Bad Moms
Comedy

Bad Moms

2016 100 menit R
6.8/10
Rating 6.2/10
Sutradara
Jon Lucas Scott Moore
Penulis Skenario
Jon Lucas Scott Moore
Studio
STX Entertainment Huayi Brothers Media BillBlock Media

Amy (Mila Kunis) adalah gambaran ibu modern yang terlihat baik baik saja di luar, tetapi sebenarnya kelelahan secara mental dan fisik. Setiap hari hidupnya dipenuhi jadwal yang padat. Ia harus mengurus dua anaknya, mengantar ke sekolah, memastikan nilai mereka bagus, menyiapkan makanan sehat, bekerja penuh waktu, dan tetap tampil sebagai ibu yang dianggap sempurna. Di rumah, Amy juga harus menghadapi suami yang lebih sibuk dengan dunianya sendiri dan perlahan tidak lagi terlibat dalam urusan keluarga.

Tekanan semakin terasa ketika lingkungan sekolah anak anaknya dipenuhi standar yang tinggi. Para ibu berlomba menjadi yang paling ideal, paling rapi, paling aktif, dan paling peduli. Amy merasa tidak pernah cukup. Apa pun yang ia lakukan selalu terasa salah atau kurang. Ia mulai mempertanyakan kenapa menjadi ibu harus sesempurna itu, sementara kelelahan dan perasaan terabaikan tidak pernah benar benar dibicarakan.

Di sekolah, Amy berhadapan dengan Gwendolyn James (Christina Applegate), ketua komunitas ibu sekolah yang tampil anggun, disiplin, dan sangat dominan. Gwendolyn mewakili standar ibu ideal yang membuat Amy dan banyak ibu lain merasa terintimidasi. Setiap kegiatan sekolah diatur dengan ketat, penuh aturan, dan tidak memberi ruang bagi kesalahan kecil. Amy semakin merasa tertekan dan kehilangan kendali atas hidupnya sendiri.

Di tengah kekacauan itu, Amy mulai menemukan teman yang senasib. Carla (Kathryn Hahn) adalah ibu dengan kepribadian bebas, blak blakan, dan tidak peduli pada penilaian orang lain. Carla hidup dengan caranya sendiri dan menolak tunduk pada standar sosial yang menurutnya tidak masuk akal. Ada juga Kiki (Kristen Bell), ibu yang lembut, penurut, dan selama ini selalu berada di bawah bayang bayang suaminya yang dominan.

Pertemuan tiga perempuan ini menjadi titik balik. Dari obrolan sederhana tentang kelelahan dan frustrasi, muncul keberanian untuk jujur. Mereka menyadari bahwa selama ini mereka terlalu keras pada diri sendiri. Menjadi ibu ternyata sering kali berarti mengorbankan kebahagiaan pribadi demi citra yang diterima masyarakat. Kesadaran ini mendorong mereka melakukan sesuatu yang dianggap tidak pantas bagi ibu ibu pada umumnya.

Amy memutuskan untuk berhenti berusaha menjadi ibu sempurna. Ia mulai melanggar rutinitas yang selama ini mengikatnya. Ia membiarkan anak anaknya menikmati hal hal sederhana tanpa tekanan berlebihan. Ia juga mulai memikirkan kebahagiaannya sendiri. Keputusan ini memicu perubahan besar dalam hidupnya dan menarik Carla serta Kiki untuk ikut melangkah keluar dari zona aman mereka.

Kebebasan kecil itu berkembang menjadi aksi yang lebih besar. Amy, Carla, dan Kiki mulai menikmati hidup dengan cara yang selama ini mereka hindari. Mereka pergi berpesta, minum bersama, tertawa lepas, dan melakukan hal hal spontan tanpa rasa bersalah. Di balik tawa dan kekacauan, ada perasaan lega karena akhirnya mereka merasa hidup sebagai diri sendiri, bukan sebagai peran yang harus dimainkan.

Namun kebebasan ini tidak datang tanpa konsekuensi. Lingkungan sekolah mulai bereaksi. Gwendolyn merasa otoritasnya terancam. Ia melihat perubahan Amy sebagai ancaman terhadap tatanan yang selama ini ia jaga. Konflik pun tak terhindarkan. Persaingan antara Amy dan Gwendolyn semakin terbuka dan melibatkan banyak ibu lain yang diam diam juga merasa lelah dengan standar yang ada.

Amy berada di persimpangan sulit. Di satu sisi, ia menikmati hidup yang lebih jujur dan bebas. Di sisi lain, ia harus menghadapi tekanan sosial, konflik dengan sekolah, dan kebingungan anak anaknya yang ikut merasakan perubahan ini. Hubungannya dengan suami pun semakin diuji karena ia tidak lagi mau menjadi pihak yang selalu mengalah.

Sementara itu, Carla menunjukkan sisi emosional yang jarang terlihat. Di balik sikap santainya, ia menyimpan luka dan ketakutan akan keterikatan. Kiki juga perlahan belajar bersuara dan menyadari bahwa ia berhak dihargai, bukan hanya oleh orang lain tetapi juga oleh dirinya sendiri. Ketiganya saling menguatkan dan menjadi tempat aman untuk jujur tanpa takut dihakimi.

Ketegangan mencapai puncaknya saat komunitas sekolah menggelar acara besar yang mempertaruhkan posisi dan pengaruh. Amy dipaksa memilih apakah ia akan kembali ke pola lama demi kenyamanan sosial atau tetap berdiri dengan prinsip barunya meski berisiko dikucilkan. Pilihan ini tidak hanya menentukan posisinya di sekolah, tetapi juga cara ia memandang dirinya sendiri sebagai ibu dan perempuan.

Bad Moms bergerak sebagai kisah tentang tekanan sosial yang sering kali dibungkus dengan tuntutan kesempurnaan. Di balik humor yang frontal dan situasi yang berlebihan, tersimpan realitas yang dekat dengan banyak orang. Film ini memperlihatkan bahwa menjadi ibu tidak selalu berarti kehilangan identitas diri. Ada ruang untuk lelah, marah, dan menikmati hidup tanpa harus merasa bersalah.

Amy belajar bahwa kebahagiaan pribadi bukan musuh dari tanggung jawab. Justru dengan jujur pada diri sendiri, ia bisa menjadi ibu yang lebih hadir dan manusiawi. Carla dan Kiki pun menemukan versi diri mereka yang lebih berani. Persahabatan mereka menjadi fondasi untuk menghadapi tekanan sosial yang selama ini membungkam suara banyak ibu.

Pada akhirnya, perjuangan ini bukan tentang siapa ibu terbaik, tetapi tentang keberanian untuk mendefinisikan kebahagiaan dengan cara sendiri. Pertanyaannya, beranikah Amy dan kedua sahabatnya terus mempertahankan pilihan hidup mereka saat dunia di sekitarnya menuntut mereka kembali ke standar lama?

Penulis Artikel: Anastashia Gabriel

Mila Kunis Amy
Kathryn Hahn Carla
Kristen Bell Kiki
Christina Applegate Gwendolyn
Jada Pinkett Smith Stacy
Annie Mumolo Vicky
Oona Laurence Jane
Emjay Anthony Dylan
David Walton Mike
Clark Duke Dale Kipler

Jadwal Film