Keistimewaan Bulan Muharram: Keutamaan, Puasa Asyura, hingga Amalan Sunnah yang Dianjurkan

keistimewaan bulan muharram (h)
Kapanlagi.com - Bulan Muharram menyimpan begitu banyak keistimewaan yang menjadikannya salah satu periode paling bermakna sepanjang tahun Islam. Keistimewaan bulan Muharram mencakup kedudukannya sebagai bulan pertama dalam kalender Hijriah sekaligus salah satu dari empat bulan haram yang dimuliakan Allah SWT.
Di bulan ini, setiap kebaikan yang dilakukan mendapat perhatian dan keutamaan yang lebih besar, sementara dosa dan kemaksiatan memiliki konsekuensi yang lebih berat. Umat Islam dianjurkan memperbanyak ibadah, terutama puasa sunnah, sebagai bentuk pendekatan diri kepada Sang Pencipta.
Tidak hanya kaya akan dimensi ibadah, berbagai keistimewaan bulan Muharram juga meliputi sejarah besar yang melatarinya. Hari Asyura pada tanggal 10 Muharram menyimpan kisah penyelamatan Nabi Musa AS dan pengikutnya dari tirani Fir'aun, hingga peristiwa berlabuhnya bahtera Nabi Nuh AS setelah banjir besar.
Advertisement
Dilansir dari About Islam, Muharram dinamai demikian karena ia adalah bulan yang disucikan (muharram) untuk menegaskan kesuciannya. Rasulullah SAW menyebut Muharram dengan gelar istimewa "bulan Allah" — sebuah penyandaran nama bulan kepada nama Allah yang menunjukkan betapa agung kedudukannya.
1. Pengertian dan Makna Bulan Muharram dalam Islam
Secara bahasa, kata "Muharram" berasal dari bahasa Arab yang bermakna "terlarang" atau "disucikan," menegaskan kesucian bulan ini. Menariknya, kata Muharram dan Al-Masjid Al-Haram (rumah Allah di Mekah) berasal dari akar kata Arab yang sama, menandakan bahwa keduanya merupakan ruang suci tempat setiap perbuatan baik maupun buruk memiliki bobot lebih berat. Muharram menempati posisi sebagai bulan pertama dalam penanggalan Islam dan membuka babak baru perjalanan spiritual umat Muslim setiap tahunnya.
Mengutip Muslim.sg, Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa tiga bulan haram berurutan — Dzulqa'dah, Dzulhijjah, dan Muharram — dirancang untuk melindungi musim haji: Dzulqa'dah sebagai jendela perjalanan aman menuju Mekah, Dzulhijjah untuk pelaksanaan ritual haji, dan Muharram sebagai waktu aman bagi para peziarah untuk kembali ke kampung halamannya. Sementara itu, Rajab berdiri sendiri di pertengahan tahun untuk memberikan perlindungan bagi pelaksanaan umrah.
Baca juga: Panduan Lengkap Penanggalan Masehi dan Hijriah
Penanggalan Hijriah sendiri ditetapkan pada masa Khalifah Umar bin Khattab yang memilih peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Mekah ke Madinah sebagai titik awal perhitungan. Berbeda dengan kalender Masehi yang terdiri dari 365-366 hari, kalender Hijriah hanya memiliki 354-355 hari dalam setahun karena mengikuti siklus peredaran bulan (qamariah). Pergeseran ini membuat tanggal-tanggal penting Islam berpindah sekitar sepuluh hari lebih awal setiap tahunnya dalam kalender Masehi.
Dengan memahami makna dan kedudukan Muharram secara utuh, umat Muslim dapat lebih menghargai setiap momen yang ada di bulan ini. Bulan ini memberikan kesempatan unik bagi umat Islam untuk merefleksikan perjalanan spiritual, memohon ampunan, dan membuat tekad perbaikan diri.
2. Kedudukan Muharram sebagai Syahrullah dan Bulan Haram
Allah SWT menegaskan kedudukan empat bulan haram dalam Al-Qur'an. Dalam QS At-Taubah ayat 36, Allah berfirman:
إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ
"Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam bulan-bulan itu." (QS At-Taubah [9]: 36)
Rasulullah SAW merinci bahwa empat bulan tersebut adalah tiga bulan berurutan — Dzulqa'dah, Dzulhijjah, dan Muharram — serta Rajab yang berada di antara Jumada dan Sya'ban (HR al-Bukhari dan Muslim). Status Muharram sebagai salah satu bulan haram menjadikannya waktu yang sarat keberkahan sekaligus peringatan bagi umat Islam untuk menjaga ketakwaan.
Keistimewaan bulan Muharram yang paling menonjol adalah gelar "Syahrullah" (bulan Allah) yang disematkan Rasulullah SAW. Beliau bersabda:
أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ
"Puasa yang paling utama setelah Ramadan adalah puasa pada bulan Allah, yaitu Muharram. Sementara shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam." (HR Muslim)
Sebagaimana dikutip dari IslamOnline, penyandaran nama bulan ini kepada nama Allah dalam struktur gramatikal idhafah menunjukkan betapa agung dan pentingnya kedudukan bulan tersebut. Semua bulan pada hakikatnya milik Allah, namun hanya Muharram yang memperoleh penyebutan khusus sebagai "bulan Allah" — sebuah kehormatan yang tidak diberikan kepada bulan lain mana pun dalam setahun.
Menurut pandangan Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin yang dirangkum Islamtics, pelipatgandaan amal di bulan-bulan haram terjadi pada dimensi kualitas — bobot, keseriusan, dan perhitungan di sisi Allah — bukan sekadar penambahan jumlah hitungan amal. Konsekuensi ini berlaku dua arah: pahala kebaikan mendapat penghargaan lebih besar, sementara dosa memiliki beban lebih berat dibandingkan bulan-bulan biasa.
Baca juga: Mengenal Bulan Sura dalam Tradisi Jawa dan Kaitannya dengan Muharram
3. Keutamaan Puasa di Bulan Muharram
Ibadah puasa menempati posisi paling utama di antara amalan yang dianjurkan selama bulan Muharram. Rasulullah SAW sendiri menempatkan puasa Muharram pada posisi tertinggi setelah puasa wajib Ramadan, menjadikannya kesempatan emas bagi setiap Muslim untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Merujuk Greentech Apps Foundation, puasa di bulan Muharram digambarkan dalam hadis sebagai puasa terbaik setelah Ramadan. Berikut beberapa keutamaan puasa di bulan yang mulia ini:
Puasa Terbaik Setelah Ramadan. Hadis riwayat Muslim dari Abu Hurairah menegaskan bahwa puasa terbaik setelah Ramadan adalah puasa di bulan Allah, yaitu Muharram. Keutamaan ini menjadikan seluruh hari di bulan Muharram sebagai waktu yang tepat untuk memperbanyak puasa sunnah sesuai kemampuan masing-masing.
Puasa Asyura Menghapus Dosa Setahun. Berdasarkan hadis riwayat Abu Qatadah, Rasulullah SAW bersabda bahwa puasa pada Hari Asyura diharapkan dapat menghapus dosa-dosa setahun sebelumnya (HR Muslim). Keutamaan luar biasa ini menjadikan 10 Muharram sebagai hari paling ditunggu di bulan ini.
Puasa Tasu'a Sebagai Pelengkap. Dianjurkan pula berpuasa pada tanggal 9 Muharram (Tasu'a) bersamaan dengan 10 Muharram (Asyura), mengikuti keinginan Rasulullah SAW seandainya beliau masih hidup di tahun berikutnya. Kombinasi puasa Tasu'a dan Asyura ini sekaligus menjadi pembeda dengan tradisi puasa kaum Yahudi yang hanya berpuasa pada hari Asyura saja.
Opsi Puasa Tanggal 11 Muharram. Kombinasi paling utama adalah berpuasa pada tanggal 9, 10, dan 11 Muharram sekaligus. Jika tidak mampu, disunnahkan berpuasa pada tanggal 9 dan 10 Muharram. Fleksibilitas ini memudahkan setiap Muslim untuk meraih keutamaan sesuai kondisinya.
Puasa Asyura Pernah Berstatus Wajib. Sebelum kewajiban puasa Ramadan diturunkan, puasa pada Hari Asyura berstatus wajib bagi umat Islam. Setelah Ramadan diwajibkan, puasa Asyura berubah menjadi sunnah, namun banyak Muslim tetap menjalankannya karena besarnya pahala yang dijanjikan.
Puasa Sunnah Sepanjang Bulan. Meski hadis mengisyaratkan anjuran puasa di seluruh bulan Muharram, Rasulullah SAW sendiri tidak pernah berpuasa satu bulan penuh selain Ramadan. Oleh karena itu, hadis ini dipahami sebagai anjuran memperbanyak puasa sunnah selama Muharram, bukan berpuasa penuh sebulan.
Baca juga: Perbedaan Puasa Asyura dan Puasa Arafah dalam Penghapusan Dosa
4. Peristiwa Bersejarah di Hari Asyura
Hari Asyura — tanggal 10 Muharram — menyimpan signifikansi spiritual dan historis yang mendalam, memperingati serangkaian peristiwa penting dalam sejarah para nabi. Dalam Tafsir Ibnu Katsir, disebutkan bahwa bahtera Nabi Nuh AS berlabuh pada tanggal 10 Muharram setelah banjir besar yang menimpa kaumnya. Berikut sejumlah peristiwa bersejarah yang menjadikan Asyura begitu istimewa:
Penyelamatan Nabi Musa AS dan Bani Israil. Ketika Rasulullah SAW tiba di Madinah, beliau mendapati kaum Yahudi berpuasa pada Hari Asyura. Mereka menjelaskan bahwa itu adalah hari ketika Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuh mereka, lalu Nabi Musa AS berpuasa sebagai tanda syukur (HR al-Bukhari). Rasulullah SAW kemudian menyatakan bahwa umat Islam lebih berhak atas Nabi Musa, lalu beliau berpuasa dan memerintahkan para sahabat untuk ikut berpuasa.
Bahtera Nabi Nuh AS Berlabuh. Bagi umat Sunni, Asyura juga diperingati sebagai hari ketika bahtera Nabi Nuh AS berlabuh setelah banjir besar. Setelah menghadapi cobaan yang sangat berat, Nabi Nuh AS dan para pengikutnya akhirnya menemukan keselamatan pada hari yang penuh berkah ini.
Tobat Nabi Adam AS Diterima. Menurut riwayat yang tersebar di kalangan ulama, Allah SWT menerima tobat Nabi Adam AS pada hari Asyura setelah memakan buah yang dilarang. Peristiwa ini menjadi simbol bahwa pintu ampunan Allah selalu terbuka bagi hamba-Nya yang bertobat dengan sungguh-sungguh.
Berbagai Peristiwa Kenabian Lainnya. Tradisi Islam juga mengaitkan Asyura dengan penyelamatan Nabi Ibrahim AS dari kobaran api, dibebaskannya Nabi Yusuf AS dari penjara, disembuhkannya Nabi Ayyub AS dari penyakit, serta keluarnya Nabi Yunus AS dari perut ikan. Meski sebagian riwayat tentang peristiwa-peristiwa ini masih diperdebatkan kekuatannya, secara kolektif mereka menunjukkan bahwa Asyura adalah hari pertolongan Allah bagi hamba-hamba-Nya yang beriman.
Syahidnya Husain bin Ali di Karbala. Tanggal 10 Muharram juga memiliki makna mendalam terkait peristiwa syahidnya Husain bin Ali, cucu Rasulullah SAW, di Karbala. Bagi Muslim Sunni maupun Syiah, penderitaan dan kesyahidan Husain menjadi simbol pengorbanan dalam perjuangan menegakkan kebenaran melawan kebatilan.
Baca juga: Sejarah dan Makna di Balik Nama-Nama Bulan dalam Islam
5. Amalan Sunnah yang Dianjurkan Selama Bulan Muharram
Keistimewaan bulan Muharram tidak akan bermakna tanpa diiringi amal nyata. Selain puasa, terdapat beragam amalan sunnah yang dapat dilakukan untuk mengoptimalkan keberkahan bulan ini. Dalam kitab Kanzun Naja was Surur fi Ad'iyyati Tasyrahus Shudur, Syekh Abdul Hamid menghimpun dua belas amalan yang dianjurkan saat Asyura dan bulan Muharram secara umum.
Memperbanyak Sedekah. Di bulan Muharram, umat Islam didorong untuk meningkatkan amal kebaikan, termasuk memberikan sedekah secara rutin. Berbagi rezeki di awal tahun Hijriah dipercaya menghadirkan keberkahan sepanjang tahun.
Shalat Malam (Qiyamul Lail). Hadis riwayat Muslim menyebutkan bahwa shalat paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam. Melaksanakan tahajud di bulan Muharram menjadi cara efektif untuk mendekatkan diri kepada Allah di waktu-waktu yang tenang dan penuh kekhusyukan.
Memperbanyak Tilawah Al-Qur'an. Suasana spiritual yang meningkat selama Muharram mendorong umat Islam untuk memperbanyak berbagai bentuk ibadah, termasuk membaca Al-Qur'an. Membuat target harian untuk tilawah bisa menjadi resolusi sederhana namun berdampak besar.
Dzikir dan Istighfar. Memperbanyak mengingat Allah melalui dzikir dan memohon ampunan melalui istighfar sangat dianjurkan di bulan yang mulia ini. Status Muharram sebagai bulan haram menjadikan setiap amal ibadah, sekecil apa pun, memiliki nilai lebih tinggi.
Menyantuni Anak Yatim. Mengusap kepala anak yatim dan memberikan perhatian kepada mereka termasuk amalan yang disebutkan para ulama untuk Hari Asyura. Kepedulian sosial semacam ini mencerminkan semangat Islam yang menyeluruh.
Menambah Nafkah Keluarga. Memberikan nafkah lebih kepada keluarga di bulan Muharram merupakan bentuk syukur atas limpahan rezeki dari Allah SWT. Amalan ini juga mempererat ikatan kasih sayang antaranggota keluarga.
Menyambung Silaturahmi. Mempererat hubungan dengan kerabat dan sesama Muslim menjadi amalan penting yang sering dilupakan. Bulan Muharram adalah momentum tepat untuk memperbaiki hubungan yang renggang dan menjalin kembali tali persaudaraan.
Muhasabah dan Introspeksi Diri. Sebagai penanda tahun baru Hijriah, Muharram menjadi waktu paling ideal untuk muhasabah diri — mengevaluasi seluruh aspek kehidupan dan merumuskan target perbaikan untuk tahun mendatang. Panduan lengkap tentang muhasabah dapat membantu menyusun langkah-langkah praktis menuju pribadi yang lebih baik.
Persiapan menyambut Muharram bukan sekadar perencanaan logistik, melainkan juga kesiapan mental, emosional, dan spiritual. Meluangkan waktu untuk perenungan, tilawah Al-Qur'an, dan dzikir akan memperdalam pengalaman spiritual. Membuat jurnal target ibadah selama Muharram juga bisa menjadi langkah awal yang baik.
Baca juga: Panduan Amalan Sunnah dan Keutamaannya di Bulan-Bulan Istimewa
6. FAQ Seputar Keistimewaan Bulan Muharram
Apa keistimewaan utama bulan Muharram dibandingkan bulan-bulan lainnya?
Muharram disebut sebagai "bulan Allah" (Syahrullah) — gelar kehormatan yang tidak diberikan kepada bulan lain selain Ramadan. Bulan ini juga termasuk salah satu dari empat bulan haram di mana pahala kebaikan dilipatgandakan dan dosa memiliki konsekuensi lebih berat. Kehadiran Hari Asyura pada tanggal 10 Muharram yang kaya akan sejarah kenabian menambah keistimewaan bulan ini secara keseluruhan.
Mengapa puasa di bulan Muharram sangat dianjurkan?
Rasulullah SAW secara tegas menyebutkan bahwa puasa Muharram adalah puasa sunnah terbaik setelah puasa Ramadan (HR Muslim). Secara khusus, puasa Asyura pada tanggal 10 Muharram diyakini dapat menghapus dosa-dosa kecil setahun sebelumnya. Dianjurkan untuk menambahkan puasa Tasu'a (9 Muharram) agar berbeda dengan tradisi puasa kaum terdahulu pada hari yang sama.
Selain puasa, amalan apa saja yang bisa dilakukan di bulan Muharram?
Umat Islam dapat memperbanyak sedekah, shalat malam (tahajud), tilawah Al-Qur'an, dzikir, istighfar, menyantuni anak yatim, menambah nafkah keluarga, serta menyambung silaturahmi. Muharram juga menjadi momentum terbaik untuk melakukan muhasabah diri dan merumuskan resolusi ibadah untuk tahun Hijriah yang baru.
Memasuki tahun baru Hijriah, setiap Muslim patut bertanya kepada dirinya sendiri: sudahkah tahun yang berlalu mendekatkan diri kepada Allah? Pertanyaan sederhana ini bisa menjadi titik awal perjalanan spiritual yang lebih bermakna di bulan pertama kalender Islam ini.
Daftar Referensi
- About Islam. The First Month of the Year – Why Is It Called Muharram? Diakses pada 15 Juni 2026, dari https://aboutislam.net/reading-islam/understanding-islam/the-first-month-of-the-year-why-its-called-muharram/
- Muslim.sg. Rajab: The Forgotten Sacred Month. Diakses pada 15 Juni 2026, dari https://muslim.sg/articles/rajab-the-forgotten-sacred-month
- IslamOnline. Virtues of the Month of Muharram. Diakses pada 15 Juni 2026, dari https://fiqh.islamonline.net/en/virtues-of-the-month-of-muharram/
- Islamtics. The Four Sacred Months in Islam (Al-Ashhur Al-Hurum). Diakses pada 15 Juni 2026, dari https://islamtics.com/four-sacred-months-in-islam/
- Greentech Apps Foundation. The Month of Muharram 2026: Virtues and To-Do Lists. Diakses pada 15 Juni 2026, dari https://gtaf.org/blog/the-month-of-muharram/
(kpl/fed)
Advertisement
D Academy 8
- Mantan Pacar SelebritiLesti Kejora & Rizky Billar Undang Rizki-Ridho DA ke Podcast, Momen Akrab Bareng











































