FILM INDONESIA

'EKSKUL' Tak Jiplak 'Flowers In The Strum'

Jum'at, 05 Januari 2007 16:29 | 

Noorca M Massardi






Kapanlagi.com - Polemik terhadap originalitas film EKSKUL yang dituduh menjiplak illustrasi musik film Jepang, Flowers In The Strum, oleh beberapa sineas muda, mulai mendapatkan pembelaan. EKSKUL dianggap sama sekali tidak menjiplak illustrasi musik Flowers In The Strum, menurut salah satu anggota dewan juri FFI 2006, Remmy Sylado.

Menurut Remmy saat dijumpai di Gedung Film, Jakarta, Kamis (4/1), sebuah illustrasi musik dapat dianggap menjiplak kalau mencapai 8 bar secara sama persis.

"Tapi EKSKUL tidak," tegas Remmy. Secara pribadi saya tidak peduli akan sebuah produksi digarap semacam apa. Bagi saya selama hal tersebut tidak menganggu plot cerita, tidak akan menjadi masalah," imbuhnya.

Sebelum ditetapkan sebagai film terbaik FFI tahun 2006, EKSKUL telah menyisihkan 100 judul film. Dan dari sejumlah seratus judul film, EKSKUL dianggap sebagai satu film yang penuh dengan rasa, penuh ekspresi dan visi yang jelas. Dalam film yang diproduksi Indika Entertainment, terdapat 'sinema jet-coaster', dan itu tidak ada dalam film lainnya.

"Kita pilih film yang terbaik buakan pada musik. Dan kita tekankan pada efek daripada illustrasi musiknya," tegas Embi C Noer, salah satu anggota dewan juri.

Dalam penjurian FFI 2006 ini, dewan juri memang tidak mengedepankan keoriginalitasan sebuah karya secara spesifik. Karena hal itu memang tidak ada dalam pedoman penjurian FFI. Tapi bukan berarti dewan juri menutup mata terhadap hal tersebut. Kalau juri mengetahui atau mendapatkan pemberitahuan sejak dini.

"Kan, tidak harus seorang juri mengetahui semua film di dunia. Saat kita menilai sebuah film, kita menikmati dengan rasa dan estetika. kalaupun mereka mau protes seharusnya dilakukan saat EKSKUL masuk dalam daftar nominasi. Dan kalau kami dikatakan tidak kompeten dalam hal ini, bukan menjadi soal, karena kami masuk di sini bukan karena mendaftar," bela Noorca M Massardi.

Sebenarnya berbagai perbedaan pendapat yang muncul di sekitar Piala Citra, merupakan sebagai bagaian yang menggembirakan dari sebuah perjalanan eksperimen demokrasi. Hal ini bisa disikapi dengan arif. Bahwa ini semua, bermuara kepedulian terhadap kelanggengan Piala Citra. Ternyata Piala Citra sangat magis di mata para pelaku film di Indonesia. (kl/wwn)



Nama :
Email :
Komentar :
Komentar yang tidak sopan akan dihapus.

Komentar Pembaca (0)


Lihat Arsip Film Indonesia

- - -