Kapanlagi.com - Setiap menjelang peringatan Maulid, umat Islam kerap bertanya-tanya, rabiul awal bulan apa dalam sistem penanggalan Islam. Rasa penasaran ini wajar karena bulan tersebut menyimpan sejumlah peristiwa besar dalam sejarah Islam.
Jawaban singkat untuk pertanyaan rabiul awal bulan apa adalah bulan ketiga dalam kalender Hijriah, tepat setelah Muharram dan Safar. Bulan ini paling dikenal sebagai bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW sehingga sering disebut bulan Maulid.
Dilansir dari Merriam-Webster, Rabiul Awal secara harfiah berarti Rabi pertama dan tercatat sebagai bulan ketiga dalam tahun Islam. Nama ini bahkan sudah dikenal jauh sebelum masa kenabian dan berkaitan erat dengan pergantian musim di Jazirah Arab.
Advertisement
Jawaban paling ringkas dari pertanyaan rabiul awal bulan apa adalah bulan ketiga dalam kalender Hijriah. Posisinya berada tepat setelah bulan Muharram dan Safar, serta sebelum Rabiul Akhir atau Rabiuts Tsani.
Sebagaimana dilaporkan Islamic Relief, kalender Hijriah berbasis peredaran bulan dan terdiri dari dua belas bulan, dengan setiap bulan dimulai saat hilal terlihat. Dalam urutan itu, Rabiul Awal berada di posisi ketiga dari dua belas bulan yang ada.
Karena sistem penanggalan Islam bersifat lunar, posisi Rabiul Awal terus bergeser terhadap kalender Masehi setiap tahun. Meski namanya bermakna musim semi, bulan ini bisa jatuh pada musim apa pun sepanjang tahun jika dibandingkan dengan penanggalan Masehi.
Bagi masyarakat Nusantara, Rabiul Awal juga akrab dikenal lewat penyebutan lain dalam tradisi lokal. Dalam sistem penanggalan Jawa, bulan ini disebut Mulud, diambil dari peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Secara bahasa, nama Rabiul Awal tersusun dari dua kata Arab, yaitu rabi yang berarti musim semi dan al-awwal yang berarti pertama. Gabungan keduanya bermakna musim semi pertama, sebagai pembeda dengan Rabiul Akhir yang menandai musim semi kedua.
Mengacu pada Islamicity, nama Rabiul Awal yang berarti musim semi pertama sudah diperkenalkan pada era pra-Islam, kira-kira tahun 412 M, yakni pada masa Kilab bin Murrah, kakek kelima Nabi Muhammad SAW. Bahkan, dalam tradisi Arab kuno bulan ini sempat dikenal dengan sebutan al-Khawwan yang berkonotasi pengkhianatan, sebelum akhirnya menjadi bulan yang mulia.
Penamaan dengan unsur musim semi bukan tanpa alasan. Pada masa itu, bulan tersebut identik dengan mekarnya bunga dan turunnya hujan yang menyuburkan tanah gersang di Jazirah Arab, sebuah makna yang kaya jika ditelusuri dari sejarah dan makna nama bulan.
Menariknya, kata maulid yang melekat pada bulan ini berasal dari akar kata walada yang bermakna melahirkan. Istilah inilah yang kemudian populer sebagai penanda peringatan kelahiran Rasulullah, sekaligus menginspirasi arti nama Maulida yang banyak dipilih orang tua Muslim.
Bulan Rabiul Awal bukan sekadar penanda urutan dalam kalender, melainkan panggung bagi sejumlah peristiwa besar dalam sejarah Islam. Rangkaian kejadian inilah yang membuat banyak orang ingin tahu lebih jauh, rabiul awal bulan apa dan mengapa begitu istimewa.
Mengutip Muslim Aid, Rabiul Awal 1448 H diperkirakan dimulai pada 14 Agustus 2026 dan berakhir pada 11 September 2026, dengan tanggal 12 Rabiul Awal yang identik dengan Maulid jatuh sekitar 25 Agustus 2026. Penetapan tanggal pastinya tetap bergantung pada hasil rukyatul hilal di masing-masing wilayah.
Keistimewaan Rabiul Awal berpusat pada lahirnya sosok yang menjadi rahmat bagi semesta. Tak heran bila umat Islam di berbagai belahan dunia menyambutnya dengan penuh suka cita melalui peringatan Maulid Nabi.
Para ulama klasik turut menegaskan keutamaan momen ini. Imam al-Sakhawi, dikutip dari Rabata, menyatakan, "Di setiap negeri dan kota, umat Islam senantiasa merayakan kelahiran beliau dengan menggelar majelis-majelis mulia, memperbanyak sedekah di malam harinya, menampakkan kegembiraan, dan membacakan kisah kelahirannya yang agung." Imam Jalaluddin as-Suyuti, dikutip dari Rabata, menuturkan, "Nikmat apa yang lebih besar daripada kelahiran Nabi, sang pembawa rahmat, pada hari ini?" Ibnu al-Jauzi, sebagaimana dimuat Rabata, mengatakan, "Kelahiran itu menjadi keamanan sepanjang tahun sekaligus kabar gembira bahwa segala harapan dan keinginan akan terpenuhi."
Berikut sejumlah keutamaan yang menjadikan bulan Rabiul Awal begitu dimuliakan:
Tidak ada ibadah wajib khusus yang disyariatkan hanya untuk bulan Rabiul Awal. Meski begitu, umat Islam sangat dianjurkan mengisi bulan mulia ini dengan beragam amal saleh untuk mempererat kecintaan kepada Rasulullah.
Salah satu amalan utamanya adalah memperbanyak shalawat. Dalam hadis riwayat Muslim nomor 408, dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda, "Barang siapa bershalawat kepadaku satu kali, maka Allah bershalawat kepadanya sepuluh kali."
Rabiul Awal adalah bulan ketiga dalam kalender Hijriah. Urutannya berada setelah bulan Muharram dan Safar, serta sebelum Rabiul Akhir (Rabiuts Tsani).
Bukan, Rabiul Awal tidak termasuk dalam empat bulan haram. Empat bulan yang dimuliakan itu adalah Muharram, Rajab, Dzulqadah, dan Dzulhijjah, sedangkan keistimewaan Rabiul Awal justru bersumber dari kelahiran Nabi Muhammad SAW pada bulan tersebut.
Bulan Rabiul Awal disebut bulan Maulid karena Nabi Muhammad SAW lahir pada 12 Rabiul Awal. Kata maulid sendiri berarti kelahiran, sehingga peringatan Maulid Nabi identik dengan bulan ini.
Memahami rabiul awal bulan apa membantu kita menyelami betapa istimewanya bulan ketiga dalam kalender Hijriah ini. Semoga setiap peringatan Maulid menumbuhkan kecintaan yang lebih dalam kepada Nabi Muhammad SAW sekaligus semangat meneladani akhlak mulianya.
Daftar Referensi
(kpl/fbi)