Apa Arti Akronim: Pengertian, Fungsi, dan Contoh Lengkap

Apa Arti Akronim: Pengertian, Fungsi, dan Contoh Lengkap
apa arti akronim

Kapanlagi.com - Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menggunakan kata-kata pendek yang sebenarnya merupakan gabungan dari beberapa kata panjang. Kata-kata seperti "rudal", "sidak", atau "puskesmas" adalah contoh dari apa yang disebut akronim.

Akronim merupakan salah satu bentuk pemendekan kata yang sangat umum digunakan dalam bahasa Indonesia. Berbeda dengan singkatan biasa, akronim memiliki karakteristik khusus dalam cara pembentukan dan pelafalannya.

Memahami apa arti akronim sangat penting untuk meningkatkan kemampuan berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Mari kita pelajari lebih dalam tentang konsep, fungsi, dan berbagai contoh akronim yang sering kita jumpai.

1. Pengertian Akronim Menurut Para Ahli

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), akronim adalah kependekan yang berupa gabungan huruf atau suku kata atau bagian lain yang ditulis dan dilafalkan sebagai kata yang wajar. Definisi ini menunjukkan bahwa akronim tidak hanya sekadar pemendekan, tetapi harus dapat diucapkan layaknya kata biasa.

Kridalaksana mendefinisikan akronim sebagai kependekan yang berupa gabungan huruf, suku kata, atau bagian lain yang ditulis dan dilafalkan sebagai kata. Penggabungan dan pelafalannya harus sesuai kaidah fonotaktik yang berlaku dalam bahasa tersebut.

Dalam perspektif linguistik internasional, Webster's Ninth New Collegiate Dictionary menjelaskan bahwa akronim adalah kata yang dibentuk dari huruf awal, suku kata, atau huruf dari kata-kata lain. Sementara itu, Rahman menerangkan akronim sebagai hasil gabungan silabel kata atau huruf dari suatu kelompok kata atau gabungan silabel kata dalam frase.

Hareun Ana dalam karyanya "Akronim dalam Bahasa Indonesia Tinjauan Linguistik dan Sosio-politis Perkembangannya" mengutip Dictionary Language and Linguistic yang menyatakan bahwa akronim adalah kata yang dibentuk dari huruf-huruf awal kata-kata dalam sebuah frasa.

2. Perbedaan Akronim dengan Singkatan

Banyak orang masih keliru membedakan antara akronim dan singkatan. Perbedaan utama terletak pada cara pelafalan dan pembentukan katanya. Akronim dapat dilafalkan dan diucapkan sebagai kata yang utuh, sedangkan singkatan tidak selalu membentuk kata yang bisa diucapkan sehingga dilafalkan huruf demi huruf.

Dari segi pembentukan, akronim terbentuk dari gabungan huruf awal, suku kata, atau gabungan keduanya dari deret kata yang membentuk kata baru. Singkatan bisa dibentuk dari huruf awal, suku kata, atau bagian kata dari satu atau beberapa kata tanpa harus membentuk kata yang dapat diucapkan.

Tujuan umum singkatan adalah untuk memperpendek penulisan, sedangkan akronim bertujuan untuk memperpendek sekaligus menciptakan bentuk yang efisien dan mudah diucapkan. Dari segi status kebahasaan, singkatan tidak selalu menjadi kata baku dalam kamus, sedangkan akronim sering diakui sebagai bentuk kata baru dalam KBBI.

Contoh perbedaan konkret: "ITB" (Institut Teknologi Bandung) adalah singkatan yang dibaca huruf demi huruf "I-T-B", sedangkan "rudal" (peluru kendali) adalah akronim yang dibaca sebagai satu kata utuh "ru-dal".

3. Fungsi dan Manfaat Akronim

Akronim memiliki beberapa fungsi penting dalam komunikasi sehari-hari. Fungsi utama akronim adalah sebagai penyingkat nama atau frasa panjang agar lebih mudah diingat dan diucapkan. Keterbatasan daya ingat manusia mendorong penciptaan akronim untuk memudahkan mengingat konsep atau nama yang kompleks.

Sebagai contoh, menghafal "Ipoleksosbudhankam" lebih mudah daripada menghafal "ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan, dan keamanan" secara berurutan. Nama "Hamka" jauh lebih familiar daripada "Haji Abdul Malik Karim Amrullah".

Selain sebagai penyingkat, akronim juga berfungsi sebagai semboyan dan media humor. Banyak daerah di Indonesia menggunakan akronim sebagai semboyan daerah. Kabupaten Kediri memiliki semboyan "Bersinar Terang" yang berarti bersih, menarik, tertib, dan aman. Kota Jombang dikenal dengan semboyan "Kota Beriman" yakni bersih, indah, dan aman.

Akronim juga dapat berfungsi sebagai media humor untuk memperkuat hubungan sosial, seperti "Himapala" (himpunan mahasiswa paling lama) atau "Sekwilda" (sekitar wilayah dada). Namun, penggunaan akronim humor harus dipastikan tidak menimbulkan konflik atau menyinggung pihak tertentu.

4. Jenis-Jenis Akronim Berdasarkan Pembentukan

Berdasarkan cara pembentukannya, akronim dapat diklasifikasikan menjadi berbagai jenis. Pengekalan suku pertama dari tiap komponen merupakan jenis yang paling umum, seperti "Orba" dari "orde baru". Jenis ini mengambil suku kata pertama dari setiap kata pembentuk.

Pengekalan suku pertama komponen pertama dan pengekalan kata seutuhnya juga sering digunakan, contohnya "angair" dari "angkutan air". Ada pula pengekalan suku kata terakhir dari tiap komponen, seperti "gatrik" dari "tenaga listrik".

Jenis lain meliputi pengekalan huruf pertama tiap komponen frasa kemudian pengekalan dua huruf pertama komponen terakhir, seperti "Aika" dari "Arsitek Insinyur Karya". Pengekalan dua atau tiga huruf pertama tiap komponen juga umum dijumpai, seperti "Unud" (Universitas Udayana) dan "Puslat" (Pusat latihan).

Menurut Keamanan SIBER Esensi Keamanan Sistem Informasi karya I Gede Putu Krisna dkk, dalam dunia teknologi informasi juga banyak ditemukan akronim seperti HTTP (Hypertext Transfer Control Protocol) dan HTTPS (Hypertext Transfer Control Protocol Secure) yang memudahkan komunikasi teknis.

5. Aturan Penulisan Akronim yang Benar

Penulisan akronim diatur dalam Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) dan memiliki aturan khusus. Akronim nama diri yang terbentuk dari huruf awal setiap kata ditulis dengan huruf kapital tanpa tanda titik, seperti LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) dan BIN (Badan Intelijen Negara).

Akronim nama diri yang berupa gabungan suku kata atau gabungan huruf dan suku kata ditulis dengan huruf awal kapital, seperti Bulog (Badan Urusan Logistik) dan Bappenas (Badan Perencanaan Pembangunan Nasional). Penulisan ini membedakan akronim nama diri dengan akronim umum.

Akronim yang bukan nama diri ditulis dengan huruf kecil, seperti "rudal" (peluru kendali), "sidak" (inspeksi mendadak), dan "puskesmas" (pusat kesehatan masyarakat). Aturan ini membantu pembaca membedakan jenis akronim yang digunakan.

Dalam pembuatan akronim baru, ada dua syarat yang harus diperhatikan: jumlah suku kata akronim tidak melebihi tiga suku kata, dan akronim dibentuk dengan mengindahkan keserasian kombinasi vokal dan konsonan sesuai pola kata bahasa Indonesia yang lazim.

6. Contoh Akronim dalam Berbagai Bidang

Akronim dapat ditemukan dalam berbagai bidang kehidupan. Dalam bidang pemerintahan, terdapat akronim seperti Kemendagri (Kementerian Dalam Negeri), Kemenlu (Kementerian Luar Negeri), dan Kemenkeu (Kementerian Keuangan). Akronim-akronim ini memudahkan penyebutan nama lembaga yang panjang.

Bidang pendidikan juga kaya akan akronim, seperti Akpol (Akademi Polisi), Calistung (baca tulis hitung), dan Toga (Tanaman Obat Keluarga). Dalam dunia olahraga, kita mengenal Persib (Persatuan Sepakbola Indonesia Bandung), Persija (Persatuan Sepakbola Indonesia Jakarta), dan Deltras (Delta Putra Sidoarjo).

Akronim geografis juga sangat populer, seperti Jabar (Jawa Barat), Jateng (Jawa Tengah), Jatim (Jawa Timur), Kalbar (Kalimantan Barat), dan Sumut (Sumatera Utara). Bahkan ada akronim yang menggabungkan beberapa wilayah seperti Jabodetabekpunjur (Jakarta-Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi-Puncak-Cianjur).

Dalam kehidupan sehari-hari, kita juga mengenal akronim makanan seperti Batagor (bakso tahu goreng), Cilok (aci dicolok), Cireng (aci digoreng), dan Warteg (warung tegal). Akronim-akronim ini menunjukkan kreativitas masyarakat dalam menciptakan nama yang mudah diingat.

7. FAQ (Frequently Asked Questions)

Apa perbedaan utama antara akronim dan singkatan?

Perbedaan utama terletak pada cara pelafalan. Akronim dilafalkan sebagai kata utuh seperti "rudal" atau "sidak", sedangkan singkatan dilafalkan huruf demi huruf seperti "K-T-P" atau "S-I-M". Akronim juga harus dapat diucapkan sesuai kaidah fonotaktik bahasa Indonesia.

Bagaimana cara membentuk akronim yang baik?

Akronim yang baik harus memenuhi dua syarat: tidak melebihi tiga suku kata dan dibentuk dengan memperhatikan keserasian kombinasi vokal dan konsonan. Akronim juga harus mudah diucapkan, mudah diingat, dan tidak menimbulkan konflik makna dengan kata lain.

Apakah semua akronim harus ditulis dengan huruf kapital?

Tidak. Penulisan akronim tergantung jenisnya. Akronim nama diri ditulis dengan huruf kapital (LIPI, BIN), akronim nama diri gabungan suku kata ditulis dengan huruf awal kapital (Bulog, Bappenas), sedangkan akronim umum ditulis dengan huruf kecil (rudal, sidak).

Bisakah akronim menjadi kata baku dalam kamus?

Ya, banyak akronim yang telah menjadi kata baku dalam KBBI seperti "rudal", "sidak", "puskesmas", dan "balita". Akronim yang sering digunakan dan diterima masyarakat luas dapat diakui sebagai kata baku dalam bahasa Indonesia.

Mengapa akronim penting dalam komunikasi?

Akronim penting karena memudahkan komunikasi dengan menyingkat frasa atau nama panjang menjadi bentuk yang lebih efisien. Akronim membantu menghemat waktu dalam berbicara dan menulis, serta memudahkan mengingat konsep atau nama yang kompleks.

Apakah ada batasan dalam membuat akronim baru?

Ya, ada batasan. Akronim sebaiknya tidak terlalu pendek karena berisiko bentrok dengan akronim lain, dan tidak terlalu panjang karena sulit diucapkan. Akronim juga harus sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia dan tidak menimbulkan makna yang tidak pantas atau menyinggung.

Bagaimana akronim berbeda dengan abreviasi?

Akronim adalah bagian dari abreviasi. Abreviasi adalah istilah umum untuk semua bentuk pemendekan kata, termasuk singkatan, akronim, kontraksi, dan penggalan. Akronim adalah jenis khusus abreviasi yang dapat dilafalkan sebagai kata utuh dan mengikuti kaidah fonotaktik bahasa.

(kpl/fds)

Rekomendasi
Trending