Reisa Brotoasmoro Pilih Menikah ala Royal Wedding, Demi Lestarikan Adat Jawa

Jum'at, 01 Juni 2018 12:24 Penulis: Mahardi Eka
Reisa Brotoasmoro Pilih Menikah ala Royal Wedding, Demi Lestarikan Adat Jawa KapanLagi.com

Kapanlagi.com - Oleh: Fikry Alfi Rosyadi dan Rezka Nur Aulia

Royal Wedding kerajaan Inggris masih segar dalam ingatan. Pernikahan Pangeran Harry yang anggota keluarga kerajaan Inggris dengan seleb cantik Amerika Meghan Markle masih dibahas bahkan hingga sepekan lebih setelah pernikahannya. Hal itu tak lain karena label “royal” yang disematkan kepadanya.

Dari Indonesia sejatinya kisah pernikahan keluarga kerajaan dengan selebriti juga ada loh KLovers! Reisa Kartikasari atau kini dikenal sebagai Reisa Broto Asmoro disunting Pangeran Keraton Surakarta pada November 2012. Reisa menjalin rumah tangga dengan Kanjeng Pangeran Tedjodiningrat Broto Asmoro dan kini telah dikaruniai dua buah hati. Pernikahan dr. Reisa dan suami sempat disebut sebagai royal wedding karena memang suami Reisa punya hubungan darah dengan keluarga keraton Solo.

Pernikahan Reisa digelar dengan prosesi adat pernikahan Jawa secara lengkap. Saat Reisa kami temui di kediamannya beberapa waktu lalu, ia mengungkap rangkaian prosesi pernikahan keduanya yang memakan waktu cukup panjang.

"Sebenernya nggak pernah sih dari mulut kita sendiri keluar kata royal weding. Karena memang kita konsepnya cuma ingin membawa budaya. Kebetulan kan kita sama-sama orang Solo, kita masih ada kerabat keraton juga. Jadi kenapa kita nggak bawa budaya dari Jawa ini. Dari kota Solo ini ke orang-orang yang di luar sana. Kebetulan karena kita punya keluarga besar ya memang semuanya masih banyak yang menjalani kebudayaan tersebut, jadi relasi terhadap keraton sendiri sangat dekat. Makanya akhirnya kita mengadakan pernikahan dengan mengikuti adat pakem dari keraton Surakarta," tutur dr. Reisa.



Selain masih punya hubungan keluarga dengan keraton Solo, baik Reisa dan Tedjo tertarik mengangkat budaya Jawa dalam pernikahan mereka karena banyaknya orang jawa yang melupakan budaya mereka. Sementara Reisa dan mas Tedjo justru jatuh cinta dengan ada Jawa dan Keraton.

Saking cintanya, keduanya yang semula akan mengadakan pernikahan di Jakarta langsung memboyong semuanya ke Solo. Semua bermula dari kecintaan mereka akan Ndalem Wuryoningratan. Sebuah gedung bersejarah yang masih satu kompleks dengan Museum Batik Danar Hadi di Surakarta.

"Tapi ternyata kita jatuh cinta dengan tempat nikah kita, di Wuryoningratan, Surakarta. Ketika kita prewedding, kita memang foto prewedding di kampung halaman saya, di Solo. Di rumah saya, di rumah suami, terus muter-muter kota Solo, dan termasuk lah di Wuryoningratan itu," kenang Reisa. Reisa dan suami terpana melihat keindahan gedung Ndalem Wuryoningratan. Lantas ia dan suami mencari tahu apakah ia dapat menggelar pesta pernikahan di gedung indah ini.  "Terus akhirnya kita minta izin lah dengan ibu Danar (pemilik gedung), ternyata diperbolehkan, kemudian mengalir begitu aja," jelas Reisa.

Dengan terbukanya kesempatan menggunakan gedung indah nan bersejarah ini membuat keduanya semakin total dalam merencanakan pernikahan beradat jawa. Wanita yang pernah memenangkan kontes Puteri Indonesia ini lantas mengutarakan niatnya membuat prosesi pernikahan beradat Jawa lengkap pada kedua orangtuanya.

"Dari mamah sih oke-oke aja, 'kamu mau ngejalanin seperti apa yang penting kamu nyaman dan nggak keberatan dengan itu', dan ternyata menghabiskan biaya cukup besar kan. Kalo misalkan kita jalani semua prosesinya tapi alhamdulillah banyak sekali yang membantu. Dari mulai persiapannya, tata caranya, sampai upacara adatnya, itu kerabat keluarga ikut membantu dengan sukarela," tutur Reisa Broto Asmoro.



Untuk mempersiapkan pernikahannya, Reisa mengaku butuh waktu kurang lebih satu tahun sampai acara pernikahannya terselenggara. Sebabnya, ia harus bolak-balik Jakarta-Solo untuk mempersiapkan acara. Pada akhirnya pernikahannya diselenggarakan di dua kota, Jakarta dan Surakarta. Di kedua kota ini pula unsur kebudayaannya diterapkan, acara di Jakarta masih membawa unsur budaya Jawa yang terlihat dari dekorasi dan tari Bedoyo.

Pernikahan Reisa bahkan mengadakan kirab, serta berbagai macam prosesi yang memakan waktu 35 hari.  Setelah pernikahan digelar masih ada beberapa prosesi yang mesti dijalani seperti selapan dan lainnya. Bukannya merasa terbebani, Reisa mengaku malah senang dengan segala prosesi itu.

Meskipun melewati serangkaian prosesi yang panjang. Reisa mengaku tak pernah berambisi mengadakan pesta pernikahan termewah. "Nggak. Sama sekali nggak kepikiran seperti itu. Kita malah mikirnya yang tradisional aja yang penting Jawa. Adatnya Jawa tapi tradisional aja. Tapi ternyata malah sampai ke kain-kainnya aja umurnya sampai ratusan tahun. Jadi meriah deh," ungkap dr. Reisa.

Beruntung pernikahan beradat Jawa yang direncanakan dr. Reisa dan suami mendapatkan dukungan dan bantuan dari pihak keraton. Kerabat Reisa dan suami dari kalangan keraton membantu memandu adat dan pakem Jawa yang akan dipakai.

"Agak deg-degan sebenernya. Kan nggak tau detail, kita cuma ngikutin. Jadi udah ada pakemnya, kebetulan gusti-gusti dari keraton itu bener-bener membantu dan menjalankan tata upacaranya. Kita bedua sih mungkin udah kelamaan di Jakarta jadi ngikutin aja. Disuruh ini, ya udah kita jalanin aja, disuruh itu ya udah dilakuin. Yang penting kita berdua enjoy. Terus nggak merasa terbebani, malah jadi kenangan tersendiri sih,"  kenang Reisa.



Beragam adat dan pakem yang harus dilalui menghasilkan kurang lebih 20 kali prosesi adat. Prosesi pernikahan ala keraton memang panjang, namun hanya keluarga keraton yang boleh melangsungkan. Sementara prosesi adat Jawa yang umum semua boleh mempraktikkan.

"Sampai sekitar 20 upacara, saya juga sebenernya nggak hafal semuanya, saya inget cuma Wilujengan, ada Midodareni, ada siraman, akad nikah, resepsi, ngunduh mantu. Udah yang lainnya saya nggak hafal. Tapi panjang banget," jelas Reisa tentang rangkaian acara pernikahannya.

Bila ditanya apakah pernikahannya termasuk royal wedding atau bukan, Reisa mengaku tak bisa memastikan. Pasalnya ia mengakui bahwa serangkaian prosesi yang dilakukannya dulu telah dirancang kerabatnya dari keraton. Ia dan keluarga hanya tinggal menjalankan saja. Namun bantuan yang ia terima saat akan melangsungkan upacara pernikahan diakui tak setengah-setengah. Kerabatnya selain memberi tau prosesi dan filosofi tiap upacara, mereka juga membantu meminjamkan busana pengantin asli Jawa.

“Terus kalo untuk perlengkapannya sendiri, dari kain-kain memang ada khusus. Jadi kalo misal nikah ada nama-nama kain batiknya harus dibuat apa. Jadi macem-macem orangtuanya mau kain batiknya namanya apa. Saya juga nggak hafal. Mestinya nanya ke Pakde saya yang lebih hafal,” kenang Reisa sambil tertawa.

Busana yang dikenakan pengantin di setiap prosesi adat Jawa memang memiliki simbol tertentu. Bahkan riasan dan perhiasan yang dikenakan pengantin Jawa menjadi perlambang tertentu.

“Terus waktu itu kebetulan saya nikah saya diberikan kain dodotan, itu juga udah turun-menurun udah dipakai khusus. Jadi benangnya juga khusus, dan kita kalo di Jawa itu ada auranya. Jadi misalnya aura penggunanya dulu bagus diteruskan ke pengguna berikutnya. Tapi kalo misalnya pengguna berikutnya pisah itu berarti auranya nggak bagus nih itu jangan diteruskan lagi ke generasi selanjutnya,” papar Reisa lebih lanjut.

Prosesi royal wedding keraton Yogyakarta. Prosesi royal wedding keraton Yogyakarta.



Dalam rangkaian prosesi pernikahan yang panjang dan lengkap, prosesi akad nikahlah yang menjadi bagian paling sakral dan penting. Untuk prosesi akad nikah Reisa menggunakan adat Jawi Jangkep. Di mana pengantin wanita mengenakan kebaya berbahan beludru.

“Kebetulan karena saya pake Jawi Jangkep, jadi saya pake kebaya hitam bludru, itu bawahnya saya diberikan kain namanya Bango Botak, kalo nggak salah. Jadi dia itu kainnya udah lama banget, udah turun menurun juga, udah sampai ratusan tahun. Dan itu disimpan oleh salah satu gusti keraton. Jadi memang karena beliau ingin membantu menyerahkan, membantu melaksanakan pernikahan saya. Jadi dia kasih kainnya tapi abis itu disimpan lagi kainnya,” terang Reisa lebih lanjut.

Rangkaian prosesi adat yang dilalui dr. Reisa untuk pernikahannya memakan waktu 35 hari sampai akad nikah. Kemudian dilanjutkan upacara adat lain di 7 hari dan 35 hari pasca akad nikah. Bila dihitung-hitung mencakup dua bulan setelah lamaran diselenggarakan. Dari serangkaian prosesi dan aturan adat yang dilalui semasa melangsungkan pernikahannya, Reisa mengaku tak ada larangan tertentu yang harus dipatuhi. Pasalnya ia bukan asli dari dalam keraton Suarakarta. Namun ia mengaku ada beberapa aturan yang ia jalankan menjelang pernikahannya 2012.

“Nggak lah kita di sini santai-santai aja. Paling yang lucu-lucu aja aturan-aturannya, misal puasa mutih sebelum nikah, saya masih jalanin. Ada pas didandanin kita nggak boleh ngaca. Jadi nggak boleh liat kaca dulu. Tapi saya jadi bener-bener percaya aja gitu. Terus saya nggak boleh keluar, nggak boleh pakai perhiasan juga. Itu pas midodareni aja, kita nggak boleh pake perhiasan,” terang Reisa.

Reisa Broto Asmoro menekankan bahwa prosesi adat yang ia jalani pada pernikahannya ini murni upayanya melestarikan tradisi Jawa. Serangkaian prosesi adat yang ia lakukan tak bermasud menyekutukan Tuhan. Semua doa terpanjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, prosesi hanyalah upayanya melestarikan adat dan budaya agar tak hilang.

Perihal gelar yang ia sandang di namanya, Reisa mengaku tak ada sangkut pautnya dengan prosesi pernikahannya. Gelar kebangsawanan dan pernikahannya merupakan dua hal yang tak saling berhubungan.

“Kalo gelar itu sebenernya nggak ada hubungannya dengan nikah. Tapi biasanya gelar itu diberikan oleh keraton sendiri sebagai penghargaan apresiasi. Berbeda dengan garis keturunan langsung yang biasanya naik tahta, itu beda. Itu memang sudah ada tata caranya. Tapi kalo kita dari kerabat keraton aja sebenernya suatu hal yang berbeda, gelar dengan wedding,” pungkas Reisa Broto Asmoro.

Nah KLovers, pemaparan Reisa Brotoasmoro di atas semoga bisa menambah pemahaman tentang pernikahan ala royal wedding keraton. Siapa tahu nanti kalian akan menggelar pernikahan dengan adat jawa ala royal wedding. Tunggu artikel selanjutnya tentang royal wedding keraton hanya di KapanLagi.com

(kpl/dka)

Editor:

Mahardi Eka


REKOMENDASI
TRENDING