Sejarah Maulid Nabi Salahuddin Al Ayyubi, Kisah Pembangkit Semangat Umat di Tengah Perang Salib
sejarah maulid nabi salahuddin al ayyubi (h)
Sejarah Maulid Nabi Salahuddin Al Ayyubi berakar pada masa Perang Salib abad ke-12 Masehi. Ketika itu, umat Islam terpecah belah dan kehilangan semangat juang menghadapi pasukan Eropa.
Sultan Salahuddin al-Ayyubi menghidupkan kembali peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW sebagai sarana pemersatu. Dari sinilah sejarah Maulid Nabi Salahuddin Al Ayyubi dikenang sebagai gerakan pembangkit moral umat. p>
Mengutip Study.com, perayaan Maulid pertama kali tercatat digelar secara terbuka di Mesir, lalu menjadi populer di seluruh dunia Islam setelah dirayakan oleh pemimpin besar Salahuddin, dan hingga kini tetap bertahan terutama di kalangan Sufi. Karena itu, tak berlebihan bila banyak orang mengaitkan tradisi ini dengan sosok sang sultan.
Advertisement
1. Cara Menelusuri Sejarah Maulid Nabi Salahuddin Al Ayyubi
Menelusuri sejarah Maulid Nabi Salahuddin Al Ayyubi berarti mundur ke abad ke-12 M, saat dunia Islam berada dalam tekanan Perang Salib. Berikut runtutan peristiwa penting yang membentuk tradisi tersebut, mulai dari akar tradisinya hingga puncak pembebasan Yerusalem.
Mengenali Akar Tradisi di Mesir: Sebelum era Salahuddin, benih peringatan kelahiran Nabi lebih dulu tumbuh di Mesir pada masa Dinasti Fatimiyah. Maulid an-Nabi dibentuk beberapa abad setelah Nabi wafat oleh Dinasti Fatimiyah yang berkuasa di Mesir pada 969 hingga 1171 M. Untuk memahami konteksnya, penting mengenal bulan Rabiul Awal sebagai bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Memahami Situasi Perang Salib: Wilayah Islam saat itu tercerai-berai dalam kelompok-kelompok politik kecil, sementara Yerusalem telah jatuh ke tangan tentara Salib sejak 1099 M. Kondisi inilah yang membuat kehadiran seorang pemimpin pemersatu sangat dibutuhkan.
Melihat Peran Sultan Salahuddin: Salahuddin mempersatukan barisan umat Islam dengan mengakhiri kekhalifahan Syiah Fatimiyah pada 1171, lalu menjadikan peringatan Maulid sebagai media membangkitkan semangat, bukan sekadar seremoni. Kisah kepemimpinannya bahkan diangkat dalam layar lebar, sehingga banyak generasi mengenal sosok Sultan Salahuddin Al Ayyubi lewat film.
Menyimak Anjuran pada Musim Haji: Menurut riwayat yang berkembang, pada musim haji sekitar 579 H (1183 M) Salahuddin menyerukan agar jamaah sepulang haji ikut memperingati kelahiran Nabi setiap 12 Rabiul Awal. Seruan ini bertujuan menyebarkan semangat peringatan ke berbagai penjuru negeri Muslim.
Menelaah Penghargaan bagi Ulama: Penguasa pada masa itu memuliakan ulama yang menulis karya tentang kelahiran Nabi. Di Nusantara, tradisi membaca kitab maulid seperti Barzanji lestari hingga kini dan biasa dibawakan dalam rangkaian acara Maulid di masjid.
Mencermati Puncak Pembebasan Yerusalem: Buah dari konsolidasi semangat itu tampak nyata ketika kemenangan Salahuddin memuncak di Pertempuran Hattin dan perebutan kembali Yerusalem pada 1187. Peristiwa ini menegaskan bahwa peringatan Maulid berfungsi sebagai pemantik moral perjuangan.
Merujuk kajian yang dipublikasikan MuslimMatters, perayaan Fatimiyah mendahului versi Sunni hampir seabad dan menjadi asal-usul Maulid, sementara otoritas belakangan seperti Imam al-Suyuti justru mengaitkannya dengan penguasa Sunni, Muzaffar al-Din. Nuansa ini memperlihatkan bahwa peran Salahuddin lebih tepat dipahami sebagai penghidup kembali, bukan pencetus tunggal.
Sebagaimana dikutip dari Liputan6.com, Ibnu Taimiyah menegaskan, "Shalahuddin-lah yang menghidupkan syariat Islam di kala itu." Ia juga menyebut Salahuddin sebagai raja yang berpegang teguh pada Sunnah dan menampakkan ajaran Nabi yang sahih di tengah dominasi paham lain.
2. Cara Meneladani Semangat Maulid Nabi Salahuddin Al Ayyubi
Meneladani sejarah Maulid Nabi Salahuddin Al Ayyubi tidak cukup dengan mengingat kisahnya, tetapi juga mengamalkan nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari. Berikut sejumlah langkah sederhana yang dapat dilakukan untuk merawat semangat tersebut.
Memperbanyak Shalawat kepada Nabi: Inti perayaan Maulid adalah kecintaan kepada Rasulullah yang diwujudkan lewat pujian dan doa. Umat dianjurkan memperbanyak bacaan shalawat, termasuk melalui lantunan shalawat yang populer dilantunkan masyarakat.
Mendalami Sirah Nabawiyah: Salahuddin membakar semangat pasukannya dengan menceritakan perjuangan Nabi dan para sahabat. Kita bisa meniru cara itu dengan mempelajari kisah perjuangan Nabi Muhammad SAW dari sumber tepercaya.
Meneladani Puasa Hari Senin: Rasulullah sendiri mensyukuri hari kelahirannya dengan berpuasa. Saat ditanya tentang puasa hari Senin, beliau menjawab bahwa hari itu adalah hari beliau dilahirkan dan diturunkannya wahyu kepadanya, sehingga puasa di hari Senin menjadi teladan yang bisa diikuti.
Merawat Persatuan Umat: Tujuan utama Salahuddin adalah menyatukan barisan Muslim yang tercerai-berai. Semangat serupa dapat dijaga dengan mempererat ukhuwah dan menahan diri dari perpecahan.
Menebar Sedekah dan Kebaikan: Peringatan Maulid identik dengan jamuan, santunan, dan berbagi kepada sesama. Membiasakan sedekah sekaligus meneladani akhlak mulia Rasulullah adalah bentuk syukur yang paling nyata.
Dari sudut pandang redaksi, esensi peringatan Maulid bukan terletak pada kemeriahan, melainkan pada peningkatan keimanan dan ketaatan. Rangkaian kegiatan seperti membaca Al-Qur'an, zikir, dan doa memang tidak dicontohkan secara khusus dengan nama "Maulid", tetapi seluruh amalan di dalamnya sangat dianjurkan dalam Islam.
3. Fakta Penting Seputar Maulid Nabi di Era Salahuddin Al Ayyubi
Selain narasi umum yang beredar di Indonesia, terdapat sejumlah catatan sejarawan yang memperkaya pemahaman kita. Fakta-fakta berikut menunjukkan betapa besar skala dan pengaruh tradisi Maulid pada masa Dinasti Ayyubiyah dan sekitarnya.
Dilansir dari Britannica, kalangan Sunni memandang perayaan Maulid pada 1207 yang digelar Muzaffar al-Din Gokburi, ipar Sultan Salahuddin, di Erbil dekat Mosul sebagai festival Maulid pertama. Catatan ini menjelaskan mengapa banyak sejarawan tidak menempatkan Salahuddin sebagai pencetus tunggal, melainkan bagian dari satu lingkaran keluarga dan pemerintahan.
Perayaan sebulan penuh: hari kelahiran Nabi didahului satu bulan penuh kegembiraan, dengan musisi, pemain akrobat, dan beragam penghibur yang menarik pengunjung dari Baghdad hingga Nusaybin.
Kedatangan para ulama: para ulama, ahli hukum, sufi, dan penyair mulai berdatangan hingga dua bulan sebelum acara puncak digelar.
Jamuan besar-besaran: dua hari sebelum Maulid resmi, sejumlah besar unta, domba, dan sapi disembelih untuk hidangan, lalu diselenggarakan pawai obor pada malam harinya dan jamuan bagi seluruh hadirin atas biaya sang penguasa.
Penghargaan untuk penulis: Syekh Abu al-Khattab Ibnu Dihyah menulis kitab tentang kelahiran Nabi berjudul al-Tanwir fi Mawlid al-Bashir wa al-Nadhir dan diberi hadiah 1.000 dinar oleh sang sultan.
Anggaran yang fantastis: tercatat pengeluaran mencapai 300.000 dinar untuk gelaran Maulid setiap tahun dan 100.000 dinar untuk rumah singgah para tamu.
Warisan hingga kini: Maulid kini menjadi hari libur resmi di puluhan negara berpenduduk Muslim, mulai dari Timur Tengah, Afrika, hingga Asia Tenggara, termasuk Indonesia dengan tradisi Sekaten dan Grebeg Mulud.
Dalam catatan sejarah yang dihimpun Dawateislami, sejumlah ulama klasik turut mengabadikan kemegahan tradisi ini. Imam Jalaluddin al-Suyuti menuliskan, "Merayakan kelahiran Nabi dalam perkumpulan besar merupakan amalan yang dirintis oleh raja Erbil, al-Muzaffar Abu Sa'id." Sejarawan Ibnu Khallikan bahkan menggambarkan, "Perkumpulan yang beliau selenggarakan untuk merayakan kelahiran Rasulullah sungguh tak terlukiskan dengan kata-kata." Adapun Ibnu Katsir mencatat, "Sultan al-Muzaffar Abu Sa'id kerap menyelenggarakan pertemuan-pertemuan akbar untuk memperingati kelahiran Nabi."
Perlu dicatat pula bahwa Salahuddin bukan tokoh sembarangan dalam peta politik saat itu. Ia sempat menjadi wazir bagi kekhalifahan Fatimiyah di Mesir pada 1169 sebelum lembaga itu dihapuskan, lalu bergerak menyatukan seluruh wilayah Muslim di Suriah, Mesopotamia utara, Palestina, dan Mesir. Nama besarnya membuat banyak orang tua Muslim menjadikannya inspirasi, sebagaimana terlihat pada daftar nama tokoh besar Islam seperti Salahuddin Al-Ayyubi.
Baca juga: Mengenal 12 bulan dalam kalender Hijriah dan keutamaannya serta sejarah penetapan kalender Hijriah.
4. Pertanyaan dan Jawaban Seputar Maulid Nabi Salahuddin Al Ayyubi
Apakah Salahuddin Al Ayyubi orang pertama yang merayakan Maulid Nabi?
Tidak sepenuhnya tepat. Tradisi peringatan Maulid lebih dulu muncul pada masa Dinasti Fatimiyah di Mesir, dan sejumlah sejarawan justru menyebut ipar Salahuddin, Muzaffar al-Din Gokburi di Erbil, sebagai penyelenggara perayaan akbar pertama di kalangan Sunni. Peran Salahuddin lebih tepat dipahami sebagai penghidup kembali sekaligus penggerak tradisi ini secara luas.
Kapan Salahuddin Al Ayyubi mengadakan peringatan Maulid Nabi?
Menurut catatan yang berkembang, Salahuddin menggencarkan peringatan Maulid pada masa Perang Salib sekitar akhir abad ke-12 M, tidak lama sebelum keberhasilannya merebut kembali Yerusalem pada 1187. Peringatan digelar setiap 12 Rabiul Awal bertepatan dengan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Apa tujuan Salahuddin menggelar peringatan Maulid Nabi?
Tujuan utamanya adalah membangkitkan kembali semangat juang dan mempersatukan umat Islam yang saat itu terpecah menghadapi tentara Salib. Melalui pembacaan kisah perjuangan Nabi, Salahuddin ingin menumbuhkan kembali kecintaan umat kepada Rasulullah sekaligus keberanian membela agama.
Pada akhirnya, warisan Salahuddin mengajarkan bahwa peringatan kelahiran Nabi idealnya menjadi media syiar dan konsolidasi umat, bukan sekadar seremoni tahunan. Semangat itu bisa kita rawat dengan cara sederhana, mulai dari amalan Maulid Nabi yang baik dilakukan, berbagi ucapan Maulid Nabi dan kata mutiara Maulid Nabi, menuliskan caption Maulid Nabi untuk media sosial, hingga menyebarkan kalimat penuh makna untuk Maulid Nabi. Dengan begitu, kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW terus hidup dari generasi ke generasi.
Daftar Referensi
- Britannica. Mawlid | Meaning, Importance, Celebration, & Facts. Diakses pada 18 Agustus 2026, dari https://www.britannica.com/topic/mawlid
- Study.com. Eid Milad un Nabi | History, Celebration & Facts. Diakses pada 18 Agustus 2026, dari https://study.com/academy/lesson/mawlid-history-facts-celebration-eid-milad-un-nabi.html
- MuslimMatters. The Birth-Date of the Prophet and the History of the Mawlid. Diakses pada 18 Agustus 2026, dari https://muslimmatters.org/2009/03/23/the-birth-date-of-the-prophet-and-the-history-of-the-mawlid-part-iii-of-iii/
- Dawateislami. History of Islam - Mawlid Celebrations 800 Years Ago. Diakses pada 18 Agustus 2026, dari https://www.dawateislami.net/magazine/en/pages-of-the-history/mawlid-celebrations
(kpl/phi)
Advertisement
