Britannica. Mawlid: Meaning, Importance, Celebration, and Facts. Diakses pada 18 Agustus 2026, dari https://www.britannica.com/topic/mawlid
- EBSCO Research Starters. Mawlid. Diakses pada 18 Agustus 2026, dari https://www.ebsco.com/research-starters/religion-and-philosophy/mawlid
- Goodreads. Muhammad: A Very Short Introduction (Jonathan A.C. Brown) Quotes. Diakses pada 18 Agustus 2026, dari https://www.goodreads.com/work/quotes/13574791
- Google Books. The Birth of the Prophet Muhammad: Devotional Piety in Sunni Islam (Marion Holmes Katz). Diakses pada 18 Agustus 2026, dari https://books.google.com/books/about/The_Birth_of_the_Prophet_Muhammad.html?id=cdTiEzugh4kC
- Business Standard. Eid Milad-un-Nabi Mubarak: Best Wishes, Quotes and Messages. Diakses pada 18 Agustus 2026, dari https://www.business-standard.com/india-news/eid-milad-un-nabi-mubarak-2023-10-best-wishes-quotes-and-messages-123092700974_1.html
(kpl/phi)
Advertisement
