Green Room
Crime Horror Music

Green Room

2016 95 menit R
7.7/10
Rating 7/10
Sutradara
Jeremy Saulnier
Penulis Skenario
Jeremy Saulnier
Studio
Broad Green Pictures Film Science

Anton Yelchin (Pat) adalah vokalis sekaligus gitaris dari sebuah band punk kecil yang hidup serba pas pasan. Bersama rekan bandnya Alia Shawkat (Sam), Joe Cole (Reece), dan Callum Turner (Tiger), Pat menjalani hari hari dengan berpindah dari satu panggung kecil ke panggung lain tanpa kepastian. Mereka tinggal di van tua, berbagi rokok, mie instan, dan mimpi sederhana untuk tetap bermain musik meski dunia terasa tidak ramah. Musik bagi mereka bukan soal popularitas, melainkan cara bertahan hidup.

Suatu malam, band ini menerima tawaran manggung mendadak di sebuah bar terpencil di kawasan pedalaman. Tempat itu dikenal sebagai markas komunitas skinhead neo Nazi. Tawaran tersebut datang dari kontak yang tidak mereka kenal dengan baik, namun karena kehabisan uang dan butuh bensin, mereka menerimanya. Pat dan kawan kawan sadar bahwa panggung itu berisiko, tetapi mereka memilih percaya bahwa musik bisa menjadi jalan aman selama mereka tampil profesional.

Setibanya di lokasi, suasana bar langsung terasa mencekam. Pengunjungnya dingin, penuh tato simbol kebencian, dan memandang band tersebut dengan tatapan curiga. Mereka tetap naik panggung dan memainkan lagu lagu punk dengan energi penuh. Bahkan, sebagai bentuk sikap, mereka membawakan lagu yang jelas menyuarakan perlawanan terhadap ideologi ekstrem. Reaksi penonton tidak sepenuhnya bersahabat, namun pertunjukan tetap berjalan hingga selesai.

Masalah justru muncul setelah mereka turun panggung dan menuju ruang belakang atau green room. Di ruangan sempit itu, Pat tanpa sengaja menyaksikan sebuah pembunuhan brutal terhadap seorang perempuan muda. Kekerasan itu terjadi begitu cepat dan tanpa ragu. Pat membeku, sementara pelaku dan orang orang di sekitarnya langsung sadar bahwa ada saksi mata yang tidak seharusnya berada di sana.

Sejak saat itu, band punk ini terjebak dalam situasi yang jauh lebih berbahaya daripada sekadar konser gagal. Mereka dikurung di dalam ruang belakang, dijaga ketat oleh anggota komunitas neo Nazi yang tidak ingin ada satu pun saksi keluar hidup hidup. Ponsel mereka disita, pintu dikunci, dan setiap upaya komunikasi dengan dunia luar diputus.

Situasi semakin rumit ketika Patrick Stewart (Darcy), pemimpin kelompok neo Nazi, turun tangan langsung. Darcy adalah sosok tenang, cerdas, dan sangat terorganisir. Ia tidak berteriak atau bertindak sembrono, justru ketenangannya membuat ancaman terasa lebih nyata. Darcy melihat band ini bukan sebagai musuh pribadi, melainkan sebagai masalah yang harus diselesaikan secara sistematis.

Di dalam green room, Pat dan kawan kawan mencoba menyusun rencana keluar. Mereka sadar bahwa negosiasi hampir mustahil. Setiap langkah salah bisa berujung kematian. Ketegangan meningkat ketika salah satu anggota band mengalami luka parah akibat upaya melawan penjaga. Darah, rasa sakit, dan kepanikan membuat situasi semakin tak terkendali.

Alia Shawkat (Sam) berusaha tetap berpikir jernih. Ia menjadi salah satu penyeimbang emosi di tengah ketakutan. Sementara itu, Reece dan Tiger bergulat dengan rasa marah dan dorongan untuk menyerang balik. Mereka bukan petarung, hanya anak anak band yang terbiasa melawan dunia lewat musik, bukan kekerasan fisik.

Upaya melarikan diri pertama berakhir tragis. Kekejaman yang mereka hadapi tidak memberi ruang untuk kesalahan. Setiap kegagalan dibalas dengan tindakan brutal yang membuat mereka semakin sadar bahwa nyawa mereka benar benar di ujung tanduk. Ruang gerak semakin sempit, dan pilihan semakin terbatas.

Dalam kondisi terdesak, band ini mulai memanfaatkan apa pun yang ada di sekitar mereka. Alat musik, kabel, pintu, bahkan api menjadi alat bertahan hidup. Mereka tidak lagi memikirkan moral atau aturan, yang ada hanya satu tujuan yakni keluar hidup hidup dari tempat itu. Ketakutan perlahan berubah menjadi naluri bertahan yang liar dan putus asa.

Di sisi lain, Darcy terus mengatur situasi dari luar dengan kepala dingin. Ia memberi perintah tanpa emosi, memastikan bahwa tidak ada saksi yang lolos. Cara kerjanya yang rapi justru membuat kekerasan terasa lebih menyeramkan. Tidak ada kemarahan berlebihan, hanya keputusan dingin yang menentukan hidup dan mati.

Seiring berjalannya waktu, ketegangan mencapai puncaknya. Kepercayaan antar anggota band diuji. Ketika satu orang terluka parah, yang lain harus memutuskan apakah akan menyelamatkan atau meninggalkan. Pilihan pilihan sulit muncul tanpa jeda, memaksa mereka dewasa dalam waktu singkat.

Pat, yang sejak awal cenderung pendiam, perlahan muncul sebagai sosok yang lebih berani. Ia tidak berubah menjadi pahlawan sempurna, tetapi ia belajar mengambil keputusan cepat dalam situasi ekstrem. Rasa takutnya tidak hilang, namun ia tidak lagi membiarkannya melumpuhkan diri.

Lingkaran kekerasan semakin menyempit. Satu per satu anggota kelompok neo Nazi juga mulai tumbang, membuktikan bahwa korban yang terpojok bisa melawan ketika tidak ada lagi yang bisa hilang. Namun, setiap kemenangan kecil selalu dibayar mahal dengan luka fisik dan trauma mental.

Saat fajar mulai mendekat, pertarungan terakhir semakin tak terelakkan. Band punk ini menyadari bahwa satu satunya jalan keluar adalah menghadapi sumber ancaman secara langsung. Tidak ada jaminan hidup, tidak ada kepastian siapa yang akan tersisa. Yang ada hanya keberanian terakhir untuk tidak mati sebagai korban yang pasrah.

Ketika pintu akhirnya terbuka dan kebenaran terungkap di luar bar itu, dunia mungkin tidak akan pernah tahu detail apa yang terjadi di dalam. Bagi Pat dan kawan kawan, malam itu menjadi garis pemisah antara hidup sebelum dan sesudah. Musik, kekerasan, dan rasa takut bercampur menjadi pengalaman yang tidak akan pernah hilang.

Di tengah darah dan puing puing, satu pertanyaan tersisa yang menghantui, jika kamu terjebak di ruang sempit dengan orang orang yang siap membunuhmu tanpa ragu, seberapa jauh kamu sanggup melawan demi bertahan hidup?

Penulis Artikel: Anastashia Gabriel

Anton Yelchin Pat
Imogen Poots Amber
Alia Shawkat Sam
Patrick Stewart Darcy
Joe Cole Reece
Callum Turner Tiger
David Thompson Tad
Mark Webber Daniel
Macon Blair Gabe
Eric Edelstein Big Justin