Transgender & Operasi Kelamin: Gender Bukan Cuma Perempuan dan Laki-Laki

Jum'at, 20 April 2018 11:35 Penulis: Guntur Merdekawan
Transgender & Operasi Kelamin: Gender Bukan Cuma Perempuan dan Laki-Laki Dorce - Merlyn Sopjan / Credit: KapanLagi

Kapanlagi.com - Isu transgender di Indonesia ibaratnya seperti gunung berapi, walau lama tak meletus, bukan berarti sudah mati. Ada momen-momen di mana isunya tak lagi terdengar, namun tak menutup kemungkinan juga untuk kembali menjadi pembicaraan panas, seperti yang terjadi belakangan ini. Ya, gara-gara Lucinta Luna. Namun, hal ini bukan perkara baru di dunia hiburan tanah air. Sekitar 3 dekade silam, isu serupa juga sempat membuat publik geger. Kala itu sosok yang menjadi sorotan adalah Dedi Yuliardi Ashadi, alias Dorce Gamalama.

Lantas, apakah dua sosok ini saja yang membuat 'gunung berapi kembali meletus'? Tentunya tak hanya mereka, banyak pesohor lainnya yang kerap jadi pembicaraan terkait isu yang sama, meski getarannya tak sehebat dua nama di atas.

Lucinta, penyebab 'meletusnya' isu transgender era millenial/ Credit: KapanLagi - Akrom SukaryaLucinta, penyebab 'meletusnya' isu transgender era millenial/ Credit: KapanLagi - Akrom Sukarya

Nah, isu terkait Lucinta Luna dan Dorce sendiri bisa dibilang serupa tapi tak sama. Keduanya menjadi perdebatan karena gender yang tak semata laki-laki atau perempuan. Hingga hari ini, Lucinta masih keukeuh menyebut dirinya sebagai seorang perempuan, meski sudah banyak bukti bermunculan yang menuding dirinya telah melakukan operasi kelamin dan mengganti identitas dan namanya. Sementara itu, Dorce tak pernah menutup-nutupi latar belakangnya sebagai seseorang yang terlahir pria, maupun keputusannya untuk berganti kelamin dan identitas. Celakanya, keduanya sama-sama mendapat kritik pedas dari publik. Maju kena, mundur kena, istilahnya.

Anyway, mari kita simpan sejenak 'drama pengakuan' di atas untuk pembahasan lainnya. Yang jadi masalah, tepatkah Lucinta yang menyatakan diri sebagai perempuan, ataukah lebih tepat Dorce yang banyak disebut masyarakat sebagai transseksual?

Sebelum kita bicara jauh mengenai fenomena ini, ada baiknya kita mencoba memahami berbagai istilah yang sering digunakan untuk menyebut sosok-sosok dengan gender 'istimewa' tersebut.

Gender Anomali / Credit: Liputan6.com - Tri Yasni dan AbdillahGender Anomali / Credit: Liputan6.com - Tri Yasni dan Abdillah

Sumber: National Geographic Indonesia, Januari 2017: Eli R Green, Center for Human Sexuality Studies; Luca Maurer, Center for Lesbian, Gay, Bisexual & Transgender Education, Outreach and Services

Infografis di atas dibuat berdasarkan study yang dilakukan National Geographic Indonesia, Januari 2017, terkait info dari Eli R Green & Luca Maurer, para penggiat dunia Transgender & Sexuality Studies and Education. Mungkin penyebutan ini akan selalu bergesekan dengan berbagai pendapat pribadi maupun golongan yang ada di masyarakat, namun nyatanya, mau tak mau kita harus membuka mata bahwa seiring berjalannya waktu, gender tak lagi dikotakkan sebagai laki-laki dan perempuan saja.

Yang pasti, mereka lahir dengan fisik laki-laki atau perempuan. Atau bahkan, beberapa orang lahir dengan kondisi alat kelamin yang tak sempurna, kombinasi laki-laki dan perempuan, atau tanpa alat kelamin sama sekali. Masing-masing dari mereka pasti punya cerita masa lalu dan juga alasan yang berbeda-berbeda sebelum akhirnya masuk pada golongan pada salah satu gender di atas, baik secara medis maupun psikologis.

Mungkin yang sering kita dengar adalah istilah transgender dan transseksual, namun selain itu masih ada beberapa lainnya juga, seperti Agender, Androgini, Cross Dresser dan beberapa lainnya. Dengan banyaknya anomali yang terjadi, berbagai penamaan seperti Agender, Transgender, Transeksual, Androgini, Cross Dresser dan lainnya pun mulai terdengar masyarakat awam.

Tak hanya penyebutan berbagai golongan 'trans' di atas, salah satu Dokter Spesialis Bedah Plastik ternama Indonesia, Prof Dr dr Djohansjah Marzoeki SP BP RE, justru menyebut transseksual sebagai kondisi awal saat seseorang 'terindikasi' atau dirasakan memiliki kondisi yang harus disembuhkan. Setelah seseorang telah menjalani operasi bedah kelamin, Ia bisa disebut atau dipanggil perempuan atau pria, sesuai dengan proses operasi yang dijalaninya.

Terjebak Dalam Tubuh Yang Salah

Meski secara istilah berbeda, namun jika bicara mengenai alasan, sosok transgender atau transseksual punya satu kesamaan; Merasa jika dirinya terjebak dalam tubuh yang salah alias seharusnya terlahir sebagai sosok berkelamin berbeda. Hanya saja, kondisi psikologi dan juga lingkungan membuat mereka menyadari 'kejanggalan' dalam tubuh mereka di usia yang berbeda-beda.

Melalui bukunya, 'Aku Perempuan', Dorce baru menyadari jika dirinya seharusnya terlahir sebagai perempuan ketika berusia 7 tahun, dan perasaan itu semakin menggebu-gebu saat usianya memasuki 1 dekade. Sementara itu Merlyn Sopjan, seorang transgender yang juga aktivis kesetaraan hak-hak kelompok waria dan aktivis sosial HIV/AIDS baru merasakan kejanggalan dalam tubuhnya ketika berusia 4 tahun.

Merlyn adalah transgender yang berprestasi / Credit: KapanLagiMerlyn adalah transgender yang berprestasi / Credit: KapanLagi



"Pertama kali merasakan sebagai perempuan saat usia 4 tahun. Saya merasakannya ketika saya bermain dengan teman sebaya, saat yang lain memilih menjadi batman, superman dan sebagainya, saat itu saya menjadi boinic woman. Itu sekitar tahun 1977. Tidak ada yang menyuruh, tapi saya alamiah pilih tokoh perempuan itu. Pada usia 4 tahun itu saya sudah mengidentifikasikan diri sebagai perempuan. Tapi tidak terus saya main boneka dan semacamnya. Saya ini anak bungsu dari 4 bersaudara yang diharapkan lahir sebagai laki-laki. Hal ini mematahkan bahwa banyak yang bilang kejadian seperti ini karena salah asuh dan sebagainya," jelas Merlyn ketika sempat berbincang-bincang dengan KapanLagi.com®.

Perjuangan Mencari Jati Diri

Setelah merasa terjebak dalam tubuh yang salah, mereka akan memasuki fase pencarian jati diri yang sebenarnya. Dan pada step ini, hampir semua transgender pasti melewati perjuangan berat dalam misi mendapatkan kebahagiaan mereka yang hakiki. Norma, moral dan konsekuensi sosial tentunya sering menjadi tembok penghalang terbesar dari proses mereka. Cercaan, hujatan, kritik hingga kesulitan lain seakan jadi makanan sehari-hari. Di sini, mental mereka lah yang akan sangat diuji.

Hidup Dorce penuh perjuangan / Credit: KapanLagi - Budy SantosoHidup Dorce penuh perjuangan / Credit: KapanLagi - Budy Santoso



"Kelainan ini telah mengundang ejekan sejak dulu. Tentu saja yang sering terngiang di telinga adalah kata 'banci'. Orang-orang berpikir kelainan dalam diriku adalah semacam penyakit menular. Buktinya, ada beberapa tetangga yang tidak mengizinkan anaknya main denganku karena takut anaknya ikut-ikutan jadi banci. Selain itu, karena sifat keperempuanku menjadikan sebuah alasan bagi teman-teman dan saudara-saudaraku untuk menginjak-injakku," tulis Dorce dalam bukunya.

Nyatanya, tak hanya 2 sosok di atas yang telah mengalami perjuangan berat seperti itu. Tim KapanLagi belum lama ini telah menemui dan berbincang ringan dengan beberapa sosok 'trans' lain yang masing-masing punya keluh kesah maupun kisah dramatis dalam kehidupan anomali mereka. Penasaran seperti apa kisahnya? Simak berita selengkapnya di SINI..

Note: Ada pengakuan mengejutkan dari teman Lucinta Luna juga!

(kpl/gtr)


REKOMENDASI
TRENDING