Jai Bhim
Crime Drama

Jai Bhim

2021 164 menit Approved
9.5/10
Rating 8.6/10
Sutradara
T.J. Gnanavel
Penulis Skenario
T.J. Gnanavel Rajendra Sapre
Studio
2D Entertainment

Film drama hukum berbahasa Tamil Jai Bhim rilis pada 2021, disutradarai oleh T. J. Gnanavel dan diproduksi oleh studio 2D Entertainment. Peran utamanya, seorang pengacara bernama Chandru, dimainkan oleh aktor sekaligus produser besar India, Suriya. Sementara itu, karakter Sengeni, perempuan yang jadi jantung emosional cerita, diperankan oleh Lijomol Jose dan suaminya, Rajakannu, dimainkan oleh Manikandan. Meski genrenya legal drama, film ini jauh lebih luas dari sekadar cerita sidang-sidang yang beradu argumen melulu. Ini adalah kisah riil tentang bias polisi dan kekerasan negara terhadap komunitas adat Irular di tahun 1993, di wilayah Cuddalore.

Sejak awal film ini berjalan, kita langsung diajak masuk ke realitas kelas sosial dan budaya kasta yang masih kuat di India. Rajakannu dan Sengeni adalah pasangan suami-istri dari suku Irular, komunitas adat yang banyak bekerja sebagai pengendali hama di lahan milik para pria kasta atas. Salah satu tugas penting Irular adalah menangkap ular berbisa yang mengancam sawah atau rumah warga. Di permukaan, ini seperti kerjaan biasa, tapi pekerjaan ini penuh risiko dan sayangnya justru sering juga penuh stigma. Mereka dibutuhkan, tapi tidak selalu dihargai.

Tragedi dalam film dimulai ketika Rajakannu diminta menangkap ular di rumah seorang pria kaya. Hari itu selesai baik-baik saja, Rajakannu bahkan berhasil menjalankan tugasnya dengan profesional. Namun, keesokan harinya istri pria tersebut melaporkan hilangnya perhiasan. Tanpa penyelidikan netral dan tanpa bukti kuat, kecurigaan langsung mengarah kepada Rajakannu. Alasan utamanya bukan barang bukti, bukan juga kesaksian logis, tapi karena cara pikir yang sudah keburu penuh asumsi, orang Irular yang menangani ular kemarin, otomatis jadi tersangka hari ini.

Dari sini film makin mencekam. Polisi datang bukan untuk memeriksa kemungkinan, tapi untuk mencari pembenaran. Rumah Rajakannu diserbu, keluarganya dipukul, bahkan Sengeni yang sedang hamil ditahan secara ilegal dan diinterogasi tanpa prosedur yang sah. Tiga kerabat Rajakannu juga ikut ditangkap dan disiksa untuk memaksa mereka memberi informasi. KLovers, ini adegan yang bikin emosi naik ke ubun-ubun. Kita tahu mereka bukan pelaku, tapi film tidak sekadar ingin kita "tahu", film ingin kita "ngerasain" bahwa stigma dan kuasa institusi, ketika digabung, bisa lebih cepat menghukum manusia dibanding proses hukum itu sendiri.

Sengeni memang akhirnya dilepaskan, tapi Rajakannu tetap ditahan. Ia disiksa dengan tujuan yang jelas: dipaksa mengaku mencuri. Dalam proses penahanan itu, Rajakannu lalu "hilang", dan polisi membangun narasi bahwa ia kabur dari kantor polisi. Tidak ada laporan pengejaran resmi, tidak ada alarm prosedural, tidak ada mekanisme transparan. Hanya kabar bahwa lelaki itu absconding, lalu Sengeni diancam terus-menerus agar mengungkapkan "lokasi suaminya dan kerabat lainnya".

Di sini masuk peran Mythra, guru komunitas Irular yang tahu sepak terjang Chandru, pengacara yang dikenal lantang memperjuangkan hak-hak masyarakat adat. Ia akhirnya meyakinkan Chandru untuk membantu Sengeni. Chandru pun mengajukan permohonan habeas corpus, permintaan agar sistem mengungkap keberadaan seseorang yang ditahan. Tapi alih-alih berjalan prosedur kaku, Chandru justru mengusulkan pemeriksaan saksi dengan merujuk preseden besar, supaya pengadilan mau mendengar suara dua pria lain yang selamat dari penyiksaan dan tahu apa yang sebenarnya terjadi di ruang kantor polisi. Film ini jago banget memperlihatkan, bahwa keadilan bukan cuma butuh orang yang benar, tapi butuh orang yang berani menantang aturan yang terlalu formal agar kebenaran bisa masuk lewat pintu yang lebih manusiawi.

Penyelidikan terbentur berkali-kali. Polisi ngotot bahwa Rajakannu kabur. Tapi Chandru jeli dan kritis, ia mencium detail- detail kecil yang justru bikin semuanya makin gak masuk akal. Kalau memang kabur, kenapa call history di kantor polisi tidak cocok dengan kesaksian waktu kejadian? Kalau memang pencuri, kenapa tidak ada barang bukti disita? Kalau memang sedang dikejar, kenapa prosedurnya tidak pernah tercatat?

Chandru akhirnya meminta pengadilan memerintahkan investigasi internal kepada tiga polisi yang jadi tersangka: Gurumurthy, Veerasamy, dan Kirubakaran. Pencarian dilakukan berminggu-minggu. Pemeriksaan diperluas dari Kerala kembali ke distrik sekitar. Chandru akhirnya menemukan jawaban melalui berkas arsip enam bulan terakhir: jasad tak teridentifikasi yang ditemukan dekat perbatasan, yang kemudian sudah dikremasi polisi berdasarkan prosedur hukum kecelakaan lalu lintas.

Sengeni memang tidak menyaksikan jasadnya lagi karena tubuh suaminya sudah jadi abu, tapi bukti forensik lain berbicara. Jejak ban yang ditemukan di lokasi jasad itu cocok dengan ban truk polisi. Footprint juga mengarah kepada tiga polisi tersebut. Dua kerabat Rajakannu yang selamat, Iruttappan dan Mosakutty, ditemukan di penjara terpencil dan akhirnya bersaksi di pengadilan. Mereka menceritakan penyiksaan berantai, detik-detik Rajakannu meninggal di kantor polisi, dan bagaimana kasus itu ditutup aparatur karena polisi menerima suap dari pencuri asli.

Putusan pengadilan kemudian datang. Bukan sekadar menegur institusi, tapi menegur bias yang hidup di dalamnya. Pengadilan memerintahkan sidang cepat terhadap kasus pembunuhan yang dilakukan tiga polisi tersebut, dan memerintahkan penangkapan seketika. Kompensasi uang dan tanah memang dihadiahkan kepada Sengeni dan kerabatnya, tapi film menekankan, nilai terbesar dari keadilan bukan nominalnya, melainkan pengakuan negara bahwa stigma tidak boleh mengalahkan fakta.

Jai Bhim berhasil bikin nama aktor dan penggemarnya jadi bagian dari percakapan besar di seluruh India karena membawa isu sosial yang berat tapi dikemas lewat cerita yang sangat manusiawi. Film ini rilis lewat platform streaming Amazon Prime Video menjelang Diwali. Meski tidak memakai panggung bioskop, impact-nya serasa blockbuster nasional. Relevansi film ini buat GenZ terasa banget, karena kita sekarang pun hidup di era stigma, labeling, rumor alias asumsi yang kadang lebih cepat menyebar dibanding klarifikasi. Tapi film ini kasih shock reminder, bahwa yang dipotret di dalam cerita seperti ini bukan sekadar viral di timeline atau aib trending harian, melainkan nyawa manusia yang hilang karena “narasi sepihak” yang lahir dari bias yang tidak ditantang.

Kalau arsip jasad itu tidak pernah ditemukan, bagaimana nasib pencarian keadilan Sengeni? Kita semua hidup di sistem dan percaya pada institusi, tapi menonton film ini bikin jadi reflektif: di era sekarang, apakah otoritas masih lebih cepat didengar daripada fakta yang belum sempat bicara? Dan menurut KLovers, siapa yang sebenarnya mengontrol narasi sebuah kebenaran di dunia nyata, sistem yang formal, atau orang yang berani menantangnya demi membuka lapisan yang tidak semua orang mau ungkap? Kalau iya, pintu mana lagi yang masih tertutup… dan rahasia apa lagi yang mungkin menunggu seseorang berani mengetuknya?

Suriya Chandru
Lijo Mol Jose Senggeni
Manikandan K. Rajakannu
Rajisha Vijayan Maithra
Prakash Raj I.G. Perumalsami
Rao Ramesh A.G. Ram Mokan
Guru Somasundaram P.P. Cellapandian
M.S. Bhaskar Sangaran
V. Jayaprakash D.G.P. Radhakrishnan
Sibi Thomas