Kata Bijak Ki Hajar Dewantara tentang Pendidikan: Warisan Filosofi Bapak Pendidikan Nasional
kata bijak ki hajar dewantara tentang pendidikan (Image by AI)
Kapanlagi.com - Ki Hajar Dewantara dikenal sebagai Bapak Pendidikan Nasional yang meninggalkan warisan pemikiran luar biasa melalui kata-kata bijaknya. Setiap ungkapan beliau mengandung filosofi mendalam tentang hakikat pendidikan yang sesungguhnya.
Kata bijak Ki Hajar Dewantara tentang pendidikan tidak hanya sekadar kalimat inspiratif, melainkan panduan praktis dalam membentuk karakter bangsa. Pemikiran beliau telah menjadi fondasi sistem pendidikan Indonesia hingga saat ini.
Mengutip dari buku "Berkeluarga Dengan Kesadaran Penuh" karya Dr. Hastaning Sakti, filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara mencakup konsep holistik yang mengintegrasikan aspek kognitif, afektif, dan psikomotor dalam proses pembelajaran.
Advertisement
1. Makna dan Filosofi Kata Bijak Ki Hajar Dewantara
Kata bijak Ki Hajar Dewantara tentang pendidikan mencerminkan pemahaman mendalam tentang hakikat manusia dan proses pembelajaran. Beliau memandang pendidikan sebagai upaya memerdekakan manusia secara lahir dan batin, bukan sekadar transfer pengetahuan.
Filosofi utama dalam kata-kata bijak Ki Hajar Dewantara adalah konsep kemerdekaan dalam belajar. Beliau menyatakan bahwa "maksud pengajaran dan pendidikan yang berguna untuk kehidupan bersama adalah memerdekakan manusia sebagai anggota persatuan (rakyat)." Pernyataan ini menunjukkan visi pendidikan yang tidak hanya mencerdaskan individu, tetapi juga membangun kesadaran kolektif sebagai bangsa.
Konsep "Among System" menjadi inti dari pemikiran pendidikan Ki Hajar Dewantara. Sistem ini menekankan pentingnya "menyokong kodrat alamnya anak-anak yang kita didik, agar dapat mengembangkan hidupnya lahir dan batin menurut kodratnya sendiri-sendiri." Pendekatan ini sangat revolusioner pada masanya karena menghargai keunikan setiap individu.
Menurut buku "Ilmu Pendidikan" karya Dr. Candra Wijaya dan Amiruddin, Ki Hajar Dewantara mengembangkan tujuh asas pendidikan yang dikenal sebagai "Asas 1922" dari Perguruan Nasional Taman Siswa, yang menjadi landasan filosofis pendidikan nasional Indonesia.
2. Koleksi Kata Bijak Ki Hajar Dewantara yang Terkenal
Berikut adalah kumpulan kata bijak Ki Hajar Dewantara tentang pendidikan yang paling berpengaruh:
- "Ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani" - Filosofi kepemimpinan pendidikan yang mengajarkan guru untuk memberi teladan di depan, membangun semangat di tengah, dan memberikan dorongan dari belakang.
- "Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu" - Menekankan pentingnya menghormati potensi alami setiap anak.
- "Guru adalah seorang pejuang tulus tanpa tanda jasa mencerdaskan bangsa" - Menggambarkan dedikasi dan pengorbanan seorang pendidik.
- "Dengan ilmu kita menuju kemuliaan" - Menegaskan peran ilmu pengetahuan dalam meningkatkan martabat manusia.
- "Setiap orang menjadi guru, setiap rumah menjadi sekolah" - Konsep pendidikan yang tidak terbatas pada institusi formal.
- "Pendidikan dan pengajaran di dalam Republik Indonesia harus berdasarkan kebudayaan dan kemasyarakatan bangsa Indonesia" - Pentingnya pendidikan yang berakar pada nilai-nilai lokal.
Kata bijak Ki Hajar Dewantara tentang pendidikan ini menunjukkan visi holistik beliau tentang proses pembelajaran yang tidak hanya fokus pada aspek intelektual, tetapi juga pembentukan karakter dan kepribadian.
3. Konsep Asah, Asih, Asuh dalam Pendidikan
Salah satu kontribusi terpenting Ki Hajar Dewantara adalah konsep "Asah, Asih, Asuh" yang menjadi dasar metodologi pendidikan Indonesia. Konsep ini tercermin dalam berbagai kata bijak Ki Hajar Dewantara tentang pendidikan.
Asah merujuk pada pengembangan aspek intelektual anak. Ki Hajar Dewantara menyatakan bahwa "guru jangan hanya memberi pengetahuan yang perlu dan baik saja tetapi harus juga mendidik si murid akan dapat mencari sendiri pengetahuan itu dan memakainya guna amal keperluan umum."
Asih menekankan pentingnya kasih sayang dalam proses pendidikan. Beliau mengajarkan bahwa pendidikan harus dilakukan dengan penuh cinta dan perhatian terhadap perkembangan anak secara menyeluruh.
Asuh berkaitan dengan pemberian bimbingan dan arahan. Dalam konteks ini, Ki Hajar Dewantara menekankan bahwa "pendidik harus mampu dan mau serta rela mengorbankan kepentingan-kepentingan hidup pribadinya demi kebahagiaan para peserta didiknya."
Mengutip dari buku "Berkeluarga Dengan Kesadaran Penuh", konsep Asah Asih Asuh ini dipahami sebagai "care and dedicated based on love" (perhatian dan dedikasi berdasarkan kasih), yang menjadi panduan bagi guru dan orang tua dalam mendidik anak.
4. Penerapan Sistem Among dalam Pendidikan Modern
Kata bijak Ki Hajar Dewantara tentang pendidikan tidak kehilangan relevansinya di era modern. Sistem Among yang beliau kembangkan masih sangat applicable dalam konteks pendidikan abad ke-21.
Sistem Among menekankan pembelajaran yang berpusat pada siswa (student-centered learning). Ki Hajar Dewantara menyatakan bahwa "di mana ada kemerdekaan di situ harus ada disiplin yang kuat. Sungguh disiplin itu bersifat self disiplin, yaitu kita sendiri mewajibkan dengan sekeras-kerasnya."
Pendekatan ini mendorong siswa untuk mengembangkan kemandirian dan tanggung jawab dalam belajar. Proses pembelajaran mengikuti pola "niteni, nirokké, nambahi" (mengamati, meniru, mengembangkan) yang memungkinkan siswa untuk tidak hanya menerima informasi, tetapi juga mengembangkan kreativitas dan inovasi.
Dalam konteks pendidikan keluarga, Ki Hajar Dewantara menekankan bahwa "di dalam hidupnya anak-anak adalah tiga tempat pergaulan yang menjadi pusat pendidikan yang amat penting baginya, yaitu alam keluarga, alam perguruan dan alam pergerakan pemuda." Konsep "Tri Pusat Pendidikan" ini menunjukkan pentingnya sinergi antara keluarga, sekolah, dan masyarakat.
Menurut buku "Menguatkan Peran Keluarga dalam Ekosistem Pendidikan" karya Prof. Dr. Fauzi, pendidikan keluarga dalam konsep Ki Hajar Dewantara menempatkan orang tua sebagai guru yang memiliki tiga peran penting: pengajar, penuntun, dan teladan.
5. Konsep Tri Nga: Ngerti, Ngrasa, Nglakoni
Kata bijak Ki Hajar Dewantara tentang pendidikan juga mencakup konsep "Tri Nga" yang terdiri dari Ngerti (mengetahui), Ngrasa (memahami), dan Nglakoni (melakukan). Konsep ini menunjukkan bahwa pendidikan sejati harus melibatkan tiga dimensi pembelajaran.
Ngerti berkaitan dengan aspek kognitif, di mana siswa memperoleh pengetahuan dan informasi. Ki Hajar Dewantara menekankan bahwa "orang yang mempunyai kecerdasan budi pekerti itu senantiasa memikir-mikirkan dan merasa-rasakan serta selalu memakai ukuran, timbangan dan dasar-dasar yang pasti dan tetap."
Ngrasa melibatkan aspek afektif, yaitu pemahaman emosional dan spiritual terhadap apa yang dipelajari. Beliau menyatakan bahwa "pengaruh pengajaran itu umumnya memerdekakan manusia atas hidupnya lahir, sedang merdekanya hidup batin terdapat dari pendidikan."
Nglakoni adalah implementasi dalam tindakan nyata. Ki Hajar Dewantara mengajarkan bahwa "dengan adanya budi pekerti, tiap-tiap manusia berdiri sebagai manusia merdeka (berpribadi), yang dapat memerintah atau menguasai diri sendiri."
Konsep Tri Nga ini selaras dengan taksonomi Bloom dalam pendidikan modern, yang mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotor. Hal ini menunjukkan bahwa pemikiran Ki Hajar Dewantara telah melampaui zamannya dan tetap relevan hingga kini.
6. Relevansi Kata Bijak Ki Hajar Dewantara di Era Digital
Di era digital saat ini, kata bijak Ki Hajar Dewantara tentang pendidikan memiliki relevansi yang semakin kuat. Konsep "setiap orang menjadi guru, setiap rumah menjadi sekolah" telah terwujud melalui teknologi pembelajaran online dan platform digital.
Filosofi kemerdekaan belajar yang diajarkan Ki Hajar Dewantara sejalan dengan konsep pembelajaran sepanjang hayat (lifelong learning) yang menjadi kebutuhan di abad ke-21. Beliau menyatakan bahwa "mempunyai ketetapan, tidak tergoyahkan, berisi dengan berilmu pengetahuan, hingga yakin dengan seyakin-yakinnya bahwa apa yang dilakukannya adalah benar dan baik."
Sistem Among yang menekankan pembelajaran mandiri dan kreatif sangat sesuai dengan tuntutan era digital yang membutuhkan individu yang adaptif dan inovatif. Ki Hajar Dewantara mengajarkan bahwa pendidikan harus "mengembangkan hidupnya lahir dan batin menurut kodratnya sendiri-sendiri."
Konsep pendidikan karakter yang ditekankan dalam kata bijak Ki Hajar Dewantara tentang pendidikan menjadi semakin penting di era digital untuk mengimbangi kemajuan teknologi dengan nilai-nilai kemanusiaan. Beliau menegaskan bahwa tujuan pendidikan adalah menciptakan "manusia beradab" yang memiliki budi pekerti luhur.
7. FAQ (Frequently Asked Questions)
Apa kata bijak Ki Hajar Dewantara yang paling terkenal?
Kata bijak Ki Hajar Dewantara yang paling terkenal adalah "Ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani" yang mengajarkan filosofi kepemimpinan dalam pendidikan: di depan memberi teladan, di tengah membangun semangat, dan di belakang memberikan dorongan.
Apa makna filosofi Asah Asih Asuh dalam pendidikan?
Filosofi Asah Asih Asuh merupakan metode pendidikan Ki Hajar Dewantara yang mencakup Asah (mengembangkan intelektual), Asih (memberikan kasih sayang), dan Asuh (membimbing dengan dedikasi). Konsep ini menekankan pendidikan holistik yang melibatkan pikiran, hati, dan tindakan.
Bagaimana relevansi kata bijak Ki Hajar Dewantara dengan pendidikan modern?
Kata bijak Ki Hajar Dewantara tentang pendidikan sangat relevan dengan pendidikan modern karena menekankan pembelajaran yang berpusat pada siswa, pengembangan karakter, dan kemerdekaan belajar. Konsep-konsepnya sejalan dengan pendekatan pendidikan abad ke-21 yang mengutamakan kreativitas dan kemandirian.
Apa itu Sistem Among dalam pendidikan?
Sistem Among adalah metode pendidikan Ki Hajar Dewantara yang memberikan kebebasan kepada peserta didik untuk berkembang sesuai kodrat alamnya, sambil tetap memberikan bimbingan dan arahan. Sistem ini menekankan pembelajaran yang demokratis dan humanis.
Apa konsep Tri Nga dalam pemikiran Ki Hajar Dewantara?
Tri Nga terdiri dari Ngerti (mengetahui), Ngrasa (memahami), dan Nglakoni (melakukan). Konsep ini mengajarkan bahwa pendidikan sejati harus melibatkan aspek kognitif, afektif, dan psikomotor untuk membentuk manusia yang utuh dan berkarakter.
Mengapa Ki Hajar Dewantara disebut Bapak Pendidikan Nasional?
Ki Hajar Dewantara disebut Bapak Pendidikan Nasional karena jasanya dalam memperjuangkan pendidikan untuk rakyat Indonesia melalui pendirian Taman Siswa pada 1922, mengembangkan sistem pendidikan yang humanis, dan merumuskan filosofi pendidikan yang menjadi dasar sistem pendidikan nasional Indonesia.
Bagaimana penerapan kata bijak Ki Hajar Dewantara dalam kehidupan sehari-hari?
Kata bijak Ki Hajar Dewantara dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari melalui sikap saling menghormati, memberikan teladan yang baik, mendidik dengan kasih sayang, dan mengembangkan potensi diri secara berkelanjutan. Prinsip-prinsipnya dapat diimplementasikan baik dalam konteks keluarga, sekolah, maupun masyarakat.
Temukan berbagai kata inspiratif lainnya di kapanlagi.com. Kalau bukan sekarang, KapanLagi?
Baca artikel menarik lainnya:
- 7 Drama Korea Genre Romansa dengan Karakter Pria Paling Ijo Neon, Terbaru Diperankan Park Bo Gum
- 9 Alternatif Minyak Goreng Sehat untuk Menjaga Kadar Kolesterol, Sudah Mengetahui?
- Cara Mudah Membuat Es Serut Timun Jeruk Nipis, Solusi Lezat untuk Menurunkan Kolesterol Tinggi
- Car Menikmati Durian Tanpa Khawatir Kolesterol, Wajib Coba
Berita Foto
(kpl/psp)
Advertisement