Curahan Hati Ayu Azhari

Jum'at, 14 Januari 2011 13:05 Penulis: Fajar Adhityo
Curahan Hati Ayu Azhari Ayu Azhari
Kapanlagi.com - Dijumpai di Apartemen Simprug Terras Jakarta Selatan, Kamis (13/1) Ayu Azhari kepada KapanLagi.Comô menceritakan mengenai prahara rumah tangganya yang saat ini tengah bersitegang dengan anak-anaknya. Bahkan Ayu dikabarkan menelantarkan buah hatinya. Seperti apa curahan hati Ayu? Berikut wawancaranya:

  • KL: Perihal anak-anak di KPAI?
    Ayu: Iya dari permulaan saya dapat undangan dari ibu Ria terus saya sms beliau balik. Saya dapat nomor dari temannya atau Kak Seto untuk coba mencari tempat yang lebih netral yaitu dengan Kak Seto atau KPAI yang menjembatani komunikasi ini, tapi ibu Ria memang menolak, itu bulan Desember tanggal 10 itu pertama kali saya ke sana dan akhirnya saya membatalkan kerja terus ke sana, terus terang waktu ke sana saya agak kaget, loh kok ada konferensi pers, anak saya ada di TV berbicara, saya pikir ya sudahlah sudah terjadi, saya pikir mungkin pada saat itu ibu Ria (Dwi Ria Latifa SH) paham dan menempatkan diri pada posisi yang memang peduli.

    Waktu itu tidak membicarakan masalah hukum, walau saya sudah jelaskan ibu Ria bahwa ini dapat surat kuasa dari siapa? Dari ayahnya dan dari Axel. Status hukumnya sudah tahu belum? Saya tulis ayah kandung, ya udah nggak papa, saya diajak ngomong, tapi nggak usah diomonginlah.

    Saya coba mendengarkan keadaannya, walaupun seharusnya saya tidak menjelaskan di situ tempatnya, ini kan isu internal rumah kami, iya kan, secara KPAI mungkin tempat paling netral atau Kak Seto dia kan ahli anak.

    Sebelumnya saya tempatkan anak saya Axel ke rumah neneknya, karena di rumah ada masalah, tapi Sean ikut, jadi masalahnya beruntun, dan permasalahan ini membesarkan masalah anak sendirian, menjadi seorang single parent, sebenarnya persoalannya bukan baru sebulan tapi sudah berkepanjangan bertahun-tahun. Dan dalam perjalanan ini saya selalu ke psikolog dan rutin untuk menjadi mediator dalam komunikasi saya dengan Axel misalnya, karena banyak masalah yang dihadapi dia, seperti melewati puber yang dihadapi, masa-masa sulitnya, di situ banyak intervensi dari macam-macam, baik dari lingkungan, teman, keluarga yang kadang-kadang nasehatnya kurang pas, dan di situ ada ayah tirinya, sebelum saya sama Mike Tramp dan di situ saya berusaha menggunakan psikolog, saya mengakui bukan karena faktor kejiwaan tetapi memang diperlukan seorang ahli untuk menjadi mediasi.


    Dari dulu saya tidak malu mengakui itu karena saya sendirian nggak gampang membesarkan anak, memenuhi kebutuhan anak sendirian apalagi Axel, dia sendirian dari hamil sampai lahir, sampai besar tanggung jawab saya sendiri, saya pisah dengan bapaknya dia masih kecil dan kemudian saya menikah dengan Yusuf itu banyak sekali permasalahan, untuk anak ya, ndak bisa terima pada adiknya, yang banyak hal yang saya lewati makanya banyak psikolog yang sering saya datangi. Kemudian waktu Axel remaja waktu dia kembali dari Australia saya agak bingung menghadapi dia, karena namanya anak laki-laki di rumah itu nilai superiornya lebih menonjol. Sementara saya ibu yang tugasnya harus menjadi jembatan untuk berkomunikasi. Kadang saya ngomong: 'Axel Mama minta maaf, Mama nggak bisa ngomong lagi sama kamu karena kamu nggak denger, coba kamu bicara keperluan kamu ke ibu (psikolog) ya, terus apa yang ibu bilang akan disampaikan ke Mama, nanti kita cari jalan keluarnya.' Jadi bukan permasalahan yang baru, terus saya dibilang menelantarkan anak? Menelantarkan gimana? Lah kok bisa gede gitu, menelantarkan gimana, pernah tinggal di neneknya, pernah tinggal di tantenya.

  • KL: Katanya Axel sempat diusir tantenya?
    b>Ayu: Begini itu kan persoalan internal, dalam setiap rumah tangga, dalam setiap orang mendidik anak itu ada cara sendiri, misalnya ada reward dan punishment. Saya bilang kalau kamu gini terus kamu tinggal ke rumah Nenek, dan di rumah Nenek juga bermasalah, ia pindah ke Tantenya, di Tantenya masalah, bukan diusir, nggak bisa kalau cara dia seperti itu, pindah ke tempat satu lagi masalah, itu kan cara orang tua mendidik, bagaimana pun kamu berada kalau kamu seperti itu orang tidak akan terima, jadi itu seperti hak kami apalagi kalau yang memberikan nasehat atau mendampingi itu bukan orang yang memikirkan hubungan ibu dan anak, dan tidak mengerti latar belakang si anak dan keluarga ini, jadi kalau kita mengingatkan sepihak itu kurang pas, dan kalau saya mengumbar ini dan menjelaskan ini kepada media saya rasa ini bukan untuk konsumsi publik dan saya juga tidak ingin mengikuti orang lain yang sudah menjelekkan saya di media, padahal mereka tidak tahu permasalahannya apa, saya terima nggak papa, ada waktu, yang akan menjawab semua.

    Ternyata di bawah ke KPAI, dari mula saya sudah bilang kenapa kita tidak ketemu di KPAI atau di tempat Kak Seto untuk menjadi tempat mediasi yang lepas dari kepentingan.
  • KL: Lalu apa saran Kak Seto?
    Ayu: Ya sudah Mbak Ayu, kalau Ibu Ria minta datang, datang dengan itikat baik. Saya yang lebih kenal hubungan Atiq dengan kakak-kakaknya, nanti akan saya jelaskan ke KPAI, sebenarnya saya sudah jelaskan kepada Ibu Ria, tapi di sini kan Ibu Ria berbicara sebagai seorang pengacara, pasti juga sekaligus menempatkan sebagai.. saya nggak berani ngomongin. Mungkin dengan tulus dan ikhlasnya, dia bilang anak-anak boleh tinggal di situ. Kalau memang anak-anak mau di situ, saya nggak punya pilihan, saya juga nggak bisa paksa, kalau pemikiran anak saya lebih suka di sini, di tempat Ibu Ria lebih enak ada pembantu, nggak perlu bantuin Mama, nggak ada yang bangunin pagi, nggak ada yang matiin lampu kalau jam sepuluh, nggak ada satpam, aku kan kalau di rumah seperti sidak kalau malam mereka masih ada di depan tv aku keluar, mereka ngumpet jadi beda mereka di sana dan sini. Jadi memang harus diperhatikan kalau di Ibu Ria saya nggak tahu, kalau saya telepon dia masih tidur, waduh malam tidur jam berapa.

    Mungkin kalau orang tua lain, Atiq kamu masuk mobil pulang, otomatis anak pasti nangis, tapi saya nggak mau, nanti jadi bulan-bulan media dan aku nggak mau jadi bulan-bulanan. Tapi sekarang alhamdulilah sudah ada KPAI, saya yakin KPAI bisa menjembatani ini lebih netral dan ada perhatian yang khusus pada anak-anak. Karena di situ ada ahlinya dan disesuaikan dengan umurnya. Dan aku punya report semua anak-anak mulai kesehatannya, kekurangannya, kelebihan jadi profesional. Nah, kalau itu (KPAI) nggak papa, tidurnya pasti disiplin, aku nggak tahu ditempatkan di mana tapi aku akan komunikasi dengan KPAI tanpa ada pemasukan pada anak yang kurang ajar kepada ibu, anak-anak juga harus diberitahu ini ibumu kalau berkomunikasi dengan ibu tidak boleh seperti ini.

    'Semua omongan Mama saya rekam, Mama minta ini bawa ini ke pengadilan', saya bilang saya nggak pernah minta ke pengadilan tapi aku bilang, kalau keputusan pengadilan, hak kalian itu ada di Mama, kalian itu belum dewasa, saya nggak ngerti siapa yang ngajarin tiba-tiba anak saya seperti itu ya alhamdulillah proses belajar.
  • KL: Mengenai kabar bahwa apa benar anak-anak akan dimasukkan ke Pesantren?
    Ayu: Karena saya melihat mereka setelah kembali dari Finlandia anak-anak ini agak goyah dan mereka mulai remaja, yang perempuan ketagihan internet, maunya main internet sampai ngumpet-ngumpet selalu chatting, itu kan dibatasi, kemudian yang besar laki-laki banget, kalau mau keluar kemana gak mau dijelasin. Tahun lalu banyak hal buruk yang nggak bisa saya jelasin di sini yang menjadi kebiasaan anak saya dan saya mendengar dari ungkapan Sean, ungkapan Atiq, Mariam, pernah terjadi beberapa hal yang berbahaya, karena kebiasaan seenaknya yang terus berlanjut, mungkin KPAI bisa mendengar keluhan anak-anak, bisa mendengar keinginan saya sebagai seorang ibu.

    Anak saya memang ingin saya masukin ke boarding school atau pesantren karena terus terang menangani anak yang memasuki remaja dan lumayan agak banyak inisiatif , jadi saya sudah bilang ini tidak bisa Mama atasi sendiri, dan harus ada power yang membatasi, kalau boarding school atau pesantren atau kegiatan yang praktis dan ada kegiatan yang 24 jam yang membatasi, kalau di rumah saya yang nggak bisa 24 jam saya harus tidur. Kadang saya nggak tidur nungguin mereka. Pernah saya show di Surabaya pada Januari dan ada sms waduh Ayu anakmu ada di sini, coba kebayang kan, saya ada di luar kota dan dengar seperti itu, banyak hal yang memang aku butuh sistem yang kuat makanya aku pilih boarding school dan pesantren. Tapi tiba tiba ada pemikiran bahwa kalau dia di pesantren itu dibuang ke rumah. Lah, kalau di pesantren itu cuman 10 menit dari rumah dan setiap minggu boleh pulang ke rumah itu kan bukan penjara, atau boarding schoolnya di Jababeka, kita pernah ke sana tapi balik lagi apa anaknya cocok nggak, kalau cocok boleh.

    Memang aku berencana tidak menempatkan mereka pada tempat yang sama, mungkin Atiq dan Mariam boleh di tempat yang sama, tapi Sean dan Axel tempat harus terpisah.

    Sebenarnya setelah kasus dari kantor polisi dengan Sean aku sudah bargaining dengan Sean, kalau kamu tidak pulang ke Finlandia sekarang. Karena sekarang ini sudah melebihi kapasitas kamu sebagai anak sudah berlebihan, kamu harus belajar gimana menjadi anak yang bener, tempat yang tepat buat kamu adalah pesantren. Mama bukan ahli mendidik kalau kamu sendiri nggak mendengarkan Mama mungkin setelah itu baru kamu mau ke Finlandia boleh, oke Sean mau ke pesantren, tapi setelah pulang ke tempatnya Axel, sikapnya berubah ternyata ada yang mendampingi mereka untuk menyatakan secara hukum, saya bilang terserah, mungkin Axel minta uang, itu sudah selesai, saya tidak ributin, aku tetap bayar.
  • KL: Katanya anak-anak tidak mau ngaji?
    Ayu: Kalau Atiq bilang ke saya ngaji tiap sore dia ke Sunda Kelapa alhamdulilah cuman belakangan ngomongnya tambah kasar, aku nggak bilang kurang ajar tapi nggak pantes ngomong seperti itu diusianya, kalau nggak ngaji berarti sudah pinter, jadi saya dibohongi selama 1 bulan ini, aku juga khawatir aku juga telepon Kak Seto, anak-anak nggak sekolah ngaji, aku kirim guru ngaji dari sini ke Ibu Ria aku hubungi sampai saat ini nggak ada tanggapan.
  • KL: Sekarang setelah diserahin ke KPAI gimana?
    Ayu: Alhamdulilah, saya dari awal menginginkan persoalan ini dibawa ke KPAI, karena anak yang nggak mau dimasukin pesantren, anak yang mau mengikuti nasehat yang ia dapat malah dari luar. Saya kecewa dalam hati, saya menangis dalam hati dengan ditempatkan pada situasi saya dengan anak saya seperti diadu, sampai beberapa kali saya bilang ke mereka kita cari yang ahlinya saja dan itu saya ngomong di kamar tetapi setelah keluar kamar Atiq berubah, jadi aku sedih terus dia sempat bisikin aku 'Mama sich, mam why did you bring me here, kalau kamu nggak bawa ke sini this is not happen,' dengan berbisik. Nanti suaranya kencang lagi ngata-ngatain aku, waktu tanggal 30 saya datang dia peluk aku kencengan banget, tetapi ketika kakaknya datang dia buru-buru lepas, kan di bawah control dan pengaruh kakaknya, tapi buat aku nggak masalah kan adik kakak, mungkin KPAI akan melihat sendiri bagaimana prilaku dan kebiasaan anak-anak.
  • KL: Yakin dengan KPAI akan lebih baik?
    Ayu: Ya saya nggak tahu, paling nggak sementara ini KPAI lebih menentramkan hati saya dan saya lebih nyaman, itu kan Negara, kan ada UU, tapi sebenarnya saya nggak menilai anak-anak saya memiliki masalah yang harus dibesarkan, tapi ini kan sudah banyak yang intervensi dan KPAI adalah wadah yang paling tepat menjembatani ini, di situ kan ada aturannya bagaimana anak dengan orang tua. Dan saya akan sholat syukur, bersyukur bahwa anak saya ada di KPAI, dan mudah-mudahan bisa ditangani dengan baik, biar masalahnya clear dan saya sudah meminta kepada Kak Seto membawa masalah ini ke KPAI, kalau saya diwajibkan menandatangani secarik kertas kuasa atau izin kepada anak saya itu tidak fair, selama ini saya yang mengurus anak saya, Tuhan memberikan anak saya selalu bertanggung jawab dan ada bapaknya tetapi selama ini bapaknya nggak pernah yang ngasih nafkah, membiayai sekolah, aku kerja sendiri dengan keringat aku dengan letihnya aku membesarkan anakku sendiri.
  • KL: Ada yang bilang Mbak Ayu tidak bertanggungjawab?
    Ayu: Siapa yang bilang saya nggak bisa ngurus anak, saya bisa, seburuk-buruknya seorang ibu masih lebih untuk mengurus anak karena itu ibunya, udah lahir diurus sampai gede, ya pengecualian mungkin yang lain ada.
  • KL: Menurut Mbak Ayu menaruh anak-anak di KPAI apakah keputusan paling tepat?

    Ayu: Daripada di rumah Ibu Ria, itu kan rumah pengacara bukan tempat penampungan anak, saya kan nggak ada pilihan, saya tidak melihat itu buruk kalau berkepanjangan saya khawatir, tapi alhamdulilah anak ku itu soleh-soleh meski ibunya artis tapi kenapa kok bisa belakangan ini katanya kasar, ya Allah ya Rabbi jangan sampai aku ucapin nyumpahin kalau kesel, aku sempat ngadu kepada ustad, disaranin sabar jangan sampai kesel, sampai ada yang ngasih doa sampai aku hafal, sedih sekali, kecewa sekali tapi aku masih bisa menghadapi ini, ada banyak anak, ada pekerjaan yang harus aku jalanin, aku selalu terima dan akan aku jalanin, aku berharap mereka secepatnya kembali.
  • KL: Memang benar anak-anak dilarang ke Finlandia?
    Ayu: Aku punya hak, anak-anak mau kemana kalau aku nggak kasih izin, itu hak aku, soalnya apa yang terjadi di Finlan aku yang harus bertanggungjawab, itu yang aku wanti-wanti karena anak ini di Finlandia hak asuh ada di aku. Di Indonesia pun begitu, mungkin KPAI bisa menjembatani ini dan menyelesaikan masalah ini secara ibu dan anak-anak, bukan menghalangi, kalau aku bilang dia yang menghalangi aku mengurus anakku kalau aku bilang begitu gimana tapi aku kan nggak bilang seperti itu buat apa, seharusnya aku yang laporin ke KPAI, kenapa nggak karena aku dinasehati oleh orang yang bijaksana, sampai kapan Ibu Ria mampu menampung anak saya tunggu saja, aku nggak mau bermusuhan dengan siapa pun, saya banyak bukti.

    Mungkin besok aku potong ayam. Aku alhamdulilah Ibu Ria baik hati telah mengurus anakku, aku juga nggak lihat yang negatif aku melihat yang postifnya saja.
  • KL: Enggak khawatir nggak ketemu sama anak?
    Ayu: Aku dari kecil nulis bahasa Arab inalillahiwainalilahi rojiun, di manapun anakku berada baik itu di rumah Ibu Ria, di KPAI Allah yang menjaga, jika aku belum bisa ketemuan bahwa Allah membuat skenario bahwa aku belum bisa ketemuan dengan anakku saat ini dan itu ada makna dan hikmahnya. Dan ini pembelajaran, dua kata saja innalillahiwainnalillahi rajiun, laula walaquata.

    Aku akan bertemu dengan KPAI dan aku akan bicara dengan Kak Seto mohon KPAI menjembatani karena bicaranya aku disuruh menandatangani surat, aku dipaksakan menitipkan anak dan semua jadi konsumsi publik, seharusnya ini kan internal tapi sekarang sudah jadi konsumsi publik, saya nggak tahu tujuannya apa ya udah innalillahiwainnalillahi rajiun, laula walaquata.

    Mudah-mudahan ini proses pembelajaran, malam ini aku mau sholat syukur bersyukur, besok potong kambing atau ayam nggak tahu insya Allah ini menjadi jalan yang terbaik.

    (kpl/hen/faj)

    Editor:

    Fajar Adhityo


REKOMENDASI
TRENDING