SELEBRITI

Silaturahome, Tompi dan Erick Thohir Bicara Syarat Masyarakat Bisa Survive dari Pandemi Corona

Selasa, 26 Mei 2020 15:57 Penulis: Wulan Noviarina Anggraini

Tompi dan Erick Thohir © KapanLagi.com

Kapanlagi.com - Kondisi Indonesia yang sedang mengalami pandemi virus corona menjadi bahasan Silaturahome Emtek Digital hari ini, Selasa, (26/5). Ekonomi sulit karena tak bisa berputar, namun jika banyak orang berkerumun akan mengorbankan nyawa.

Tompi yang hari ini menjadi panelis bersama Menteri BUMN Erick Thohir pun membahas mengenai masalah ini dari dua sisi. Tompi sebagai dokter, Erick dari sisi pemerintah, khususnya di bidang BUMN.

"Pak Erick kondisi negara kan memang sedang sulit, di banyak negara juga. Tapi kita nggak mungkin berlama2 seperti ini. Roda ekonomi harus terus berputar. Langkahnya roda ekonomi harus berjalan tanpa mengorbankan nyawa. Langkah apa sih yang sedang dilakukan? Kalau pun akan dijalankan kembali, penanganannya seperti apa?" tanya Tompi.

"Saya jawab domainnya saya ya, BUMN. Di BUMN. Kemarin sempat heboh saat saya bukin surat edaran, kita ingin sebelum semua BUMN bekerja kembali semua harus punya protokol covid. Supaya nanti kalau ada kebijakan kelonggaran PSBB kita nggak kaget. Setiap daerah kan punya kebijakan masing2. BUMN kan ada di seluruh daerah Indonesia. Kita perlu siapkan protokolnya dahulu. Protokol di masing2 BUMN juga berbeda. Itulah perlunya kita mapping dari awal. Syukurlah 85 persen sudah siap. Yang belum siap, akan kita pandu supaya tidak bikin blunder di lapangan.
Protokolnya harus balance, jaga keselamatan tapi juga tetap menjalankan roda ekonominya. Terbukti hari ini apa yang sudah dilakukan pemerintah. Tidak semua negara pakai sistem lockdown benar, tidak semua juga yang tidak pakai itu salah. Tergantung kondisinya. Yang penting harus jaga kondisinya. Pakai masker dan sarung tangan jadi salah satu kuncinya. Kalau kita nggak sepakat soal ini, masalah kesehatan dan ekonominya tidak akan jalan," jawab Erick.



1. Transportasi Umum

Bahasan New Normal juga menjadi sorotan dalam pembicaraan kali ini. Menurut Erick, kenormalan baru ini versinya cukup lebar bagi BUMN yang mana tak semua anak usaha bisa menjalaninya, seperti perusahaan yang bergerak di bidang transportasi umum.

Di sini, Tompi punya usul agar virus tak semakin menyebar ketika masyarakat memakai angkutan umum. "Soal penumpukan orang ketika antri transportasi umum. Satu-satunya cara bikin orang ngumpul. Ticketing harus online. Yang datang adalah mereka yang dapat tiket saja nih. Soal transformasi massa, perlu disinergikan dengan jam kerja. Kebutuhan masyarakat untuk transportasi tetap tinggi. Dengan kuota yang sama besar, tetap social distancing, tentu nggak akan cukup," ujarnya.

"Kita highlight dulu kesadaran untuk jaga kesehatan dulu. Kita bicara apapun, tapi kalau masing-masing dari masyarakatnya belum sadar soal jaga kesehatan semua solusi akan sia-sia. Kesadaran masyarakat diharapkan jadi kunci," jawab Erick.


2. Shift Kerja

Tompi pun menyorot soal pembagian shift kerja di perusahaan yang memiliki ratusan karyawan. Ia menilai bahwa seharusnya pemerintah tegas mengatur pembagian jam kerja agar tidak banyak orang tertular virus corona.

"PSBB ini ada karena kita belum yakin dengan behavior masyarakat dalam menjaga kesehatan. Dari pemerintah pun harus ada regulasi soal jam kerja split. Nggak mungkin satu usaha konveksi 500 orang dalam satu ruangan. Nggak mungkin dalam sekali kerja kan," ujarnya.

3. Ajak Masyarakat Lebih Cerdas

Tompi juga mengajak masyarakat agar lebih menjaga diri sendiri dan lingkungannya. Karena masih banyak orang yang terkesan menggampangkan dengan santai berkerumun tanpa memakai masker dan tak menjaga jarak.

"Ayolah mempercerdas diri. Tolong jangan menggampangkan. Kalau tidak menggampangkan kita bisa beraktivitas seperti biasa. kita nggak mungkin berdiam diri terus di rumah. Kita perlu keluar tapi perlu diingat kita harus tidak sakit," jelasnya.

4. Vaksin Tak Mudah Ditemukan

Pemilik tembang Sedari Dulu ini juga mengingatkan masyarakat bahwa pembuatan vaksin corona tidaklah mudah dan cepat. Jika masyarakat tak patuh untuk menghindari kerumunan dan selalu memakai masker, korban bisa bertambah banyak.

"Tentang vaksin, nggak mudah kaya bikin rujak. Virus ini pun secara hasil riset berubah-berubah terus. Ilmuwan di negara maju pun masih berjuang. Israel dan AS yang klaim di awal pun juga masih berupaya. Satu-satunya yang bisa dilakukan masyarakat adalah tahu diri, pakai masker, cuci tangan. Jaga kesehatan. Saya apresiasi pemerintah yang sigap menyediakan alat kesehatan. Kita nggak bisa bergerak sendiri-sendiri. Pemerintah nggak mudah bikin kebijakan, rakyat pun harus suportif. Kalau pun harus keluar ya harus sangat penting. Jumlah RS terbatas, ICU terbatas, tenaga medis kita sudah sangat optimal. Kita bantu pemerintah ya untuk penanganan ini," terangnya.

(kpl/phi)


REKOMENDASI
TRENDING