Amerika Serikat berada dalam bayang bayang kebijakan tahunan paling
brutal yang pernah dilegalkan negara. Setiap tahun, selama satu malam penuh, semua bentuk
kejahatan diperbolehkan tanpa konsekuensi hukum. Malam itu dikenal sebagai The Purge, sebuah
ritual nasional yang diklaim mampu menjaga stabilitas, menekan angka kriminalitas, dan
memperkuat tatanan sosial. Namun di balik klaim tersebut, The Purge justru menjadi alat kekuasaan
yang mengorbankan kelompok lemah demi kepentingan elit penguasa.
Cerita dimulai dengan sosok Leo Barnes (Frank Grillo), mantan petugas polisi yang
kini bekerja sebagai kepala keamanan pribadi. Leo pernah kehilangan anaknya pada malam Purge
di masa lalu, sebuah luka yang tidak pernah benar benar sembuh. Sejak saat itu, hidupnya dipenuhi
rasa bersalah dan kemarahan yang terpendam. Ia mencoba menata ulang hidup dengan bekerja
melindungi orang lain, seolah keselamatan kliennya bisa menebus kegagalannya sebagai ayah.
Klien Leo kali ini bukan orang biasa. Ia adalah Senator
Charlie Roan (Elizabeth Mitchell), seorang politisi vokal yang secara terbuka menentang The Purge.
Trauma masa kecil membuat Charlie memiliki alasan personal untuk melawan kebijakan tersebut.
Bertahun tahun lalu, ia menyaksikan seluruh keluarganya dibunuh secara brutal di hadapannya
pada malam Purge. Sejak itu, Charlie bersumpah untuk menghentikan tradisi berdarah ini dari
dalam sistem pemerintahan.
Charlie kini maju sebagai
kandidat presiden dengan janji utama menghapus The Purge secara permanen. Popularitasnya
meningkat pesat, terutama di kalangan warga kelas menengah dan bawah yang selama ini menjadi
korban utama. Namun ambisinya membuat ia menjadi target besar. Partai penguasa New Founding
Fathers of America melihat Charlie sebagai ancaman langsung terhadap ideologi mereka. Maka,
malam Purge tahun ini berubah menjadi ajang pemburuan politik.
Menjelang dimulainya Purge, sistem keamanan Charlie mengalami sabotase. Tempat
perlindungan resmi yang seharusnya aman justru dikosongkan. Leo segera menyadari bahwa ini
bukan kebetulan, melainkan rencana terstruktur untuk membiarkan Charlie mati secara legal. Ketika
sirene Purge berbunyi, Leo dan Charlie terpaksa melarikan diri ke jalanan Washington DC yang
berubah menjadi medan teror.
Kota yang biasanya ramai
kini dipenuhi kekacauan. Kelompok bersenjata berkeliaran bebas, mengenakan topeng dan kostum
simbolik yang mencerminkan kebencian serta fanatisme. Target mereka jelas, siapa pun yang
dianggap tidak berguna, tidak sejalan, atau mengancam tatanan elit. Leo harus menggunakan
semua pengalaman tempurnya untuk bertahan hidup sambil memastikan Charlie tetap selamat.
Di tengah pelarian, mereka bertemu Joe Dixon (Mykelti
Williamson), pemilik toko yang memilih bertahan di lingkungannya sendiri. Joe adalah saksi hidup
bagaimana The Purge perlahan menghancurkan komunitasnya. Ia menyelamatkan Leo dan Charlie
dari serangan brutal, lalu memutuskan membantu mereka bukan karena politik, melainkan karena
rasa kemanusiaan yang tersisa. Bersama Joe, muncul juga Marcos (Joseph Julian Soria), mantan
tentara yang memimpin kelompok perlawanan bawah tanah.
Kelompok ini membuka mata Charlie tentang sisi lain Purge yang jarang terlihat di
media resmi. Bukan sekadar aksi kekerasan spontan, tetapi pembantaian terencana terhadap kaum
miskin melalui skema peminjaman uang dan pemburuan berbayar. Banyak warga sengaja dijebak
secara ekonomi agar menjadi sasaran empuk setiap tahun. Fakta ini semakin menguatkan tekad
Charlie untuk bertahan hidup dan melanjutkan perjuangannya.
Ancaman terbesar datang dari Caleb Warrens (Kyle Secor), pemimpin kelompok
fanatik pendukung Purge yang melihat pembunuhan sebagai ritual suci. Bagi mereka, Charlie
adalah pengkhianat bangsa. Kejaran demi kejaran membuat malam terasa semakin panjang. Leo
harus memilih kapan bertarung dan kapan melarikan diri, sementara Charlie mulai memahami
bahwa melawan sistem tidak cukup dengan niat baik.
Ketegangan memuncak ketika Charlie akhirnya tertangkap. Ia dibawa ke upacara
eksekusi simbolik yang melibatkan elit politik sebagai penonton. Mereka ingin menjadikan kematian
Charlie sebagai pesan publik bahwa tidak ada yang bisa melawan Purge. Dalam situasi ini, Charlie
dihadapkan pada pilihan moral yang berat antara membalas dendam atau memutus lingkaran
kekerasan.
Leo, yang berhasil menyusup ke lokasi,
akhirnya bertemu kembali dengan Charlie di titik paling menentukan. Semua luka masa lalu Leo
seolah muncul kembali, mendorongnya untuk membalas dengan darah. Namun keputusan yang
diambil tidak hanya akan menentukan nasib mereka berdua, tetapi juga arah masa depan negara.
Malam Purge yang seharusnya menjadi akhir, justru berubah menjadi awal perlawanan yang lebih
besar.
Ketika matahari terbit dan sirene berhenti, tidak
semua luka sembuh. Banyak nyawa hilang, banyak kepercayaan runtuh. Namun ada satu hal yang
berubah. Rakyat mulai mempertanyakan narasi resmi yang selama ini mereka terima. Charlie masih
hidup, dan suaranya kini terdengar lebih kuat dari sebelumnya. Leo pun menemukan kembali
makna perlindungan, bukan sekadar menjaga tubuh seseorang, tetapi menjaga harapan.
Dalam dunia yang membiarkan kekerasan dilegalkan demi
stabilitas semu, apakah satu malam teror cukup untuk membungkam perubahan, atau justru
menjadi pemicu runtuhnya sistem yang tidak manusiawi?
Penulis Artikel: Anastashia Gabriel