KOREA

7 Perbedaan K-Pop dan American Pop yang Bisa Bikin Syok Orang Awam

Senin, 28 Desember 2020 16:00 Penulis: Iwan Tantomi

credit via Big Hit Ent & Shutterstock.com/PressLinePhoto

Kapanlagi.com - Semakin hari, K-Pop kian dikenal luas oleh masyarakat internasional. Meski bahasa dalam bermusik masih kerap jadi pembeda, tetapi hal tersebut tak lantas jadi kendala bagi fans untuk menikmati musik-musik K-Pop.

Hal ini pun dibuktikan dengan semakin masifnya idol K-Pop yang ekspansi ke pasar musik global, terutama di Amerika Serikat. Walau tak semua sukses, tetapi menarik untuk diulik, apa sih sebenarnya yang membedakan K-Pop dan American Pop ini?

Berikut perbedaan mendasar antara K-Pop dan American Pop yang bisa bikin syok orang awam.

1. Proses Seleksi

Di Amerika, label biasanya memilih seseorang yang dianggap berbakat dalam bermusik. Mereka kemudian diberikan beragam pelatihan untuk meningkatkan kemampuan sebagai penyanyi profesional, bersamaan proses audisi atau penandatanganan kontrak kerja sama. Bahkan, tak sedikit pelatihan yang dijalani menggunakan dana pribadi.

Sebaliknya, proses seleksi di K-Pop jauh lebih rumit. Agensi atau label bisa saja memilih seseorang untuk didebutkan sebagai idol K-Pop. Misalnya, Jin BTS yang ditawari audisi di jalan karena parasnya. Bisa juga calon idol K-Pop diambil dari luar negeri untuk membangun popularitas global. Sebut saja, Lay EXO dari China, Momo TWICE dari Jepang, dan Bambang GOT7 dari Thailand.

2. Sistem Pelatihan

American Pop tak pernah menerapkan aturan standar untuk sistem pelatihan. Misalnya saja, Spice Girls dan Backstreet Boys yang populer di era 90-an, yang dibentuk lewat audisi, kemudian debut 1-2 tahun kemudian. 

Di K-Pop sistem debut ini cenderung lebih lama. Tak sedikit trainee atau calon idol K-Pop yang mengikuti pelatihan hingga bertahun-tahun lamanya. Mengenaskannya lagi, persaingan antara trainee di industri K-Pop sangat banyak, sehingga kepastian untuk debut sangat kecil. Ambil contoh Jihyo TWICE yang harus melalui 10 tahun masa trainee sebelum benar-benar debut.

3. Bakat dan Kemampuan

Di industri musik Amerika, kemampuan vokal yang luar biasa menjadi modal wajib jika ingin debut menjadi penyanyi profesional. Sementara menari dan akting, dianggap sebagai kemampuan tambahan, bahkan kadang tak begitu diperlukan.

Sedangkan di K-Pop, tak cukup sekadar punya bakat bernyanyi untuk bisa debut sebagai idol. Masa trainee yang panjang, menempa calon idol dengan beragam kemampuan bernyanyi, termasuk rap, hingga akting. Tak heran jika di K-Pop, tak sedikit idol atau penyanyi yang juga merangkap sebagai host atau aktor dan aktris. 

4. Masa Berkarir

Masa berkarir idol K-Pop cenderung singkat. Jarang ada yang sanggup bertahan lebih dari 7 tahun, jika memang tidak benar-benar sukses. Inilah kenapa trainee dipilih sejak usia belasan tahun, dan ditempa dengan banyak kemampuan, agar saat tak lagi berkarir sebagai idol, mereka bisa melanjutkan berkarir sesuai bakat masing-masing.

Sebaliknya, di American Pop, usia hanyalah angka. Mereka bisa berkarir sebagai musisi sepanjang hayat. Sebut saja Madonna, sejak tenar pada 80-an tetap aktif berkiprah sebagai musisi hingga usia hampir 60 tahun. Tak ada tanda-tanda pensiun atau beralih profesi. Hal ini turut dipengaruhi oleh perbedaan aturan, tren hingga budaya dalam industri hiburan di masing-masing negara.

5. Menulis Lagu

Musisi di American Pop beradu menunjukkan ciri khas dan orisinalitas dalam berkarya dengan menulis lagu sendiri. Sebagian besar penyanyi juga menulis lagu. Jika tidak, mereka biasanya turut mencurahkan ide dalam proses penulisan lagu. Selain itu, sebagian besar lagu-lagu di American Pop menggambarkan pengalaman hidup atau masalah personal.

Sementara di K-Pop, lagu-lagu sudah disiapkan oleh para produser yang ditunjuk oleh label. Hal ini karena sejak masa trainee, kemampuan yang ditekankan kepada para idol adalah menyanyi dan menari. Meski begitu, tak sedikit idol K-Pop yang membuat lagu sendiri sejak awal debut, seperti BTS.

6. Loyalitas ke Label

Di K-Pop hubungan antara artis atau idol dan label alias agensi sangat erat. Saking eratnya, suasana seperti keluarga antar artis dalam satu label pun begitu terlihat nyata. Bahkan, bisa dibilang label musik di industri hiburan Korea sudah seperti sebuah brand. Sampai-sampai fans pun turut mengidolakan label idol K-Pop.

Hal tersebut tentu sangat jarang dijumpai pada label-label musik di Amerika. Jangankan menunjukkan suasana kekeluargaan antar para musisinya, kadang malah tak sedikit artis yang menuntut balik label di American Pop karena urusan bagi hasil keuntungan yang tak dirasa kurang adil.

7. Bahasa yang Digunakan dalam Album

Sebagian besar bahasa yang digunakan dalam album yang dirilis oleh label di American Pop berbahasa Inggris. Kadang juga dalam bahasa Spanyol. Jarang sekali label musik, merilis album dalam beberapa bahasa untuk promosi internasional.

Sementara dalam K-Pop, album yang dirilis dalam bahasa Korea, ada kemungkinan juga akan dirilis dalam bahasa asing, seperti China, Jepang dan lainnya, untuk promosi di negara-negara tersebut. Hal ini karena ada banyak bahasa di Asia, dibandingkan Amerika, juga untuk menggaet lebih banyak penggemar. Misalnya, album BTS Face Yourself merupakan versi bahasa Jepang untuk album trilogi Love Yourself dalam bahasa Korea.

Itulah beberapa perbedaan antara K-Pop dan American Pop yang mungkin bisa membuat non-fans alias orang awam syok mengetahui faktanya. Kalau menurut kamu gimana, KLovers?

(kly/tmi)

Reporter: Iwan Tantomi


REKOMENDASI
TRENDING