The Danish Girl
Biography Drama

The Danish Girl

2016 119 menit R
7.8/10
Rating 7.1/10
Sutradara
Tom Hooper
Penulis Skenario
Lucinda Coxon David Ebershoff
Studio
Working Title Films Pretty Pictures ReVision Pictures

Lili (Eddie Redmayne) menjalani kehidupan yang tampak tenang sebagai seorang pelukis lanskap di Kopenhagen pada awal abad ke dua puluh. Ia hidup bersama istrinya, Gerda Wegener (Alicia Vikander), seorang seniman potret yang penuh ambisi dan keberanian. Pernikahan mereka terlihat hangat, akrab, dan dipenuhi rasa saling mendukung. Keduanya sering menghabiskan waktu di studio, berdiskusi tentang seni, dan saling menjadi sumber inspirasi satu sama lain. Di balik keseharian yang tampak sederhana itu, ada kegelisahan yang belum sepenuhnya dipahami oleh Lili.

Suatu hari, ketika seorang model perempuan tidak dapat hadir, Gerda meminta Lili untuk mengenakan gaun dan sepatu balet agar ia bisa menyelesaikan lukisannya. Permintaan itu awalnya dianggap sebagai permainan kecil yang tidak berbahaya. Namun saat Lili mengenakan pakaian tersebut, muncul perasaan asing yang justru terasa sangat akrab. Gerakan tubuh, sentuhan kain di kulit, dan bayangan diri di cermin memunculkan sisi lain dari dirinya yang selama ini tersembunyi. Dari momen sederhana itulah, identitas Lili perlahan mulai terbangun.

Gerda melihat perubahan itu sebagai sesuatu yang menarik dan penuh potensi artistik. Ia mulai melukis Lili sebagai sosok perempuan, yang kemudian dikenal dengan nama Lili Elbe. Lukisan lukisan tersebut justru mendapat perhatian besar dan membuka peluang baru bagi Gerda di dunia seni. Lili pun mulai tampil di ruang publik sebagai perempuan, awalnya dalam konteks seni dan pesta kecil. Setiap kali ia hadir sebagai Lili, rasa nyaman dan keutuhan diri semakin kuat, meski diiringi kebingungan dan ketakutan.

Hubungan Lili dan Gerda mengalami perubahan yang kompleks. Gerda bukan hanya istri, tetapi juga saksi pertama perjalanan batin Lili. Ia mencoba memahami apa yang sedang terjadi, meski harus berhadapan dengan perasaan kehilangan terhadap sosok suami yang selama ini ia kenal. Di sisi lain, Gerda juga menyadari bahwa Lili bukanlah sebuah peran, melainkan bagian sejati dari diri pasangannya. Cinta mereka diuji bukan oleh pengkhianatan, melainkan oleh perubahan identitas yang menuntut kejujuran dan keberanian.

Ketika mereka pindah ke Paris, ruang untuk mengekspresikan diri terasa lebih terbuka. Lili semakin sering hadir sebagai perempuan dan mulai mempertanyakan kehidupannya selama ini. Ia merasa tubuhnya tidak lagi sejalan dengan jiwanya. Kebingungan ini memunculkan tekanan psikologis yang berat. Beberapa dokter yang ditemuinya justru salah memahami kondisi tersebut dan menganggapnya sebagai gangguan mental. Perlakuan medis yang keliru membuat Lili semakin terpuruk dan hampir kehilangan harapan.

Di tengah situasi itu, Gerda tetap berada di sisinya, meski hubungan mereka tidak lagi berjalan seperti sebelumnya. Ia harus menerima kenyataan bahwa peran mereka sebagai pasangan suami istri berubah. Kehadiran Hans Axgil (Matthias Schoenaerts), teman lama yang tulus dan pengertian, memberi dukungan emosional bagi keduanya. Hans menjadi sosok yang membantu Lili dan Gerda menghadapi dunia yang belum siap menerima keberadaan Lili.

Perjalanan Lili menemukan titik balik ketika ia bertemu dengan dokter yang bersedia mendengarkan dan memahami kondisinya. Untuk pertama kalinya, Lili mendengar kemungkinan bahwa ia bisa menjalani hidup sesuai dengan jati dirinya. Keputusan untuk menjalani serangkaian operasi menjadi langkah besar yang penuh risiko. Pada masa itu, prosedur tersebut masih sangat baru dan berbahaya. Namun bagi Lili, risiko tersebut sebanding dengan kesempatan untuk hidup sebagai dirinya sendiri.

Gerda menghadapi dilema emosional yang berat. Mendukung Lili berarti merelakan kehidupan lama mereka. Ia harus berdamai dengan perasaan kehilangan, kecemburuan, dan kebingungan tentang perannya di masa depan. Meski demikian, cinta Gerda tidak pernah sepenuhnya hilang. Bentuknya berubah dari hubungan pernikahan menjadi kasih yang lebih luas, penuh empati, dan pengorbanan.

Proses medis yang dijalani Lili menguras fisik dan mental. Setiap tahap operasi membawa harapan sekaligus ancaman. Tubuhnya melemah, tetapi tekadnya semakin kuat. Ia mulai membayangkan masa depan sebagai perempuan yang utuh, bebas dari penyamaran dan ketakutan. Dalam momen momen sunyi, Lili merefleksikan hidupnya, cinta yang ia miliki, dan harga yang harus dibayar untuk menjadi dirinya sendiri.

Gerda tetap setia mendampingi, meski harus menghadapi kenyataan pahit tentang batas kemampuan manusia. Ia menyaksikan perubahan Lili dengan perasaan campur aduk antara bangga, sedih, dan takut. Seni menjadi pelarian sekaligus cara Gerda memproses emosinya. Lukisan lukisannya menjadi saksi bisu dari perjalanan cinta yang tidak biasa.

Seiring waktu, Lili semakin yakin bahwa keputusannya adalah jalan yang benar, meski konsekuensinya sangat berat. Ia tidak lagi ingin hidup setengah setengah. Keberanian Lili bukan hanya tentang perubahan fisik, tetapi tentang keberanian menuntut hak untuk ada. Ia menjadi simbol harapan, meski tidak pernah berniat menjadi pahlawan.

Kisah ini bergerak menuju titik emosional yang mendalam, ketika cinta, identitas, dan pengorbanan saling bertemu. Lili dan Gerda harus menghadapi kenyataan bahwa tidak semua perjuangan berakhir dengan kebahagiaan yang utuh. Namun perjalanan mereka meninggalkan jejak tentang makna cinta yang tidak mengekang, keberanian untuk jujur pada diri sendiri, dan harga dari sebuah kebebasan.

Di tengah dunia yang belum siap menerima perbedaan, sampai sejauh mana seseorang berani mempertaruhkan segalanya demi hidup sebagai diri sendiri?

Penulis Artikel: Anastashia Gabriel

Eddie Redmayne Lili
Alicia Vikander Gerda
Amber Heard Ulla
Ben Whishaw Henrik
Tusse Silberg Older Woman
Adrian Schiller Rasmussen
Emerald Fennell Elsa
Henry Pettigrew Niels
Claus Bue Man at Window
Peter Krag Stage Doorman