Cara Menggunakan Open Knowledge Maps untuk Menemukan Referensi Ilmiah dengan Cepat
cara menggunakan open knowledge maps (c) Ilustrasi AI
Kapanlagi.com - Open Knowledge Maps adalah mesin pencari visual berbasis AI terbesar di dunia untuk pengetahuan ilmiah. Memahami cara menggunakan Open Knowledge Maps menjadi keterampilan penting bagi mahasiswa, dosen, maupun peneliti yang ingin menemukan literatur ilmiah secara efisien dan akurat.
Platform ini memungkinkan kamu mendapatkan gambaran umum suatu topik penelitian dengan menampilkan area-area utama dalam suatu bidang beserta dokumen terkait. Berbeda dengan mesin pencari literatur konvensional yang hanya menampilkan daftar panjang, cara menggunakan Open Knowledge Maps memberikan visualisasi peta konsep sehingga kamu bisa melihat lanskap penelitian dalam sekali pandang.
Open Knowledge Maps merupakan organisasi nirlaba yang berkantor pusat di Wina, Austria, dan terdiri dari komunitas internasional termasuk tim, anggota pendukung, penasihat, dan organisasi mitra. Platform ini gratis untuk digunakan oleh siapa saja tanpa perlu membuat akun terlebih dahulu.
Advertisement
Menurut Harvard Library, "Open Knowledge Maps adalah alat visualisasi berbasis web nirlaba yang memfasilitasi riset eksploratif dengan memetakan literatur ilmiah menggunakan AI, mengungkap topik-topik penelitian terkait yang sering terlewatkan."
1. Cara Mengakses Website Resmi Open Knowledge Maps
Langkah paling awal dalam cara menggunakan Open Knowledge Maps adalah mengakses situs web resminya. Platform ini bersifat terbuka berdasarkan prinsip-prinsip sains terbuka, dengan tujuan menciptakan infrastruktur inklusif, berkelanjutan, dan adil yang bisa digunakan oleh siapa saja.
Buka browser di perangkat: Gunakan browser modern seperti Chrome, Firefox, Safari, atau Microsoft Edge di komputer maupun perangkat seluler. Frontend platform ini telah berhasil diuji pada Chrome, Firefox, Safari, dan Microsoft Edge.
Kunjungi alamat situs resmi: Ketik alamat openknowledgemaps.org di bilah alamat browser, lalu tekan Enter dan tunggu halaman utama terbuka sepenuhnya.
Kenali tampilan halaman utama: Saat halaman terbuka, kamu akan langsung melihat bilah pencarian utama di bagian tengah halaman. Tidak perlu membuat akun atau melakukan pendaftaran untuk mulai menggunakan layanan ini.
2. Cara Memilih Database Pencarian yang Tepat
Setelah berhasil mengakses situs, langkah selanjutnya dalam cara menggunakan Open Knowledge Maps adalah memilih sumber database pencarian yang sesuai dengan bidang penelitianmu. Platform ini menyediakan dua pilihan penyedia data, yaitu PubMed (life sciences) atau BASE (all disciplines).
Pilih PubMed untuk ilmu kesehatan dan biomedis: PubMed mencakup lebih dari 26 juta sitasi untuk literatur biomedis dari MEDLINE, jurnal ilmu kehidupan, dan buku online. Database ini ideal jika kamu meneliti topik di bidang kedokteran, farmasi, atau biologi.
Pilih BASE untuk semua disiplin ilmu lainnya: BASE menyediakan akses ke lebih dari 270 juta dokumen dari lebih dari 8.900 sumber konten di semua disiplin ilmu. Pilih BASE jika bidang penelitianmu di luar ilmu kesehatan, seperti pendidikan, teknik, sosial, atau humaniora.
Klik opsi database yang diinginkan: Pada bilah pencarian, kamu akan melihat tombol toggle antara PubMed dan BASE. Klik salah satu untuk mengaktifkan database tersebut sebelum memulai pencarian.
3. Cara Memasukkan Kata Kunci untuk Hasil Pencarian Optimal
Pemilihan kata kunci yang tepat sangat menentukan kualitas hasil pencarian. Salah satu tips penting saat mempelajari cara menggunakan Open Knowledge Maps adalah memulai pencarian dengan kata kunci yang cukup luas agar peta pengetahuan yang dihasilkan memberikan gambaran komprehensif.
Ketik kata kunci di bilah pencarian: Masukkan istilah yang berkaitan dengan topik penelitianmu. Menggunakan 1-3 kata kunci umum akan memberikan gambaran tingkat tinggi yang lebih baik tentang struktur topik tersebut.
Gunakan kata kunci luas untuk eksplorasi topik: Jika tujuanmu adalah mencari inspirasi atau melihat lanskap penelitian, gunakan istilah umum seperti "climate change" atau "digital marketing." Kata kunci luas akan menghasilkan peta dengan variasi topik yang lebih beragam.
Gunakan kata kunci spesifik untuk topik tertentu: Jika sudah memiliki fokus yang jelas, tambahkan istilah yang lebih detail. Misalnya, alih-alih hanya mengetik "digital marketing," coba gunakan "Instagram digital marketing strategy" agar hasil lebih terfokus.
Klik tombol "Go" atau tekan Enter: Setelah kata kunci dimasukkan, klik tombol pencarian dan tunggu sistem memproses permintaan. Setiap kueri diproses secara langsung: pertama dikirim ke penyedia data yang dipilih, yang membutuhkan sekitar 15 detik. Kemudian, pipeline AI menganalisis data untuk membuat peta pengetahuan, yang membutuhkan 15 detik lagi.
4. Cara Membaca dan Menganalisis Knowledge Map
Setelah proses pencarian selesai, sistem akan menampilkan peta pengetahuan berupa visualisasi lingkaran-lingkaran yang berisi topik-topik penelitian terkait. Memahami cara membaca peta ini merupakan inti dari cara menggunakan Open Knowledge Maps secara efektif.
Amati tampilan peta secara keseluruhan: Sebuah Knowledge Map menyajikan gambaran topikal untuk kueri pencarianmu berdasarkan dokumen paling relevan yang cocok dengan kueri tersebut. Setiap lingkaran (bubble) mewakili sub-area atau kluster topik tertentu.
Perhatikan label pada setiap lingkaran: Label untuk sub-area (bubble) dihasilkan dari kata kunci subjek artikel yang ada dalam area tersebut. Label ini membantu kamu mengenali tema utama di setiap kluster secara cepat.
Identifikasi lingkaran yang saling beririsan: Lingkaran yang saling tumpang tindih menunjukkan bahwa topik-topik di dalamnya memiliki keterkaitan erat. Sebaliknya, lingkaran yang terpisah jauh menandakan topik yang lebih independen.
Klik salah satu lingkaran untuk melihat detail: Saat mengklik sebuah lingkaran, sistem akan menampilkan daftar dokumen yang termasuk dalam kluster tersebut. Setiap dokumen dilengkapi dengan informasi judul, penulis, dan penerbit.
Kenali ikon akses terbuka: Peta pengetahuan mencakup dokumen akses tertutup dan akses terbuka. Dokumen dengan ikon gembok hijau bersifat open access dan bisa dibaca langsung, sedangkan dokumen tanpa ikon tersebut memerlukan langganan.
Open Knowledge Maps dapat membantu kamu mengeksplorasi literatur pada topik yang luas dan paling baik digunakan sebagai gambaran tingkat tinggi suatu topik, karena platform ini mengambil 100 dokumen paling relevan dan mengelompokkannya berdasarkan tema.
5. Cara Meninjau Dokumen dan Mengunduh Referensi Ilmiah
Setelah menemukan dokumen yang potensial dalam peta pengetahuan, langkah selanjutnya adalah meninjau dan mengunduh referensi tersebut. Pada tahap ini, kamu bisa mengevaluasi relevansi setiap artikel sebelum memutuskan untuk menjadikannya sumber referensi.
Klik judul artikel pada panel kanan: Setelah memilih salah satu lingkaran, daftar artikel akan muncul di sisi kanan layar. Klik judul artikel untuk melihat detail seperti abstrak, nama penulis, dan informasi publikasi.
Baca abstrak untuk evaluasi awal: Peninjauan abstrak merupakan cara cepat untuk menentukan apakah isi artikel sesuai dengan kebutuhan penelitianmu. Jika abstrak relevan, lanjutkan ke langkah berikutnya.
Klik tombol PDF untuk membaca dokumen lengkap: Platform ini menyoroti dokumen akses terbuka, dan mayoritas dokumen tersebut dapat dibaca dari dalam antarmuka. Jika tidak, teks lengkapnya hanya satu klik saja.
Unduh dokumen ke perangkat: Setelah melihat tampilan PDF, kamu bisa mengunduh dokumen tersebut ke komputer atau perangkat seluler untuk dibaca secara offline. Gunakan ikon unduh yang tersedia di penampil PDF.
Cetak dokumen jika diperlukan: Bagi yang lebih nyaman membaca versi cetak, dokumen PDF juga bisa langsung dicetak melalui printer yang terhubung dengan perangkatmu.
6. Cara Menggunakan Fitur Sitasi dan Ekspor Dokumen
Fitur sitasi dan ekspor merupakan pelengkap yang sangat berguna saat kamu menggunakan platform ini untuk keperluan penulisan karya ilmiah. Dengan menguasai cara menggunakan Open Knowledge Maps untuk membuat sitasi, proses penyusunan daftar pustaka menjadi lebih praktis.
Klik fitur "Cite As" pada artikel: Setiap dokumen hasil pencarian dilengkapi dengan tombol sitasi. Klik tombol ini untuk menampilkan format penulisan daftar pustaka otomatis yang bisa langsung disalin.
Pilih gaya sitasi yang sesuai: Platform ini menyediakan beberapa pilihan gaya sitasi, termasuk APA Style, MLA Style, Chicago Style, dan ACM Style. Pilih format yang sesuai dengan ketentuan institusi atau jurnal target publikasimu.
Salin sitasi ke dokumen kerja: Setelah memilih format, salin teks sitasi dan tempelkan langsung ke lembar kerja atau aplikasi manajemen referensi seperti Mendeley atau Zotero.
Gunakan fitur Export untuk menyimpan atau membagikan: Fitur ekspor memungkinkan kamu menyimpan dokumen dalam format PDF atau menyalin tautan untuk dibagikan ke rekan sejawat, dosen pembimbing, atau mahasiswa.
7. Cara Menemukan Research Gap dengan Open Knowledge Maps
Selain mencari referensi, platform ini juga sangat efektif untuk menemukan celah penelitian (research gap). Cara menggunakan Open Knowledge Maps untuk identifikasi research gap memanfaatkan fitur visualisasi yang menunjukkan hubungan antar-topik secara jelas, sehingga kamu bisa melihat area yang belum banyak diteliti.
Lakukan pencarian dengan kata kunci topik yang diminati: Mulailah dengan kata kunci luas yang mencakup bidang penelitian utama. Misalnya, jika kamu tertarik meneliti tentang artificial intelligence in education, gunakan istilah tersebut sebagai kata kunci pencarian.
Analisis peta pengetahuan yang dihasilkan: Pipeline AI platform ini mengelompokkan dokumen serupa secara bersama-sama, sehingga memudahkan identifikasi konten relevan saat kamu mencari istilah ambigu atau ingin mengidentifikasi konten dari satu disiplin ilmu dalam bidang multidisipliner.
Catat topik-topik yang muncul di setiap kluster: Dokumentasikan judul-judul yang muncul dalam satu lingkaran maupun lingkaran yang saling beririsan. Ini akan memberikan gambaran tentang tema yang sudah banyak diteliti dan yang masih minim.
Identifikasi area yang jarang terisi dokumen: Perhatikan kluster yang memiliki sedikit dokumen atau area yang tidak memiliki lingkaran sama sekali. Area-area kosong ini bisa menjadi indikasi celah penelitian yang potensial.
Lakukan studi komparasi antar-artikel: Bandingkan rumusan masalah, metode, dan hasil penelitian dari artikel yang berada dalam kluster serupa. Perbedaan dan kekurangan yang kamu temukan bisa menjadi dasar untuk merumuskan pertanyaan penelitian baru.
8. Teknologi AI di Balik Open Knowledge Maps
Open Knowledge Maps mengoperasikan pipeline kecerdasan buatan (AI) untuk membuat peta pengetahuan. Pipeline ini menggabungkan metode pemrosesan bahasa alami (NLP) untuk mengagregasi dan menampilkan publikasi berdasarkan kesamaan topik. Pendekatan ini memungkinkan platform menciptakan kluster yang bermakna dari ribuan dokumen ilmiah. Cara menggunakan Open Knowledge Maps menjadi lebih efektif ketika kamu memahami dasar kerja teknologi di baliknya.
Pengelompokan dokumen didasarkan pada metadata artikel. Saat ini, platform menggunakan judul, abstrak, penulis, jurnal, dan kata kunci subjek untuk membuat matriks ko-kemunculan kata antar-artikel. Di atas matriks ini, dilakukan algoritma kluster dan ordinasi. Artinya, peta pengetahuan tidak dihasilkan dari analisis teks lengkap, melainkan dari kualitas metadata yang tersedia. Oleh karena itu, hasil visualisasi sangat bergantung pada kelengkapan metadata yang disediakan oleh database sumber.
Platform ini hanya menggunakan penyedia data tepercaya seperti BASE, PubMed, dan OpenAIRE. Penyedia-penyedia ini meninjau sumber data dengan cermat untuk memastikan bahwa mereka hanya menyertakan konten akademik. Sistem penjaminan kualitas ini memberikan tingkat kepercayaan yang tinggi terhadap hasil pencarian. Seperti yang disampaikan oleh Dr. David Johann dari ETH Library, ETH Zurich: "Saya suka bagaimana OKMaps memecah paper ke dalam kluster yang memungkinkan saya mengidentifikasi tema dalam literatur dan fokus pada paper yang paling relevan untuk pekerjaan saya."
Open Knowledge Maps bersifat open source di bawah Lisensi MIT, yang berarti kode sumber, konten, dan data dibagikan secara terbuka. Prof. Dr. Klaus Tochtermann, Direktur ZBW, menyatakan: "Open Knowledge Maps adalah salah satu inisiatif yang kami anggap sebagai inovator visioner di bidang penemuan di ruang terbuka." Keterbukaan ini memungkinkan komunitas pengembang dan peneliti untuk berkontribusi dalam peningkatan platform secara berkelanjutan.
9. Keunggulan dan Keterbatasan Open Knowledge Maps
Seperti alat penelitian lainnya, Open Knowledge Maps memiliki kelebihan dan kekurangan yang perlu dipahami. Dr. Andrea Hacker dari University Library Bern menyatakan: "Open Knowledge Maps merupakan penguatan yang cukup besar di bidang sains terbuka dan akses terbuka, yang merupakan inti dari layanan penelitian kami." Berikut ulasan lengkap mengenai keunggulan dan keterbatasannya.
Keunggulan:
Visualisasi intuitif dan mudah dipahami: Visualisasi dirancang untuk memberikan langkah awal dalam pencarian ilmiah, sehingga kamu bisa mengidentifikasi area relevan secara sekilas beserta dokumen terkait.
Gratis dan tanpa registrasi: Platform ini merupakan alat online gratis yang dapat menghasilkan peta pengetahuan tentang topik penelitian apa pun tanpa perlu membuat akun terlebih dahulu.
Identifikasi konsep relevan dengan bantuan AI: Salah satu tugas tersulit ketika kamu baru di suatu bidang penelitian adalah mempelajari "bahasa" bidang tersebut. Open Knowledge Maps memudahkan hal ini dengan melabeli area penelitian menggunakan konsep yang relevan.
Menyoroti konten akses terbuka: Platform secara khusus menandai dokumen yang bersifat open access, sehingga memudahkan peneliti menemukan literatur yang bisa diakses tanpa biaya.
Membantu menemukan research gap: Visualisasi hubungan antar-topik memudahkan peneliti mengidentifikasi area yang belum banyak diteliti, sehingga berguna untuk menemukan celah penelitian.
Didukung misi nirlaba yang kredibel: Tujuan organisasi ini adalah merevolusi penemuan pengetahuan ilmiah dengan membangun antarmuka visual yang meningkatkan visibilitas temuan penelitian secara dramatis.
Keterbatasan:
Terbatas pada 100 dokumen teratas: Platform hanya menggunakan 100 dokumen teratas untuk membuat peta. Meskipun ini sudah 10 kali lebih banyak daripada halaman hasil pencarian standar, dokumen penting mungkin terlewat.
Analisis berbasis metadata, bukan teks lengkap: Pengelompokan dokumen didasarkan pada metadata artikel, yang bisa membatasi kedalaman analisis jika metadata tidak lengkap.
Kluster algoritmik tidak selalu sempurna: Hasil pengelompokan otomatis oleh AI terkadang bisa kurang intuitif, terutama untuk topik yang sangat interdisipliner.
Tidak ideal untuk mencari satu artikel spesifik: Platform dirancang untuk eksplorasi topik secara luas, bukan untuk menemukan satu artikel tertentu seperti di Google Scholar.
Open Knowledge Maps berguna untuk memberikan langkah awal dalam pencarian ilmiah, tetapi menggunakan 100 dokumen teratas dari sumber data yang dipilih, yang mungkin melewatkan dokumen penting. Kualitas informasi juga dipengaruhi oleh algoritma, cakupan sumber data, dan kualitas metadata.
10. Tips Efektif Memaksimalkan Pencarian Literatur Ilmiah
Agar cara menggunakan Open Knowledge Maps memberikan hasil yang optimal, ada beberapa strategi yang bisa kamu terapkan. Jean-Claude Burgelman, Profesor Open Science di VUB, menyatakan: "Sekarang sains semakin terbuka, kita membutuhkan cara untuk memvisualisasikannya secara relevan. Itulah mengapa saya mendukung OKMaps." Berikut tips-tips yang bisa kamu ikuti.
Kombinasikan dengan platform pencarian lain: Disarankan untuk juga memanfaatkan database lain dalam melakukan kajian pustaka yang serius untuk tugas atau proyek penelitian. Gunakan Perplexity AI atau Scopus sebagai pelengkap.
Lakukan beberapa kali pencarian dengan variasi kata kunci: Coba berbagai kombinasi istilah untuk mendapatkan perspektif yang lebih lengkap tentang topik penelitianmu. Setiap kata kunci bisa menghasilkan peta yang berbeda.
Perhatikan tahun publikasi: Saat meninjau dokumen hasil pencarian, prioritaskan referensi yang relatif baru (5-10 tahun terakhir) untuk memastikan relevansi dan kebaruan informasi yang kamu gunakan dalam daftar pustaka skripsi.
Manfaatkan fitur Cite As segera setelah menemukan referensi: Jangan tunda menyimpan sitasi agar tidak terlewat dan terhindar dari risiko plagiarisme. Langsung salin format sitasi ke lembar kerja atau aplikasi manajemen referensi seperti Mendeley.
Gunakan peta sebagai alat brainstorming: Peta pengetahuan bukan hanya untuk mencari referensi, tetapi juga efektif sebagai media brainstorming untuk menemukan sudut pandang baru dalam penelitian.
Perhatikan kualitas metadata yang digunakan: Saat menggunakan OKMaps, pastikan untuk menyaring pencarian dengan menunjukkan tanggal, judul, penulis, atau jenis artikel yang diminati.
Bagikan peta pengetahuan ke kolega: Manfaatkan fitur berbagi untuk mengirimkan peta pengetahuan kepada rekan peneliti atau dosen pembimbing. Ini memfasilitasi diskusi dan kolaborasi yang lebih efektif.
Dr. Peter Kraker, Pendiri dan Ketua Open Knowledge Maps, menyampaikan visinya: "Dengan memungkinkan penilaian yang lebih holistik terhadap output ilmiah, VisConnect akan sangat bermanfaat bagi penilaian penelitian dan membantu menghilangkan hambatan signifikan terhadap sains terbuka."
11. Perbandingan Open Knowledge Maps dengan Platform Pencarian Lainnya
Memahami posisi Open Knowledge Maps di antara platform pencarian literatur lain akan membantumu memilih alat yang paling tepat sesuai kebutuhan. Secara konvensional, peneliti telah menggunakan kata kunci dan PubMed atau Google Scholar untuk mengidentifikasi manuskrip yang relevan dengan topik penelitian. Open Knowledge Maps hadir sebagai alternatif visual yang melengkapi pendekatan tradisional tersebut.
Daftar panjang hasil pencarian, yang terkadang mencakup ribuan artikel, sangat membebani peneliti yang ingin cepat mendapat pengantar suatu topik. Sebagai alternatif, OKMaps menyediakan antarmuka visual untuk pengetahuan ilmiah dunia, memungkinkan peneliti memvisualisasikan pengelompokan manuskrip yang memiliki kesamaan kata. Pendekatan ini secara signifikan mempercepat proses eksplorasi awal dibandingkan menelusuri daftar hasil satu per satu.
Namun, Open Knowledge Maps tidak dimaksudkan untuk menggantikan Google Scholar atau database berbayar seperti Scopus. Platform ini paling efektif digunakan sebagai langkah awal untuk memahami lanskap sebuah topik penelitian sebelum mendalami artikel-artikel spesifik. Baik ilmuwan yang sudah ahli maupun mahasiswa baru yang diminta merancang eksperimen tentang topik baru, Open Knowledge Maps merupakan alat visualisasi yang sangat berguna.
Open Knowledge Maps memungkinkan beragam pemangku kepentingan untuk secara terbuka mengeksplorasi, menemukan, dan memanfaatkan konten ilmiah. Di antara penggunanya terdapat peneliti, mahasiswa, pustakawan, pendidik, jurnalis sains, dan praktisi di semua disiplin ilmu dan wilayah geografis. Keragaman pengguna ini menunjukkan fleksibilitas platform sebagai alat bantu di berbagai konteks akademik. Bagi mahasiswa yang sedang mengerjakan skripsi, platform ini bisa menjadi sumber semangat baru karena mempermudah pencarian referensi yang sering menjadi tantangan tersendiri.
12. Siapa Saja yang Bisa Menggunakan Open Knowledge Maps
Platform ini dirancang untuk digunakan oleh berbagai kalangan, tidak hanya peneliti profesional. Setiap orang seharusnya bisa mendapat manfaat dari pengetahuan ilmiah. Oleh karena itu, diperlukan sistem penemuan nirlaba open source untuk sains terbuka. Berikut beberapa kelompok pengguna yang bisa memanfaatkan platform ini secara maksimal.
Mahasiswa tingkat akhir: Sangat berguna untuk mencari referensi skripsi, tesis, atau disertasi. Visualisasi peta pengetahuan membantu mempercepat proses identifikasi topik dan literatur terkait, sehingga waktu bisa dialokasikan untuk fokus akademik lainnya.
Dosen dan peneliti: Membantu menemukan perkembangan terbaru di bidang keahlian mereka serta mengidentifikasi peluang kolaborasi lintas disiplin ilmu.
Pustakawan: Dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu dalam layanan referensi untuk memandu pengunjung perpustakaan dalam melakukan pencarian literatur ilmiah.
Jurnalis sains: Berguna untuk memahami lanskap penelitian pada topik tertentu secara cepat sebelum menulis artikel ilmiah populer.
Praktisi dan profesional: Mendukung kebutuhan evidence-based practice dengan menyediakan akses mudah ke literatur ilmiah terkini di berbagai bidang.
Dalam dunia anggaran penelitian yang semakin menyusut, penyertaan artikel dan penelitian akses terbuka dalam alat visualisasi OKMaps adalah aset yang sangat berharga. Mengkurasi manuskrip yang dapat diakses tanpa biaya sangat mempercepat inkorporasi penelitian ke dalam hipotesis kerja.
13. Langkah Lanjutan Setelah Menguasai Cara Menggunakan Open Knowledge Maps
Setelah menguasai dasar-dasar penggunaan platform ini, ada beberapa langkah lanjutan yang bisa kamu tempuh untuk memaksimalkan hasil penelitian. Platform ini bukan sekadar alat pencarian, melainkan bagian dari ekosistem yang lebih luas dalam mendukung proses penemuan ilmiah secara kolaboratif.
Ke depan, Open Knowledge Maps ingin mengubah penemuan menjadi proses terbuka dan kolaboratif. Dengan berbagi hasil penemuan, kita dapat menghemat waktu yang berharga dan membangun di atas pengetahuan satu sama lain. Visi kolaboratif ini berarti platform akan terus berkembang dengan fitur-fitur baru yang memungkinkan pengguna berkolaborasi dalam proses penemuan ilmiah.
Sebagai langkah lanjutan, kamu bisa mengintegrasikan Open Knowledge Maps dengan alat-alat penelitian lainnya. Misalnya, gunakan hasil pencarian dari platform ini sebagai titik awal, lalu dalami menggunakan Scopus AI untuk analisis yang lebih mendalam, dan Google Translate untuk memahami literatur berbahasa asing. Kombinasi beberapa alat akan memberikan cakupan penelitian yang lebih komprehensif.
Pada tahun-tahun terakhir, platform ini telah menyajikan hampir satu juta halaman, dan lebih dari 200.000 peta pengetahuan telah dibuat. Layanan ini meningkatkan visibilitas konten dari berbagai sumber seperti repositori akademik, organisasi pendanaan, institusi penelitian, dan penerbit. Angka-angka ini menunjukkan bahwa platform terus bertumbuh dan semakin dipercaya oleh komunitas akademik global.
14. FAQ
Apa itu Open Knowledge Maps dan bagaimana cara mengaksesnya?
Open Knowledge Maps adalah mesin pencari visual berbasis AI terbesar di dunia untuk pengetahuan ilmiah. Cara menggunakan Open Knowledge Maps sangat mudah, cukup kunjungi situs openknowledgemaps.org melalui browser, masukkan kata kunci, dan peta pengetahuan akan dihasilkan secara otomatis tanpa perlu membuat akun.
Apakah Open Knowledge Maps gratis untuk digunakan?
Open Knowledge Maps gratis untuk digunakan oleh siapa saja. Platform ini didukung oleh donasi dan anggota pendukung yang terdiri dari berbagai institusi akademik di seluruh dunia, sehingga layanan ini bisa tetap diakses tanpa biaya bagi penggunanya. Ini menjadikan cara menggunakan Open Knowledge Maps sangat ramah bagi mahasiswa dan peneliti pemula.
Apa perbedaan database PubMed dan BASE di Open Knowledge Maps?
Platform ini menyediakan dua pilihan penyedia data, yaitu PubMed untuk ilmu kehidupan (life sciences) atau BASE untuk semua disiplin ilmu. PubMed cocok untuk riset bidang kesehatan dan biomedis, sementara BASE mencakup literatur dari berbagai bidang ilmu, termasuk sosial, humaniora, dan teknik.
Mengapa peta pengetahuan hanya menampilkan 100 dokumen?
Platform ini ingin menjaga jumlah dokumen pada jumlah yang dapat dikelola. 100 dokumen sudah 10 kali lebih banyak dari halaman hasil pencarian standar. Namun, mereka sedang menyelidiki cara untuk memungkinkan eksplorasi konten yang lebih besar sambil menjaga beban kognitif tetap minimal.
Bagaimana cara menggunakan Open Knowledge Maps untuk menemukan research gap?
Cara menggunakan Open Knowledge Maps untuk menemukan research gap adalah dengan menganalisis peta pengetahuan yang dihasilkan. Perhatikan lingkaran yang saling beririsan dan area yang minim dokumen. Catat judul-judul dalam kluster serupa, lalu bandingkan rumusan masalah dan hasilnya untuk menemukan celah yang belum terisi oleh penelitian sebelumnya.
Apakah Open Knowledge Maps bisa digunakan untuk semua bidang ilmu?
Ya, platform ini bisa digunakan untuk semua disiplin ilmu. Pada openknowledgemaps.org, pengguna dapat membuat peta pengetahuan tentang topik penelitian di disiplin ilmu apa pun. Dengan memilih database BASE, kamu bisa menjangkau literatur dari berbagai bidang, mulai dari sains hingga seni dan humaniora. Platform ini mendukung kebutuhan akademik secara luas.
Bagaimana kualitas sumber yang ditampilkan di Open Knowledge Maps?
Platform ini hanya menggunakan penyedia data tepercaya seperti BASE, PubMed, dan OpenAIRE, yang meninjau sumber data dengan cermat untuk memastikan hanya konten akademik yang disertakan. Namun, bahkan dengan peninjauan yang paling cermat, kesalahan tetap bisa terjadi. Oleh karena itu, selalu lakukan evaluasi mandiri terhadap setiap referensi yang kamu gunakan dalam karya ilmiah.
(kpl/vna)
Advertisement