The Purge: Election Year
Action Horror Sci-Fi

The Purge: Election Year

2016 108 menit R
6.6/10
Rating 6/10
Sutradara
James DeMonaco
Penulis Skenario
James DeMonaco
Studio
Universal Pictures Platinum Dunes Blumhouse Productions

Amerika Serikat berada dalam bayang bayang kebijakan tahunan paling brutal yang pernah dilegalkan negara. Setiap tahun, selama satu malam penuh, semua bentuk kejahatan diperbolehkan tanpa konsekuensi hukum. Malam itu dikenal sebagai The Purge, sebuah ritual nasional yang diklaim mampu menjaga stabilitas, menekan angka kriminalitas, dan memperkuat tatanan sosial. Namun di balik klaim tersebut, The Purge justru menjadi alat kekuasaan yang mengorbankan kelompok lemah demi kepentingan elit penguasa.

Cerita dimulai dengan sosok Leo Barnes (Frank Grillo), mantan petugas polisi yang kini bekerja sebagai kepala keamanan pribadi. Leo pernah kehilangan anaknya pada malam Purge di masa lalu, sebuah luka yang tidak pernah benar benar sembuh. Sejak saat itu, hidupnya dipenuhi rasa bersalah dan kemarahan yang terpendam. Ia mencoba menata ulang hidup dengan bekerja melindungi orang lain, seolah keselamatan kliennya bisa menebus kegagalannya sebagai ayah.

Klien Leo kali ini bukan orang biasa. Ia adalah Senator Charlie Roan (Elizabeth Mitchell), seorang politisi vokal yang secara terbuka menentang The Purge. Trauma masa kecil membuat Charlie memiliki alasan personal untuk melawan kebijakan tersebut. Bertahun tahun lalu, ia menyaksikan seluruh keluarganya dibunuh secara brutal di hadapannya pada malam Purge. Sejak itu, Charlie bersumpah untuk menghentikan tradisi berdarah ini dari dalam sistem pemerintahan.

Charlie kini maju sebagai kandidat presiden dengan janji utama menghapus The Purge secara permanen. Popularitasnya meningkat pesat, terutama di kalangan warga kelas menengah dan bawah yang selama ini menjadi korban utama. Namun ambisinya membuat ia menjadi target besar. Partai penguasa New Founding Fathers of America melihat Charlie sebagai ancaman langsung terhadap ideologi mereka. Maka, malam Purge tahun ini berubah menjadi ajang pemburuan politik.

Menjelang dimulainya Purge, sistem keamanan Charlie mengalami sabotase. Tempat perlindungan resmi yang seharusnya aman justru dikosongkan. Leo segera menyadari bahwa ini bukan kebetulan, melainkan rencana terstruktur untuk membiarkan Charlie mati secara legal. Ketika sirene Purge berbunyi, Leo dan Charlie terpaksa melarikan diri ke jalanan Washington DC yang berubah menjadi medan teror.

Kota yang biasanya ramai kini dipenuhi kekacauan. Kelompok bersenjata berkeliaran bebas, mengenakan topeng dan kostum simbolik yang mencerminkan kebencian serta fanatisme. Target mereka jelas, siapa pun yang dianggap tidak berguna, tidak sejalan, atau mengancam tatanan elit. Leo harus menggunakan semua pengalaman tempurnya untuk bertahan hidup sambil memastikan Charlie tetap selamat.

Di tengah pelarian, mereka bertemu Joe Dixon (Mykelti Williamson), pemilik toko yang memilih bertahan di lingkungannya sendiri. Joe adalah saksi hidup bagaimana The Purge perlahan menghancurkan komunitasnya. Ia menyelamatkan Leo dan Charlie dari serangan brutal, lalu memutuskan membantu mereka bukan karena politik, melainkan karena rasa kemanusiaan yang tersisa. Bersama Joe, muncul juga Marcos (Joseph Julian Soria), mantan tentara yang memimpin kelompok perlawanan bawah tanah.

Kelompok ini membuka mata Charlie tentang sisi lain Purge yang jarang terlihat di media resmi. Bukan sekadar aksi kekerasan spontan, tetapi pembantaian terencana terhadap kaum miskin melalui skema peminjaman uang dan pemburuan berbayar. Banyak warga sengaja dijebak secara ekonomi agar menjadi sasaran empuk setiap tahun. Fakta ini semakin menguatkan tekad Charlie untuk bertahan hidup dan melanjutkan perjuangannya.

Ancaman terbesar datang dari Caleb Warrens (Kyle Secor), pemimpin kelompok fanatik pendukung Purge yang melihat pembunuhan sebagai ritual suci. Bagi mereka, Charlie adalah pengkhianat bangsa. Kejaran demi kejaran membuat malam terasa semakin panjang. Leo harus memilih kapan bertarung dan kapan melarikan diri, sementara Charlie mulai memahami bahwa melawan sistem tidak cukup dengan niat baik.

Ketegangan memuncak ketika Charlie akhirnya tertangkap. Ia dibawa ke upacara eksekusi simbolik yang melibatkan elit politik sebagai penonton. Mereka ingin menjadikan kematian Charlie sebagai pesan publik bahwa tidak ada yang bisa melawan Purge. Dalam situasi ini, Charlie dihadapkan pada pilihan moral yang berat antara membalas dendam atau memutus lingkaran kekerasan.

Leo, yang berhasil menyusup ke lokasi, akhirnya bertemu kembali dengan Charlie di titik paling menentukan. Semua luka masa lalu Leo seolah muncul kembali, mendorongnya untuk membalas dengan darah. Namun keputusan yang diambil tidak hanya akan menentukan nasib mereka berdua, tetapi juga arah masa depan negara. Malam Purge yang seharusnya menjadi akhir, justru berubah menjadi awal perlawanan yang lebih besar.

Ketika matahari terbit dan sirene berhenti, tidak semua luka sembuh. Banyak nyawa hilang, banyak kepercayaan runtuh. Namun ada satu hal yang berubah. Rakyat mulai mempertanyakan narasi resmi yang selama ini mereka terima. Charlie masih hidup, dan suaranya kini terdengar lebih kuat dari sebelumnya. Leo pun menemukan kembali makna perlindungan, bukan sekadar menjaga tubuh seseorang, tetapi menjaga harapan.

Dalam dunia yang membiarkan kekerasan dilegalkan demi stabilitas semu, apakah satu malam teror cukup untuk membungkam perubahan, atau justru menjadi pemicu runtuhnya sistem yang tidak manusiawi?

Penulis Artikel: Anastashia Gabriel

Frank Grillo Leo Barnes
Elizabeth Mitchell Senator Charlie Roan
Mykelti Williamson Joe Dixon
J.J. Soria Marcos
Betty Gabriel Laney Rucker
Terry Serpico Earl Danzinger
Edwin Hodge Dante Bishop
Kyle Secor Minister Edwidge Owens
Barry Nolan Reporter #1
Liza Colu00f3n-Zayas Dawn