CLOSE

Protes Masyarakat untuk Cabut 'BURUAN CIUM GUE'

Kapanlagi.com - "Waduh... mau dibawa kemana bangsa ini, saya sangat setuju dihentikan film tersebut," desakan seorang ibu melalui telepon pada acara Managemen Qolbu yang dipimpin pengasuh Pompes Darut Tauhid Bandung, Abdullah Gymnastiar (AA Gym), yang disiarkan langsung oleh RRI Pro2 FM Jakarta, Jumat.

Desakan untuk segera hentikan dan mencabut peredaran film tersebut tidak saja berasal dari para ibu rumah tangga. Seorang bapak dengan terbata-bata dan menangis menyatakan keprihatinan yang mendalam. Dengan suara yang lirih dari ujung telepon mengatakan bersyukur dan terharu karena AA Gym bersedia menjadi `kekuatan` moral untuk menyuarakan hal ini.

Dalam tausyiahnya, AA Gym merasakan keprihatinan yang mendalam atas film tersebut. Menurut AA Gym film remaja tersebut telah `mengajarkan` atau setidaknya menjurus kepada perbuatan zina.

"Ciuman itu pangkal dari zina yang selanjutnya," kata AA Gym dengan nada sedih.

Menurut AA Gym bagaimana jika film tersebut dilihat oleh anak-anak muda yang memang pengetahuan dan pemahamannya masih kurang. AA Gym mengkhawartirkan jika perbuatan itu (ciuman) bisa dianggap sebagai sebuah hal yang biasa.

Oleh karenanya AA Gym menghimbau dan mengajak masyarakat untuk bersama-sama melakukan gerakan moral mengenai masalah ini.

Sebelumnya AA Gym mengutip pernyataan salah seorang anggota Lembaga Sensor Film (LSM) bahwa peredaran film tersebut masih bisa dicabut oleh Menparpostel namun dengan syarat harus ada keberatan dari masyarakat, dan keberatan itu harus dalam bentuk tertulis.

Oleh karenanya AA Gym mengajak masyarakat untuk bersama-sama mengirimkan surat dan kepedulian dan keprihatian atas film tersebut. Surat-surat tersebut bisa dialamatkan kepada Pompes, Darut tauhid Jl Geger Kalong Girang, Bandung kode pos 40154.

AA Gym berjanji dalam waktu dekat pihaknya akan membawa surat-surat keprihatinan tersebut untuk disampaikan kepada yang berwenang seperti LSF, sutradara maupun produser dan artis pendukung film tersebut.

Sementara Ketua LSF Titi Said menyatakan penghargaan yang tinggi kepada masyarakat atas perhatiannya mengenai masalah ini. Namun Titimempertanyakan bagian mana dari film tersebut menjadi sorotan dan keberatan masyarakat. Apakah keberatan karena adanya adegan ciuman antara dua orang remaja atau yang lainnya.

Namun Titi tetap mengingatkan bahwa penarikan atau pencabutan peredaran film tersebut baru bisa dilakukan jika ada keberatan resmi dari masyarakat.

Film remaja tersebut menceritakan kehidupan anak-anak SLTA yang diluar jam sekolah memiliki kegiatan lain. Salah satu kegiatan tersebut berupa `talks show` disebuah radio. Suatu saat topik yang akan diangkat dalam acara `Talks Show` tersebut mengupas bagaiman rasanya berciuman untuk yang pertama kalinya.

Namun yang menjadi masalah, pemeran utama dalam `talks show` tersebut merupakan remaja yang belum pernah melakukan ciuman pertama. Karena itulah untuk dapat merasakan dan lebih menghayati persoalan tersebut ia berusaha untuk melakukan `ciuman pertama` tersebut.

(Menyusuri jejak Indonesiadi Balik Produksi Drama Korea.)

(*/erl)

Rekomendasi

Trending