KPI Sering Diadu Dengan LSF
KPI
©kpi.go.id
Kapanlagi.com - Masalah sensor baik film maupun tayangan TV di Indonesia kerap kali menjadi masalah yang berbelit. Apalagi bila menyangkut pemberitaan dan adanya stigma bahwa berita buruk adalah sesuatu yang menjual."Sekarang, pemikiran bahwa bad news is good news harus dikaji lagi," kata Nina Mutmainnah, Wakil Ketua Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), di Acara forum koordinasi dan kerjasama LSF dengan PH dan penanggungjawab program TV, di Gedung Film, Jl MT Haryono, Jaksel (15/6). Nina pun merasakan bahwa pihaknya sering diadu dengan LSF. Banyaknya tayangan yang seharusnya tidak layak untuk disiarkan tetap tayang dan berdalih bahwa program tersebut telah lulus sensor. Ketika ditegur, pihak stasiun TV tersebut meminta KPI juga menegur LSF."KPI sering diadu dengan LSF. Banyak sekali program dari stasiun TV gak ada sensor. Tidak mencantumkan nomor STLS (surat tanda lulus sensor). Hanya mencantumkan tulisan lulus sensor aja," tuturnya."Terus ada juga yang STLS-nya tidak sesuai dengan klasifikasi program. Masalah jam tayang juga kadang jadi masalah. Misalkan acara yang menampilkan Debus, kami gak permasalahkan budaya, tapi jam tayangnya tidak sesuai dengan klasifikasi STLS-nya yang buat dewasa, di situ saat tayang jadi R/BO," lanjutnya kemudian.Memang tugas LSF seharusnya memilah program yang layak tayang. Namun demikian, KPI menegaskan bahwa sensor dari pihak internal stasiun TV tersebut lebih penting lagi artinya."Ada beberapa stasiun TV yang menyuruh tegur juga LSF. Tapi ya kami tidak bisa, karena sensor internal itu juga harus dijalankan oleh lembaga penyiaran tersebut, dalam hal ini stasiun TV. Lembaga penyiaran sering berlindung pada tameng, 'ini sudah lulus sensor'," ucapnya.
(Setelah 8 tahun menikah, Raisa dan Hamish Daud resmi cerai.)
(kpl/ato/sjw)
Advertisement
-
Teen - Fashion Kasual Celana Jeans Ala Anak Skena: Pilihan Straight sampai Baggy yang Wajib Dicoba
