Dua Lipa Dirikan Perpustakaan, Isinya Penuh Buku Terlarang Atau yang Pernah Disensor
Dua Lipa buka perpustakaan buku terlarang di Portugal (Credit: TPG)
Kapanlagi.com - Dua Lipa tak hanya dikenal sebagai penyanyi papan atas dunia, tetapi juga sebagai sosok yang aktif mengampanyekan pentingnya budaya membaca. Kini, pelantun Levitating itu menghadirkan langkah baru dengan meresmikan perpustakaan pertamanya di Portugal yang secara khusus mengoleksi buku-buku yang pernah dilarang atau disensor.
Perpustakaan tersebut diberi nama Manifesto Library dan menjadi bagian dari pengembangan Service95 Book Club, komunitas membaca yang didirikan Dua Lipa sejak 2023. Melalui inisiatif ini, ia ingin menghadirkan ruang yang mendorong masyarakat untuk bebas membaca, berdiskusi, dan melihat berbagai sudut pandang melalui karya sastra.
Manifesto Library resmi dibuka pada 27 Juni dalam rangka festival buku internasional BABELL – City of Books. Setelah festival berakhir, perpustakaan itu akan menjadi instalasi permanen di Livraria Lello, toko buku legendaris yang berada di Porto, Portugal.
Advertisement
1. Wadah bagi Buku-Buku yang Pernah Dilarang
Dalam pernyataannya, Dua Lipa menyebut pembukaan Manifesto Library sebagai pencapaian yang telah lama ia impikan.
Menurutnya, sejak membangun Service95 Book Club, ia ingin menciptakan sebuah ruang yang dapat diakses para pembaca dan penulis tanpa memandang latar belakang maupun kondisi mereka.
"Membaca membuat kita lebih memahami dunia dan sesama. Sayangnya, tidak semua orang mendukung kebebasan itu," ujar Dua Lipa.
Ia menjelaskan bahwa perpustakaan tersebut menghadirkan sekitar 100 judul buku yang pernah mengalami pelarangan atau pembatasan di berbagai tempat.
Sebagian karya dilarang beredar di sekolah karena mengangkat isu ras maupun seksualitas. Ada pula buku yang ditujukan bagi pembaca LGBTQIA+ sehingga sempat dibatasi penayangannya. Bahkan, menurut Dua Lipa, beberapa penulis harus menghadapi konsekuensi yang sangat berat hanya karena karya yang mereka tulis.
2. Simbol Kebebasan Berpikir Lewat Buku
Lebih dari sekadar tempat menyimpan koleksi bacaan, Manifesto Library diharapkan menjadi simbol pentingnya kebebasan berekspresi dan berpikir kritis.
Dua Lipa menggambarkan perpustakaan tersebut sebagai penghormatan bagi karya-karya yang pernah disingkirkan, penulis yang berani menyampaikan gagasan, serta para pembaca yang tetap mempertahankan hak untuk memilih bacaan mereka sendiri.
Ia juga mengajak setiap pengunjung untuk menemukan sendiri makna dari setiap buku yang tersedia.
"Kadang, tindakan paling berani yang bisa kita lakukan adalah membaca sebuah buku, lalu mendiskusikannya," ungkapnya.
Seluruh koleksi di Manifesto Library dikelompokkan ke dalam empat tema utama, yaitu kekuasaan, kontrol, suara, dan ingatan.
Di antara buku-buku yang tersedia terdapat novel The Handmaid's Tale karya Margaret Atwood, Felon karya Reginald Dwayne Betts, serta sejumlah karya dari Salman Rushdie dan Olga Tokarczuk.
3. Komitmen Dua Lipa Terhadap Dunia Literasi
Pihak Livraria Lello menyambut kehadiran Manifesto Library sebagai bagian dari misi mereka yang telah dijalankan selama lebih dari satu abad.
Francisca Pedro Pinto, Head of Brand Livraria Lello, mengatakan pihaknya selalu percaya bahwa buku merupakan salah satu alat terpenting untuk menjaga kebebasan berpikir.
Menurutnya, keberadaan perpustakaan ini bukan hanya tentang mempertahankan budaya membaca, tetapi juga menjaga kemampuan masyarakat dalam memahami dunia dan membentuk masa depan mereka sendiri.
Komitmen Dua Lipa terhadap dunia literasi memang bukan hal baru. Selain aktif menjalankan Service95 Book Club, ia juga dipercaya menjadi kurator London Literature Festival 2026 di Southbank Centre. Baru-baru ini, ia juga menjadi sorotan setelah mengkritik pemberitaan media mengenai dokumen kasus Jeffrey Epstein yang dinilainya kurang berpihak kepada para korban.
(Ibunda Zaskia Adya Mecca Alami Serangan Stroke dan dibawa ke UGD.)
(kpl/gtr)
Advertisement
D Academy 8
-
Ulang Tahun Selebritis Ulang Tahun Soimah Dirayakan di Panggung Dangdut Academy 8
