Concussion
Biography Drama Sport

Concussion

2015 123 menit PG-13
7.8/10
Rating 7.1/10
Sutradara
Peter Landesman
Penulis Skenario
Peter Landesman Jeanne Marie Laskas
Studio
LStar Capital Scott Free Productions The Cantillon Company

Di sebuah kota bernama Pittsburgh, dunia kedokteran forensik berjalan seperti biasa hingga sebuah kematian mendadak mengubah segalanya. Dr. Bennet Omalu (Will Smith), seorang ahli patologi kelahiran Nigeria yang dikenal tekun dan teliti, menangani jenazah seorang mantan pemain football Amerika yang meninggal secara misterius. Korban tersebut adalah Mike Webster (David Morse), legenda lapangan yang semasa hidupnya dipuja publik, namun di tahun tahun terakhir justru hidup dalam kondisi memprihatinkan. Ia mengalami gangguan perilaku, sering lupa, emosinya tidak stabil, dan kesehatannya terus menurun hingga akhirnya meninggal dunia.

Sebagai dokter forensik, Omalu terbiasa bekerja dengan fakta, bukan asumsi. Hasil otopsi awal tidak menunjukkan adanya penyebab kematian yang jelas. Namun rasa penasaran mendorongnya untuk melakukan pemeriksaan lebih mendalam pada otak Mike Webster. Di balik prosedur yang jarang dilakukan dan penuh risiko profesional, Omalu menemukan sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Jaringan otak Webster menunjukkan kerusakan serius akibat benturan berulang yang terjadi selama bertahun tahun bermain football.

Temuan ini menjadi awal dari perjalanan panjang yang penuh konflik. Omalu menyadari bahwa kerusakan tersebut bukan kasus tunggal. Ia mulai meneliti rekam medis pemain football lain yang mengalami nasib serupa. Polanya konsisten. Pukulan demi pukulan yang dianggap normal dalam olahraga justru meninggalkan dampak fatal dalam jangka panjang. Omalu memberi nama kondisi ini sebagai CTE, sebuah gangguan degeneratif pada otak yang berkembang secara perlahan dan memengaruhi emosi, ingatan, serta perilaku seseorang.

Dalam proses penelitiannya, Omalu bekerja bersama Dr. Julian Bailes (Alec Baldwin), seorang ahli bedah saraf yang juga pernah terlibat dalam dunia football. Bailes memahami kerasnya olahraga tersebut dan dampaknya bagi para pemain, namun temuan Omalu tetap mengejutkannya. Keduanya berusaha menyusun data ilmiah agar hasil penelitian ini bisa dipublikasikan dan diketahui dunia medis.

Namun perjuangan mereka tidak semudah itu. Penelitian tersebut menyentuh kepentingan besar National Football League atau NFL, organisasi olahraga raksasa yang memiliki pengaruh luas dan kekuatan finansial yang nyaris tak tertandingi. Ketika hasil riset Omalu mulai dipresentasikan dalam jurnal ilmiah, respons yang muncul justru penolakan dan tekanan. NFL meragukan metode penelitian, menyerang kredibilitas Omalu, dan berusaha meredam penyebaran informasi tersebut.

Bagi Omalu, ini bukan sekadar perdebatan ilmiah. Ia melihat para pemain sebagai manusia, bukan sekadar atlet hiburan. Banyak dari mereka mengorbankan tubuh dan pikirannya demi kejayaan olahraga, tanpa pernah diberi pemahaman tentang risiko jangka panjang. Keyakinan moral inilah yang membuat Omalu bertahan meski posisinya semakin terpojok.

Tekanan datang dari berbagai arah. Karier Omalu terancam. Reputasinya dipertanyakan. Bahkan imigrasinya sebagai warga negara asing di Amerika Serikat ikut disorot. Ia dianggap sebagai sosok yang menentang sistem dan merusak citra olahraga nasional. Di tengah badai tersebut, Omalu tetap berpegang pada sumpah profesinya sebagai dokter. Kebenaran medis, menurutnya, tidak boleh dikalahkan oleh kepentingan apa pun.

Dukungan datang dari orang orang terdekat. Cyril Wecht (Albert Brooks), atasan Omalu di kantor pemeriksa medis, memberikan perlindungan dan kepercayaan meski tahu risikonya besar. Sementara itu, Prema Mutiso (Gugu Mbatha Raw), perempuan yang kemudian menjadi istrinya, hadir sebagai penopang emosional di saat Omalu mulai meragukan pilihannya sendiri. Hubungan mereka berkembang di tengah tekanan publik dan ketidakpastian masa depan.

Seiring waktu, semakin banyak kasus serupa bermunculan. Mantan pemain football mengalami depresi berat, kekerasan dalam rumah tangga, hingga bunuh diri. Semua gejala itu mengarah pada satu kesimpulan yang sama. Olahraga yang selama ini dianggap penuh kebanggaan menyimpan sisi gelap yang tidak pernah dibicarakan secara terbuka. Omalu merasa bertanggung jawab untuk terus bersuara, meski harus berdiri sendirian melawan institusi sebesar NFL.

Konflik memuncak ketika NFL secara terbuka menolak hasil penelitian Omalu dan mencoba mematahkan argumennya di forum ilmiah. Omalu diperlakukan bukan sebagai ilmuwan, melainkan sebagai ancaman. Namun perlahan, kebenaran mulai menemukan jalannya. Peneliti lain mengonfirmasi temuan tersebut. Diskusi tentang keselamatan pemain mulai muncul ke permukaan. Dunia olahraga tidak lagi bisa menutup mata.

Bagi Omalu, kemenangan bukan soal pengakuan pribadi. Ia hanya ingin para pemain dan keluarganya mengetahui risiko yang mereka hadapi. Ia ingin olahraga tetap ada, namun dengan kesadaran dan perlindungan yang lebih baik. Di balik jas lab dan data medis, Omalu adalah manusia yang percaya bahwa satu suara pun bisa membawa perubahan, asalkan tidak berhenti bersuara.

Perjalanan ini mengubah hidupnya selamanya. Dari seorang dokter yang bekerja di balik layar, ia menjadi simbol perlawanan terhadap pembungkaman kebenaran. Pilihannya untuk jujur membawa konsekuensi besar, namun juga membuka jalan bagi diskusi global tentang kesehatan atlet dan tanggung jawab industri olahraga.

Apakah kebenaran medis bisa benar benar bertahan ketika berhadapan dengan kekuasaan dan uang yang begitu besar?

Penulis Artikel: Anastashia Gabriel

Will Smith Dr. Bennet Omalu
Alec Baldwin Dr. Julian Bailes
Albert Brooks Dr. Cyril Wecht
David Morse Mike Webster
Gugu Mbatha-Raw Prema Mutiso
Arliss Howard Dr. Joseph Maroon
Mike O'Malley Daniel Sullivan
Eddie Marsan Dr. Steven DeKosky
Hill Harper Christopher Jones
Adewale Akinnuoye-Agbaje Dave Duerson

Jadwal Film