Metro TV: Pengaduan PD, Kekuasaan Lawan Media
Suryopratomo @mediaindonesia.com
Kapanlagi.com - Stasiun televisi Metro TV, menilai pengaduan Partai Demokrat (PD) atas pemberitaan Metro TV dan TV One ke Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) sebagai cerita lama sebuah kekuasaan melawan media massa yang bersikap kritis.
"Dari dulu memang selalu seperti ini, kecenderungan kekuasaan adalah tidak mau dikoreksi. Sehingga ketika ada sebuah media massa yang mencoba untuk kritis pada rezim yang berkuasa maka rezim tersebut akan cenderung untuk merepresi," kata Suryopratomo dalam Bedah Pers: Metro TV dan TVOne, Menjawab Pengaduan Partai Demokrat ke KPIÂ di Jakarta, Selasa (06/03/2012).
Suryopratomo mengatakan bahwa pola ini sudah berjalan lama sejak kekuasaan Orde Baru. Dia bercerita bahwa insan pers sudah terbiasa dipanggil oleh Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia (Mabes Polri) karena berita tertentu, bahkan jika kekuasaan terganggu bisa jadi media tersebut dibredel.
Sebelumnya, pada 23 Februari lalu, Wakil Sekretaris Komisi Pemenangan Pemilu Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Demokrat, Ferry Juliantoro melaporkan ke Komisi Penyiaran Indonesia terkait pemberitaan dua stasiun televisi, Metro TV dan TVOne, yang dinilai menjelek-jelekkan partai tersebut.
"Dalam kacamata kekuasaan, pemberitaan tentang Partai Demokrat di stasiun televisi kami akan cenderung dimaknai sebagai upaya penggiringan opini publik untuk menjatuhkan pemerintahan," kata Suryopratomo.
Partai Demokrat adalah pemenang pemilihan umum tahun 2009 dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono juga merupakan pendiri partai ini.
Padahal, menurut Suryopratomo, apa yang disiarkan oleh stasiun televisi tersebut tentang Partai Demokrat adalah pengakuan dari saksi-saksi selama persidangan kasus korupsi Wisma Atlet yang melibatkan sejumlah petinggi partai tersebut, di antaranya adalah Muhammad Nazaruddin dan Angelina Sondakh.
"Metro TV tidak pernah berniat untuk menjatuhkan Angelina Sondakh atau Ketua DPP Partai Demokrat Anas Urbaningrum, kami juga tidak pernah menetapkan kebijakan editorial berdasarkan emosi semata," ujar Suryopratomo yang beberapa jam sebelumnya menerima penghargaan Press Card Number One dari Dewan Pers.
Suryopratomo menjelaskan bahwa untuk berkembang, sebuah media massa harus mempunyai idealisme, profesionalisme, dan kredibilitas untuk bisa bertahan.
"Jika media massa hanya diterbitkan untuk kepentingan politik tertentu maka saya jamin media tersebut tidak akan bertahan lama. Konsumen berita di Indonesia itu kritis, mereka bisa memilah mana informasi yang ditunggangi kepentingan dan mana yang tidak," tutur Suryopratomo, menegaskan.   Â
(Setelah 8 tahun menikah, Raisa dan Hamish Daud resmi cerai.)
(antara/dar)
Advertisement
-
Teen - Fashion Kasual Celana Jeans Ala Anak Skena: Pilihan Straight sampai Baggy yang Wajib Dicoba
