Selamat Jalan Mamiek PrakosoMamiek Prakoso, Pelawak 'Makbedunduk' Itu Telah Tiada

Selasa, 05 Agustus 2014 12:31 Penulis: Darmadi Sasongko
Mamiek Prakoso, Pelawak 'Makbedunduk' Itu Telah Tiada Mamiek Prakoso © KapanLagi.com
Kapanlagi.com - Oleh: Darmadi Sasongko

Grup komedian Srimulat selalu dipenuhi oleh orang-orang kreatif. Mereka memiliki gaya lawakan yang khas dibanding grup atau para pelawak lain. Kendati beranggota ratusan orang, satu sama lain memiliki gaya eksplorasi banyolan yang berbeda. Tak pernah kering dalam mengocok perut pencintanya.

Lihat saja, almarhum Asmuni dengan gaya kreatif memainkan kata hil yang mustahal dan tunjep poin (to the point), atau Timbul (alm) yang membuat penonton tertawa dengan kata 'akan tetapi'. Kemudian Gogon, dengan gaya rambut mohawk, dan gayanya melipat tangan sambil membungkuk, berikut cara duduknya yang sering melorot. Tarzan selalu berpenampilan necis dan tegap ala militer, serta tidak pernah tersenyum saat membanyol.

Penampilan Tarzan berbeda dengan Nunung yang sering terpingkal-pingkal di panggung, bahkan tidak jarang terkencing-kencing saat melawak. Sedangkan sosok Tessy paling legendaris, dengan gayanya bak perempuan tercantik sedunia ketika digoda para lelaki.

Minggu (3/8) lalu sekitar pukul 15.00 WIB, personel Srimulat kembali berkurang. Mamiek Prakoso berpulang ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa di Rumah Sakit Brayat Solo, Jawa Tengah dalam usia 53 tahun karena penyakit liver. Jenazah Mamiek dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Astana Sidowayah, Sukuh Sidowayah, Desa Jenggrik, Kedunggalar Ngawi, Jawa Timur, Senin (4/8).

Selain sebagai komedian, Mamiek dikenal juga berkiprah di dunia tarik suara dan bintang akting. Seperti personel Srimulat lain, almarhum memiliki gaya khas lawakan. Dia kerap menggunakan kata bahasa Jawa makbedunduk dan makjegagik. Dua kata tersebut memiliki arti kurang lebih mendadak atau sekonyong-konyong. Lewat gayanya yang cerdas, Mamiek biasanya menyelipkan kata tersebut dalam penampilannya.

Tessy, Tjujuk, Gogon, Mamiek © KapanLagi.comTessy, Tjujuk, Gogon, Mamiek © KapanLagi.com

Mamiek juga mengeksplorasi penampilannya, dengan rambut di bagian atas telinga kiri dan kanan diberi warna kekuningan. Karena itu, dia memiliki julukan Mamiek Podang, karena perpaduan warna kuning dan rambut hitamnya menyerupai Manuk Podang atau Burung Kepodang. Namun seiring kesibukan, warna kuning itu sering memudar, berubah memutih.

Mamiek sendiri memang terlahir dari keluarga seniman. Dia adalah anak ketiga dari Ranto Edi Gudel (alm) atau sering disebut Mbah Gudel yang juga seniman lawak Srimulat. Bahkan ayah Mamiek sangat dikenal sebagai pemain kelompok Wayang Orang Sriwedari (1960-an) dan pelakon sejumlah ketoprak tobong era 1970-an.

Berpulangnya Mamiek tentu sebuah kehilangan besar bagi dunia komedi Tanah Air.  Seorang Mamiek telah memberi warna gaya komedi yang santun dan cerdas. Barangkali sangat kontras dengan gaya komedi yang sekarang ini banyak menjadi tontonan di televisi.

Kita tidak pernah mendengar Mamiek, bahkan para personel Srimulat lain terkena masalah karena lawakannya, atau harus berurusan dengan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) karena banyolan-banyolan yang kurang patut. Lawakan Mamiek kreatif, selalu sehat, jauh dari cacian yang menyakitkan dan mengundang protes.

Almarhum patut menjadi guru, dan diteladani oleh para pelawak muda atas profesionalismenya selama ini. Terpenting juga, seorang Mamiek patut dicontoh karena cinta, setia dan menjaga profesinya sebagai pelawak sampai akhir hayat.

(kpl/dar)


REKOMENDASI
TRENDING