Retno Maruti, Hidup Untuk Menari

Jum'at, 11 November 2005 12:08 Penulis:
Kapanlagi.com - Untuk tahun 2005, Akademi Jakarta memberikan penghargaan kepada Life Achievement seorang seniman/budayawan yang telah memenuhi syarat dalam kualitas tinggi, kontinyuitas dalam berkarya serta pengabdian dibidang seni dan budaya. Dan seorang Retno Maruti lebih dari sekedar cukup untuk memenuhi standar tersebut.

Dalam pidato singkatnya Kamis malam (10/11) setelah menerima penghargaan tersebut. Maruti menyatakan bahwa dirinya sampai sejauh ini tak lepas dari dukungan berbagai pihak, baik dari team worknya dan dukungan dari suaminya Sentot Sudiharto yang memberikan kebebasan dirinya untuk mendalami dan berkreasi dalam seni tari. Dan ucapan terimakasih juga ditujukan kepada insane pers yang ikut andil dalam membesarkan namanya.

Dipilihnya sosok Retno Maruti tak lepas dari dirinya yang menonjol dalam memiliki daya cipta yang tinggi, mendalami dan menghidupkan seni tradisi kedalam rasa dan mencetak himpunan seniman-seniwati muda yang punya apresiasi tinggi dan penguasaan atas khasanah seni kasik.

Lahir di Solo, 8 Maret 1947, Theodora Retno Maruti mulai mendirikan sanggar tari Padnecwata pada tahun 1976 dan tetap eksis hingga kini. Retno sendiri mengaku tak akan berhenti menari selama dia masih hidup.

Pengajar koreografer serta penari ini, telah mementaskan belasan karyanya seperti DAMARWULAN (1976), RORO MENDUT (1977), ABIMANYU GUGUR (1979), KEONG EMAS (1981), SURAPATI (2001), ALAP-ALAP SUKESI (2004) dan PORTRAIT OF JAVANESE DANCE (2005).

(KL/ww)

Editor:


REKOMENDASI
TRENDING