The Neon Demon
Horror Thriller

The Neon Demon

2016 117 menit R
6.7/10
Rating 6.1/10
Sutradara
Nicolas Winding Refn
Penulis Skenario
Nicolas Winding Refn Mary Laws Polly Stenham
Studio
Space Rocket Nation Vendian Entertainment Bold Films

Jesse (Elle Fanning) tiba di Los Angeles dengan koper sederhana dan mimpi besar. Usianya masih sangat muda, wajahnya polos, dan caranya memandang dunia terlihat jujur. Ia datang sendirian tanpa keluarga, tinggal di motel murah yang sunyi dan terasa asing. Kota ini menyambutnya dengan lampu neon, jalanan panjang, dan janji tentang ketenaran yang seolah bisa diraih siapa saja. Jesse percaya kecantikannya adalah modal awal untuk bertahan hidup dan mengejar masa depan di dunia modeling yang selama ini hanya ia lihat dari majalah dan layar kaca.

Langkah awal Jesse di industri mode berjalan cepat. Seorang fotografer bernama Dean (Karl Glusman) tertarik pada auranya yang berbeda. Dean melihat Jesse bukan hanya sebagai model, tetapi sebagai sosok yang memiliki daya tarik alami. Ia membantu Jesse mendapatkan sesi pemotretan dan memperkenalkannya pada orang orang penting di dunia fashion. Di hadapan kamera, Jesse tampak seperti terlahir untuk menjadi pusat perhatian. Tatapannya polos, tetapi kuat. Kepercayaan dirinya mulai tumbuh seiring pujian yang terus ia terima.

Di balik gemerlap dunia modeling, Jesse bertemu dengan Ruby (Jena Malone), seorang penata rias dan manajer lokasi pemotretan. Ruby terlihat ramah, penuh perhatian, dan menawarkan bantuan tanpa syarat. Ia menjadi teman pertama Jesse di Los Angeles. Ruby memperkenalkan Jesse pada dua model senior, Sarah (Abbey Lee) dan Gigi (Bella Heathcote). Keduanya telah lama berkecimpung di industri ini dan memahami kerasnya persaingan. Senyum mereka manis, tetapi sorot mata mereka menyimpan sesuatu yang sulit ditebak.

Kecantikan Jesse dengan cepat mencuri perhatian para desainer dan agen. Ia mulai mendapatkan panggilan audisi yang sebelumnya sulit ia bayangkan. Dalam sebuah peragaan busana, Jesse tampil percaya diri dan memukau. Banyak orang memandangnya sebagai wajah baru yang segar, simbol kecantikan alami di tengah dunia yang dipenuhi rekayasa. Hal ini perlahan mengubah dinamika di sekitarnya. Sarah dan Gigi mulai merasa terancam. Mereka terbiasa menjadi pusat perhatian, tetapi kini sorotan kamera beralih pada Jesse.

Perubahan ini juga memengaruhi Jesse dari dalam. Ia yang awalnya lugu dan rendah hati mulai menyadari kekuatannya. Pujian demi pujian membuatnya melihat dirinya dengan cara baru. Ia mulai percaya bahwa kecantikannya memberi keunggulan yang tidak dimiliki orang lain. Dalam sebuah adegan simbolis di depan cermin, Jesse menatap pantulan dirinya dengan kagum, seolah menemukan identitas baru yang lebih berani dan dominan. Kepolosan perlahan bergeser menjadi keyakinan diri yang hampir berlebihan.

Ruby semakin dekat dengan Jesse, tetapi kedekatan itu terasa ambigu. Ada kekaguman, kecemburuan, dan obsesi yang bercampur menjadi satu. Ruby sering berada di sekitar Jesse, melindunginya, tetapi juga mengamatinya dengan tatapan intens. Di sisi lain, Dean mulai merasa tersisih. Jesse semakin tenggelam dalam dunia barunya dan menjauh dari hubungan yang dulu terasa aman.

Sarah dan Gigi tidak tinggal diam. Mereka membicarakan Jesse di belakang, mempertanyakan keaslian kecantikannya, dan mencoba merendahkan pencapaiannya. Namun industri mode tampaknya tidak peduli. Jesse terus naik, mendapatkan posisi yang lebih tinggi, dan menjadi simbol kecantikan baru. Ketegangan di antara para model semakin terasa, seolah kecantikan bukan lagi anugerah, melainkan senjata yang bisa melukai siapa saja.

Situasi berubah menjadi semakin gelap ketika Jesse mengalami peristiwa traumatis di motel tempat ia tinggal. Rasa takut dan kesepian bercampur dengan tekanan industri yang tidak pernah berhenti. Meskipun demikian, Jesse memilih bertahan dan melangkah lebih jauh. Ia menolak kembali menjadi gadis polos yang mudah digoyahkan. Dunia fashion telah mengubah cara pandangnya terhadap diri sendiri dan orang lain.

Ketika Jesse mencapai puncak perhatian, kecemburuan di sekitarnya memuncak. Ruby, Sarah, dan Gigi terjebak dalam obsesi terhadap kecantikan dan ketenaran. Batas antara kekaguman dan kebencian menjadi kabur. Dunia yang tampak glamor di permukaan berubah menjadi ruang yang kejam dan penuh hasrat gelap. Kecantikan Jesse yang semula dianggap murni kini dipandang sebagai sesuatu yang harus dimiliki atau dihancurkan.

Klimaks cerita membawa Jesse ke titik di mana kepercayaan diri berubah menjadi kesombongan. Ia merasa tak tersentuh, seolah dunia ada di bawah kendalinya. Namun keyakinan itu justru membawanya ke situasi berbahaya. Orang orang di sekitarnya tidak lagi melihatnya sebagai manusia, melainkan sebagai simbol kecantikan yang bisa dieksploitasi. Hubungan yang dibangun atas dasar iri dan obsesi akhirnya meledak dengan cara yang tak terduga.

The Neon Demon menggambarkan Los Angeles sebagai labirin cahaya dan bayangan. Di satu sisi, kota ini menjanjikan mimpi dan ketenaran. Di sisi lain, ia menelan siapa saja yang terlalu larut dalam ilusi. Jesse menjadi pusat dari pusaran ini. Perjalanannya dari gadis polos menjadi ikon kecantikan menunjukkan bagaimana industri dapat mengubah identitas seseorang secara ekstrem.

Cerita ini menyoroti bagaimana kecantikan dan usia muda dipuja sekaligus dimangsa. Setiap karakter membawa keinginan dan ketakutannya sendiri, menciptakan atmosfer yang semakin menyesakkan. Tidak ada yang benar benar aman ketika nilai seseorang ditentukan oleh penampilan semata. Ketika kekaguman berubah menjadi kecemburuan dan obsesi, batas moral pun menghilang. Sampai sejauh mana seseorang rela melangkah demi mempertahankan kecantikan dan posisi di dunia yang kejam ini?

Penulis Artikel: Anastashia Gabriel

Elle Fanning Jesse
Christina Hendricks Roberta Hoffmann
Keanu Reeves Hank
Karl Glusman Dean
Jena Malone Ruby
Bella Heathcote Gigi
Abbey Lee Sarah
Desmond Harrington Jack
Charles Baker Mikey
Jamie Clayton Casting Director