Ali & the Queens
Comedy Drama

Ali & the Queens

2021 100 menit TV-14
7.7/10
Rating 7/10
Sutradara
Lucky Kuswandi
Penulis Skenario
Gina S. Noer Muhammad Zaidy
Studio
Palari Films Phoenix Films KUY Entertainment

KLovers, cerita ini bermula dari kehilangan yang datang terlalu cepat. Di Jakarta, Ali masih remaja 17 tahun ketika hidupnya runtuh dalam sekejap. Ia menyaksikan ayahnya, Hasan, meninggal akibat serangan jantung. Kejadian itu bukan hanya menghapus satu-satunya orang yang selalu ada di sisinya, tetapi juga membuka laci rahasia keluarga yang tersegel belasan tahun. Sejak kecil Ali percaya bahwa ibunya, Mia, sudah meninggal. Keyakinan itu bukan muncul dari bukti, melainkan dari cerita yang dibiarkan tumbuh tanpa klarifikasi. Kebenaran baru menggedor ketika Ali menemukan surat, kartu pos, dan tiket pesawat yang seharusnya membawanya ke New York sejak lama, tiket untuk bertemu Mia yang selama ini disembunyikan Hasan, mungkin karena rasa takut akan kehilangan yang kedua kali.

Dilengkapi tekad yang belum pernah setegas ini, Ali menyampaikan keinginannya pada Suci, tantenya yang berperan seperti kompas disiplin keluarga. Suci adalah perempuan perfeksionis yang melihat dunia lewat parameter resiko dan perhitungan. Dua minggu adalah waktu yang ia berikan, deadline yang bagi Ali ibarat panggung sempit yang memaksa emosi dipadatkan dalam durasi penerbangan. Waktu itu sedikit, tetapi cukup untuk membuat Ali melompat ke ruang baru yang jauh dari Jakarta, jauh dari kenangan masa kecil, jauh dari kebohongan yang tidak pernah ia sengaja pilih.

Queens, New York, menyambut Ali bukan dengan pelukan keluarga, melainkan dengan realita yang lebih bising. Ia tiba di apartemen sempit tempat Mia dulu tinggal. Di sana, takdir mempertemukannya dengan empat perempuan perantau yang hidupnya juga terbentuk oleh kehilangan dan survival. Party adalah pembersih apartemen dan gedung, perempuan umur tiga puluhan yang punya energi keibuan tanpa pernah menghakimi. Ia berbicara jujur tentang dunia, tentang kerja, tentang dollar yang hanya bisa didapat bila mau merendah tanpa menyerah. Ance adalah ibu tunggal yang protektif sekaligus pemberani. Ia mengurus anak-anak orang lain lewat kerja babysitter, sementara anak kandungnya, Eva, tumbuh sebagai gadis dua budaya yang percaya diri, pragmatis, dan terbuka terhadap dunia, jadi representasi remaja global yang kontras dengan kegugupan Ali. Biyah adalah mantan bondho nekat yang kini memegang kamera sebagai paparazzi amatir, memotret selebritas demi recehan dollar. Mulutnya pedas, komentarnya tajam, tetapi ia adalah gambaran bagaimana hidup di diaspora bisa mengeraskan seseorang tanpa mematikan sisi manusiawinya. Chinta, yang paling tenang di antara mereka, bekerja sebagai pemijat refleksi di spa. Ia lebih banyak mendengar daripada bicara, namun dari cara ia menempatkan kata-kata, Ali belajar bahwa kedewasaan bukan soal seberapa keras suara kita, melainkan seberapa besar ruang kita menampung luka orang lain.

Ali awalnya datang dengan satu misi: menemukan Mia. Namun empat perempuan itu punya misi kolektif lain yang tampaknya remeh bagi orang luar, tetapi tidak bagi mereka. Mereka ingin mengumpulkan 10.000 Dollar untuk membuka restoran Indonesia di New York. Di balik mimpi itu, ada niat pembuktian: bahwa perempuan yang hidup dari pekerjaan yang sering direndahkan pun layak memegang masa depan. Mereka menggandeng Ali dalam pencarian, bukan sekadar demi cek, tetapi demi proses yang pelan-pelan berubah jadi ikatan kepercayaan. Ali ikut bangun sebelum subuh menemani Party bersih-bersih, mendorong stroller Ance di tengah dinginnya subway, memegang kamera Biyah untuk menangkap momen celebrity blur, serta menjadi pendengar pertama ketika Chinta bicara tentang lelah yang tak pernah punya sinonim di kamus harapan keluarga ideal. Dari proses itu, Ali bukan hanya membantu mereka bekerja, tetapi juga memberi mereka saksi bahwa hidup mereka nyata, dan perjuangan mereka bukan punchline yang lucu, melainkan landing point yang manusiawi.

Informasi baru akhirnya muncul: Mia ternyata tinggal di Fort Greene, Brooklyn. Ini adalah titik paling sakit sekaligus paling perlu dalam perjalanan Ali. Ali mendatangi rumah itu dengan ekspektasi bocah yang ingin dikembalikan kursinya di meja keluarga. Tapi kursi itu sudah berpenghuni pengalaman baru Mia: suami baru, Alex, serta dua anak kecil yang tumbuh tanpa keterhubungan dengan nama Ali. Pintu itu menutup. Ali terluka bukan karena tidak disayang, melainkan karena ia akhirnya mengerti bahwa sayang dan kesempatan memilih untuk kembali tidak selalu berjalan sejajar.

Mia ragu, tetapi ia tetap bertemu Ali di kafe. Mereka menghabiskan waktu bersama menyusuri NYC, dan adegan-adegan itu hangat, walau tidak pernah benar-benar sampai ke titik reuni manis yang Ali bayangkan. Ali meminta ikut menjadi bagian keluarga barunya, tetapi Mia menolak bukan dengan benci, melainkan dengan rasa takut yang logis. Ia tahu, memasukkan Ali sebagai bagian keluarga barunya bisa merusak apa yang sedang ia bangun. Rasa bersalahnya memuncak. Lewat Party, ia menyerahkan cek 20.000 dollar agar Ali mau kembali ke Indonesia. Ali kecewa. Ia merasa dibayar untuk pergi, bukan diberi kesempatan memilih untuk tinggal. Dalam amarah yang jujur, ia meninggalkan apartemen dan menolak membaca situasi dari kacamata orang dewasa.

Namun subuh membawa kebijaksanaan baru. Eva menjadi suara jernih yang mengingatkan bahwa keluarga baru Ali bukan ada di Brooklyn, melainkan di Queens, di antara perempuan yang tidak perlu ia perjuangkan untuk tetap tinggal, karena mereka memang tidak berniat pergi. Ali kembali. Ia bukan membawa bargain, tetapi membawa video montage editan dirinya yang menampilkan proses tawa, kerja, dan luka yang saling tertampung sejak hari pertama. Ia meminta maaf. Mereka memaafkan. Bahkan tanpa seremonial, pelukan mereka terasa lebih jujur daripada reunion yang pernah Ali bayangkan. Ia tidak pulang dengan ending ideal, tetapi pulang dengan acceptance radikal: keluarga bukan hanya tentang garis darah, melainkan garis keberanian untuk mengakui luka dan memilih membentuk masa depan.

Di akhir, Ali diterima di universitas lokal. Party, Ance, Biyah, dan Chinta tetap mengerjakan mimpi restoran itu sampai nyaris tercapai. Ali membantu mereka bukan lagi karena uang, melainkan karena ia ingin menjadi bagian dari proses masa depan mereka yang ia saksikan sendiri. Ia menerima Mia dengan batasan logisnya, tetapi ia tidak lagi meminta masa lalu untuk dirampungkan. Ia hanya meminta masa depan untuk tetap punya ruang untuk dimulai.

Jika kamu berada di posisi Ali, masihkah kamu berani mendatangi pintu yang mungkin menutup lagi, hanya demi melihat apakah luka masa lalu bisa menjadi jembatan keluarga baru yang lebih jujur?

Iqbaal Dhiafakhri Ramadhan Ali
Aurora Ribero Eva
Nirina Zubir Party
Tika Panggabean Ajeng
Asri Welas Biyah
Happy Salma Chinta
Marissa Anita Mia (Ali's Mom)
Bayu Skak Zoopunk
Cut Mini Theo Bude
Ibnu Jamil Hasan (Ali's Dad)