SELEBRITI

7 Fakta Saras Dewi Pelantun Tembang 'Lembayung Bali', Penyanyi yang Kini Jadi Dosen Filsafat UI

Senin, 19 Juli 2021 14:41

Saras Dewi ©KapanLagi.com/Kumparan.com

Kapanlagi.com - Bagi sebagain orang, tentunya sudah tak asing lagi dengan nama Saras Dewi. Bagi yang belum tahu, wanita pemilik nama lengkap L.G. Saraswati Putri ini adalah seorang penyanyi asli dari Bali. Dan salah satu karyanya yang cukup terkenal adalah Lembayung Bali.

Gak cuma hanya di bidang musik, istri dari Coky Netral yang akrab disapa Yayas ini juga berprestasi di bidang lainnya lho, salah satunya adalah pendidikan. Ya, Yayas diketahui saat ini menjadi salah satu dosen filsafat di salah satu universitas ternama di Indonesia. Simak beberapa fakta menariknya di sini!

 

1. Asli Dari Bali

Saras Dewil lahir di Kota Denpasar, Bali pada 16 September 1983 dengan nama asli L.G. Saraswati Putri. Perempuan yang kini berusia 38 tahun ini adalah anak tertua dari sepuluh bersaudara. 

Sejak kecil Saras bersekolah di Bali, dan setelah lulus dari SMA, ia pun meneruskan pendidikannya di Universitas Indonesia dan masuk di jurusan Filsafat.  

 

2. Awal Karier

Saras Dewi mengawali kariernya pada tahun 2002 silam. Setidaknya, ia sudah hampir 20 tahun bergelut di dunia musik Tanah Air. Ia meluncurkan album pertamanya dengan naungan dari label Bintang Record, dengan single Lembayung Bali.

Album perdananya ini pun langsung masuk nominasi AMI (Anugerah Musik Indonesia) dalam kategori, Best Ballad dan Best Single.  

 

 

3. Menikah

Tahun 2010 lalu, Saras Dewi akhirnya melepas masa lajangnya dengan menikahi seorang musisi bernama Christopher Bollemeyer, yang lebih sering kita kenal dengan nama Coky. Ya, Coky sendiri adalah gitasi band Netral.

Sebelas tahun bersama, rumah tangga mereka pun jauh dari gosip dan berita miring. 

 

4. Seorang Aktivis

Sebagai pekerja seni sekaligus akademisi, Saras Dewi punya jiwa sosial yang tinggi, ia juga seorang aktivis. Di tahun 2014 lalu, Saras juga bersuara cukup keras saat dengan bernyanyi bersama untuk gerakan Bali Tolak Reklamasi.

Gak cuma itu saja, ia juga sangat peduli dengan Hak Asasi Manusia (HAM). Ia juga sangat aktif di media sosial dan membantu menyuarakan kesadaran akan peran seni dan sastra.

 

5. Seorang Penulis

Jiwanya sebagai orang yang cinta bidang seni dan sastra pun ia curahkan ke dalam tulisan yang akhirnya menjadi buku. Ya, Saras setidaknya sudah menebitkan 4 buku.

Menariknya, dari keempat buku yang sudah ia terbikan itu, gak hanya tentang kumpuluan puisi, Saras juga menulis karya sastra yang menyinggung tentang Hak Asasi Manusia. 

 

6. Bergelar Doktor

Setelah lulus SMA, Saras Dewi pun mengambil Jurusan Filsafat di Universitas Indonesia. Setelah menyelesaikan S1-nya, Saras kembali meneruskan studinya di jurusan yang sama.

Mendapatkan beasiswa sejak S1 sampai jenjang S3, Saras akhirnya berhasil menyelesaikan program doktoral pada tahun 2013 di usianya yang ke-29 tahun. 

 

7. Jadi Dosen UI

Saras Dewi pertama kali mengajar pada tahun 2006 sebagai dosen luar biasa di UI. Dan di tahun 2009, ia menjadi dosen Pegawai Negeri Sipil untuk Fakultas Ilmu Budaya UI. 

Tahun 2010-2016, Saras sempat menjadi ketua Program Studi Ilmu Filsafat sambil mengejar gelar doktornya. Dan sekarang, ia diketahui menjadi dosen Filsafat Timur, Etika Lingkungan, Filsafat dan HAM, Fenomenologi, dan Filsafat Sastra di Universitas Indonesia. 

 


REKOMENDASI
TRENDING