Rayakan Ultah ke 28, Teater Koma Pentaskan 'MAAF.MAAF.MAAF.'
Kapanlagi.com - Teater Koma yang akan merayakan ulang tahun ke-28 dengan pementasan kembali naskah Maaf. Maaf. Maaf: Politik Cinta Dasamuka yang pada 1987 sempat dilarang `manggung` di kampus-kampus luar Jakarta.
"Setelah dipentaskan di Teater Tertutup (dulu di TIM, sekarang sudah berubah menjadi Tater Kecil, red.), permintaan pementasan berdatangan, terutama dari kampus-kampus. Hanya di Jakarta yang bisa, yaitu di UI, waktu itu masih di Rawamangun, setelah itu kita tidak boleh melanjutkan tur kampus itu ke Bandung, Surabaya, dan Yogyakarta," kata sutradara Nano Riantiarno di Jakarta, Senin.
Pendiri Teater Koma tersebut mengatakan bahwa pelarangan dengan alasan Normalisasi Kehidupan Kampus itu sebagai pencekalan pertama, yang diikuti dengan pencekalan-pencekalan lainnya.
"Ini adalah naskah yang pernah dicekal terakhir yang belum pernah dipentaskan ulang. Setelah ini kami tidak akan melakukan pementasan ulang naskah lainnya, semua naskah baru," kata penulis naskah sebagian besar pertunjukan Tater Koma itu, termasuk Maaf. Maaf. Maaf..
Advertisement
Naskah yang akan dipentaskan kembali di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta di awal Maret itu, bukan untuk mengingat pencekalan, tapi untuk mengetahui apakah bangsa `kita` sudah dalam keadaan yang lebih baik, atau lebih buruk, atau sama.
Dalam Maaf. Maaf. Maaf. terdapat banyak sindiran terhadap pemerintahan saat itu, sehingga Nano sendiri merasa tidak heran dengan pencekalan tersebut.
Lakon produksi ke-2 teater tersebut bercerita tentang sebuah keluarga, di mana sang ayah, Ario tiba-tiba merasa sebagai Dasamuka, tokoh antagonis dalam cerita Ramayana yang otoriter. Perubahan tersebut membuat kondisi kaluarga kacau hingga anggota lainnya harus segera memutuskan membawa Ario ke Rumah Sakit Jiwa.
Tokoh Ario itulah yang dijadikan Nano, sebagai sutradara dan penulis naskah, untuk menyampaikan sindirin-sindiriannya pada pemerintah kala itu yang dinilai otoriter.
"Apakah pemimpin kita sudah tidak otoriter lagi? Apakah negara kita sekarang sudah demokratis? Lakon ini dapat digunakan sebagai cermin untuk melihat hal tersebut. Semoga saja penonton nanti mengatakan kalau apa yang ada di lakon tidak sama," kata Nano.
Mengenai persamaannya dengan pementasan 27 tahun yang lalu, ia mengatakan hanya pada naskah.
"Kami memutuskan untuk mementaskan lakon ini bukan dengan semangat pengulangan, tapi justru membuat sesuatu yang baru. Cara mengucapkan dan cara memainkan, itu yang berbeda. Kalo menurut saya lebih matang," ujar sutradra yang hampir selalu menggunakan gaya banyol dan plesetan itu.
Sementara itu, menurut pimpinan produksi dan juga istri sutradara, Ratna Riantiarno, tiket pertunjukan yang akan berlangsung mulai 2 hingga 15 Maret itu (12 hari, Senin tidak ada pertunjukan), 60 persen telah habis dipesan.
"Untuk pertunjukan hari pertama sudah habis dipesan oleh sebuah perusahaan," kata Ratna yang akan juga akan berperan sebagai Sinta/Ibu dalam pertunjukan tersebut.
Sebelumnya, Ratna mengatakan apresiasi yang baik dari masyarakat tersebut --dibandingkan pertunjukan teater lainnya yang biasanya selalu sepi penonton, disebabkan kosistensi Teater Koma itu sendiri.
"Setiap tahun minimal satu kali kami melakukan pertunjukan. Kita harus konsisten agar orang bisa melihat kita ada. Kosistensi itu yang barangkali untuk organisasi atau kelopok kesenian lainnya menjadi sulit," katanya.
Hal tersebutlah yang membuat Teater koma bisa terus berpentas, sementara kelompok teater seangkatannya sudah hilang dari panggung kesenian Indonesia.
(Setelah 8 tahun menikah, Raisa dan Hamish Daud resmi cerai.)
(*/erl)
Advertisement
