Gods of Egypt
Action Adventure Drama

Gods of Egypt

2016 127 menit PG-13
5.9/10
Rating 5.4/10
Sutradara
Alex Proyas
Penulis Skenario
Matt Sazama Burk Sharpless
Studio
Pyramania Summit Entertainment Le Vision Pictures

Kisah epik ini dibuka di Mesir kuno yang digambarkan sebagai negeri megah tempat para dewa hidup berdampingan dengan manusia. Para dewa berjalan di antara rakyat, memerintah dengan kekuatan besar, dan menjaga keseimbangan dunia. Di tengah kemakmuran itu, Brenton Thwaites (Bek) hidup sebagai manusia biasa yang cerdas, cepat berpikir, dan penuh rasa ingin tahu. Ia tumbuh sebagai pencuri jalanan, bertahan hidup dengan kecerdikan dan keberanian. Meski statusnya hanya manusia fana, Bek memiliki satu hal yang membuatnya berbeda, tekad untuk melindungi orang yang ia cintai dan keberanian untuk menantang takdir.

Hari besar Mesir tiba ketika kerajaan bersiap menyambut penobatan dewa pelindung baru. Nikolaj Coster-Waldau (Horus) hadir sebagai pewaris sah takhta Osiris, ayahnya, yang telah lama memerintah dengan adil. Upacara sakral ini seharusnya menjadi simbol kesinambungan dan kedamaian. Namun suasana berubah mencekam ketika Gerard Butler (Set), saudara Osiris yang dikenal sebagai dewa kegelapan dan kekacauan, datang tanpa diundang. Set membawa amarah lama dan ambisi yang tidak pernah padam.

Dalam satu momen penuh kekerasan, Set merebut takhta dengan cara paling brutal. Osiris tewas, dan Horus dilucuti dari kekuatannya dengan cara yang kejam. Mata Horus dicabut, membuatnya kehilangan sebagian besar kekuatan ilahinya. Set kemudian menguasai Mesir, menindas para dewa lain, dan memaksa manusia hidup dalam ketakutan. Negeri yang dulu makmur perlahan berubah menjadi wilayah penuh penderitaan, di mana harapan terasa semakin jauh.

Di tengah kekacauan itu, kehidupan Bek juga hancur. Kekasihnya, Courtney Eaton (Zaya), menjadi korban langsung dari kekejaman rezim baru. Kehilangan tersebut memicu amarah dan rasa putus asa dalam diri Bek. Ia sadar bahwa sebagai manusia biasa, ia tidak memiliki kekuatan untuk melawan Set secara langsung. Namun rasa kehilangan justru menumbuhkan keberanian nekat. Bek memutuskan melakukan hal yang mustahil, mencuri kembali mata Horus dengan harapan bisa mengembalikan kekuatan dewa tersebut.

Pertemuan Bek dan Horus menjadi titik awal aliansi yang tidak terduga. Horus yang jatuh dari kejayaannya awalnya memandang rendah Bek. Ia masih terjebak dalam kesombongan dan rasa marah karena kehilangan kekuasaan. Namun Bek tidak gentar. Ia memaksa Horus melihat penderitaan manusia yang disebabkan oleh perang para dewa. Perlahan, hubungan mereka berkembang dari sekadar kerja sama terpaksa menjadi ikatan saling percaya.

Perjalanan mereka penuh rintangan. Untuk mengalahkan Set, Horus harus memulihkan kekuatan dan menghadapi rasa takutnya sendiri. Bek menjadi pengingat konstan bahwa keberanian tidak selalu datang dari kekuatan fisik, melainkan dari kesediaan mengambil risiko demi orang lain. Dalam perjalanan ini, mereka bertemu Chadwick Boseman (Thoth), dewa kebijaksanaan yang hidup terasing dan menyimpan pengetahuan penting tentang bagaimana Set bisa dikalahkan. Thoth menjadi penyeimbang antara logika dan emosi, membantu mereka memahami bahwa kemenangan membutuhkan lebih dari sekadar kekuatan.

Sementara itu, Elodie Yung (Hathor), dewi cinta dan istri Horus, juga berjuang dengan caranya sendiri. Ia harus menyamar dan beradaptasi demi bertahan hidup di bawah kekuasaan Set. Kesetiaannya kepada Horus diuji, begitu pula keyakinannya pada cinta yang selama ini ia percayai. Di sisi lain, Geoffrey Rush (Ra), dewa matahari, menjalani pertarungan abadi melawan kekuatan kegelapan setiap malam. Ra menyadari bahwa kekacauan di bumi berdampak langsung pada keseimbangan kosmik.

Set semakin menunjukkan wajah aslinya sebagai penguasa kejam. Ia menuntut pengorbanan dari manusia demi memperpanjang kekuasaannya. Set tidak hanya ingin memerintah Mesir, tetapi juga berniat menggulingkan Ra dan menguasai seluruh alam semesta. Ambisi ini menjadikannya ancaman yang jauh lebih besar daripada sekadar tiran duniawi.

Bek dan Horus harus melewati serangkaian ujian yang menguras fisik dan mental. Dari gurun berbahaya hingga kuil kuno penuh jebakan, setiap langkah membawa risiko kematian. Bek sering kali menjadi penyelamat Horus dalam situasi kritis, membuktikan bahwa kecerdikan manusia mampu menandingi kekuatan dewa. Sebaliknya, Horus mulai belajar tentang empati, sesuatu yang selama ini asing baginya sebagai dewa.

Konflik mencapai puncaknya ketika rencana Set hampir berhasil. Mesir berada di ambang kehancuran total. Horus dihadapkan pada pilihan sulit, mempertahankan ego dan dendam atau berkorban demi keseimbangan dunia. Bek juga harus menghadapi kenyataan pahit tentang harga yang harus dibayar untuk sebuah harapan.

Pertarungan terakhir bukan sekadar adu kekuatan, tetapi juga benturan nilai dan keyakinan. Para dewa dan manusia akhirnya berdiri di garis yang sama, menyadari bahwa masa depan Mesir tidak bisa ditentukan oleh satu makhluk saja. Keberanian Bek, pengorbanan Horus, dan pilihan pilihan sulit yang mereka ambil menjadi penentu nasib dunia.

Di akhir perjalanan, Mesir tidak hanya mencari pemimpin baru, tetapi juga arah baru. Hubungan antara dewa dan manusia berubah selamanya. Bek membuktikan bahwa meski fana, manusia memiliki peran besar dalam menjaga keseimbangan. Horus pun menemukan makna sejati menjadi pelindung, bukan sebagai penguasa yang ditakuti, melainkan sebagai pemimpin yang memahami pengorbanan.

Ketika debu peperangan mereda dan cahaya kembali menyinari Mesir, satu pertanyaan tersisa, apakah keberanian manusia dan kebijaksanaan dewa cukup kuat untuk mencegah kekacauan serupa terulang kembali?

Penulis Artikel: Anastashia Gabriel

Brenton Thwaites Bek
Nikolaj Coster-Waldau Horus
Gerard Butler Set
Chadwick Boseman Thoth
John Samaha Vendor
Courtney Eaton Zaya
Paula Arundell Fussy Older Maidservant
Alia Seror-O'Neill First Young Maidservant
Emily Wheaton Second Younger Maidservant
Elodie Yung Hathor