Cara Istikharah Menggunakan Al Quran

Cara Istikharah Menggunakan Al Quran
cara istikharah menggunakan al quran

Kapanlagi.com - Istikharah merupakan salah satu bentuk ibadah yang mengajarkan manusia untuk selalu melibatkan Allah dalam setiap keputusan penting. Secara bahasa, istikharah berarti memohon kebaikan atau meminta dipilihkan yang terbaik dari beberapa pilihan yang dihadapi. Ketika seorang Muslim menghadapi kebimbangan dalam menentukan pilihan, Islam mengajarkan untuk beristikharah kepada Allah Yang Maha Mengetahui segala yang gaib.

Cara istikharah menggunakan Al Quran menjadi salah satu metode yang dipraktikkan oleh sebagian umat Islam sebagai pelengkap dari shalat istikharah. Metode ini dilakukan dengan membuka mushaf Al Quran secara acak setelah melaksanakan shalat dan berdoa, kemudian mencari petunjuk dari ayat-ayat yang terbuka. Meskipun Rasulullah hanya mengajarkan istikharah melalui shalat, beberapa ulama membolehkan praktik istikharah dengan Al Quran sebagai wasilah untuk mendapatkan petunjuk.

Melansir dari jurnal Spiritualita yang berjudul "Pergeseran Pemahaman Konsep Istikharah dari Bertanya Menuju Berserah Diri" oleh Ibnu Hajar Ansori, istikharah secara istilah adalah memohon dipilihkan yang terbaik dan lebih utama atas suatu perkara saat dihadapkan dengan pilihan. Praktik ini menunjukkan kerendahan hati seorang hamba yang mengakui keterbatasannya dalam mengetahui masa depan dan menyerahkan segala urusannya kepada Allah SWT.

1. Pengertian dan Dasar Hukum Istikharah

Istikharah adalah ibadah sunnah yang diajarkan langsung oleh Rasulullah SAW kepada para sahabatnya. Dalam sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Jabir bin Abdillah RA, disebutkan bahwa Rasulullah mengajarkan istikharah dalam setiap urusan sebagaimana beliau mengajarkan surat dari Al Quran. Hadits ini menjadi landasan utama disyariatkannya shalat istikharah dalam Islam.

Secara terminologi, istikharah berarti meminta kepada Allah untuk memilihkan yang terbaik dari dua atau beberapa pilihan yang dihadapi. Ibadah ini dilakukan ketika seseorang mengalami kebimbangan dalam mengambil keputusan penting seperti memilih pekerjaan, tempat tinggal, pasangan hidup, atau keputusan penting lainnya yang bersifat mubah (boleh). Istikharah tidak dilakukan untuk perkara yang sudah jelas hukumnya, baik yang wajib, sunnah, makruh, maupun haram.

Hukum melaksanakan shalat istikharah adalah sunnah muakkad (sangat dianjurkan) bagi setiap Muslim yang menghadapi pilihan sulit. Dengan beristikharah, seorang hamba menunjukkan ketawakalannya kepada Allah dan mengakui bahwa hanya Allah yang mengetahui mana yang terbaik untuk hambanya. Praktik ini memperkuat keimanan dan mendekatkan diri kepada Allah SWT dalam setiap aspek kehidupan.

2. Tata Cara Shalat Istikharah yang Benar

Shalat istikharah dilaksanakan dengan cara yang telah diajarkan Rasulullah SAW. Pertama-tama, seorang Muslim harus berniat untuk melaksanakan shalat istikharah dua rakaat. Niat dapat diucapkan dalam hati atau lisan dengan lafal: "Ushalli sunnatal istikharati rak'ataini lillahi ta'ala" yang artinya "Aku niat shalat istikharah dua rakaat karena Allah ta'ala."

Setelah berniat, lakukan takbiratul ihram dan mulai shalat dua rakaat seperti shalat sunnah pada umumnya. Pada rakaat pertama, setelah membaca Al-Fatihah, dianjurkan membaca surat Al-Kafirun. Kemudian pada rakaat kedua, setelah Al-Fatihah, dianjurkan membaca surat Al-Ikhlas. Namun perlu dicatat bahwa membaca kedua surat tersebut bukanlah keharusan, yang wajib hanya membaca surat Al-Fatihah saja.

Setelah menyelesaikan shalat dua rakaat dengan sempurna, dilanjutkan dengan membaca doa istikharah yang diajarkan Rasulullah. Doa ini dibaca setelah salam, bukan di dalam shalat. Dalam doa tersebut, sebutkan dengan jelas perkara yang sedang dihadapi dan mohon kepada Allah untuk memilihkan yang terbaik. Doa istikharah mengandung permohonan agar Allah memberikan kemudahan jika pilihan tersebut baik, dan menjauhkan jika pilihan tersebut buruk bagi kehidupan dunia dan akhirat.

3. Cara Istikharah Menggunakan Al Quran Menurut Ulama

Cara istikharah menggunakan Al Quran merupakan praktik yang dilakukan sebagai pelengkap dari shalat istikharah. Meskipun Nabi Muhammad SAW hanya mengajarkan istikharah melalui shalat, beberapa ulama membolehkan praktik mencari petunjuk melalui ayat-ayat Al Quran. Imam Husain bin Yahya al-Zandawisti dari kalangan Hanafi dan Syaikh Ismail al-Haqqi dalam kitab tafsirnya menyatakan kebolehan praktik ini.

Menurut riwayat yang dikutip dari Alusi dalam Tafsir Ruhul Ma'ani, disebutkan bahwa dua sahabat Nabi yaitu Ali bin Abi Thalib dan Mu'adz bin Jabal pernah melakukan istikharah menggunakan Al Quran. Al-Zandawisti menegaskan bahwa istikharah dengan Al Quran tidak termasuk dalam kategori azlam (praktik jahiliyah yang diharamkan) karena dilakukan dengan niat memohon petunjuk Allah melalui kalam-Nya yang suci.

Adapun tata cara istikharah menggunakan Al Quran yang diriwayatkan dari Sayyidina Ali adalah dengan membaca surat Al-Ikhlas sebanyak tujuh kali, kemudian berdoa sebanyak tiga kali dengan doa: "Allahumma bikitabika tafa'altu, wa 'alaika tawakkaltu, Allahumma arini fi kitabika ma huwal maktuumu min sirrikal maknuuni fi ghaibika" yang artinya "Ya Allah, hanya dengan kitab-Mu (Al Quran) saya optimis, dan hanya kepada-Mu aku berpasrah. Ya Allah, tunjukkan dalam kitab-Mu apa yang tersembunyi dari rahasia-Mu yang tersembunyi."

4. Metode Istikharah dengan Al Quran Versi KH Sujadi

KH Sujadi dari Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Pringsewu pernah memberikan ijazah amalan istikharah dengan Al Quran yang mengambil landasan dari surat Al-An'am ayat 59. Ayat ini menegaskan bahwa kunci-kunci semua yang gaib ada pada Allah dan tidak ada yang mengetahui selain Dia, termasuk apa yang tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).

Tata cara istikharah menurut metode ini adalah sebagai berikut: Pertama, kerjakan shalat istikharah sebagaimana telah diajarkan Rasulullah. Kedua, membaca surat Al-Fatihah untuk Nabi Muhammad SAW, Nabi Khidir, dan shahibul ijazah. Ketiga, membaca tujuh kali surat Al-An'am ayat 59. Keempat, buka Al Quran secara acak satu kali. Kelima, dari halaman yang terbuka, buka lagi tujuh halaman Al Quran ke depan. Keenam, pada halaman tersebut, bacalah baris ketujuhnya.

Pada baris ketujuh inilah akan ditemukan jawaban dari istikharah yang dilakukan. Ayat yang ditemukan kemudian direnungkan maknanya dan dikaitkan dengan persoalan yang sedang diistikharahkan. Jika ingin lebih menguatkan, dapat mengulangi shalat istikharah dan ijazah ini kembali. KH Sujadi mengingatkan bahwa apa pun jawaban yang ditemukan harus dikembalikan kepada Allah SWT, karena hanya Allah yang berhak menentukan takdir manusia.

5. Metode Istikharah dengan Al Quran Versi Habib Muhammad Muthohar

Habib Muhammad Muthohar mengajarkan metode istikharah dengan Al Quran yang sedikit berbeda. Metode ini dimulai dengan melaksanakan shalat istikharah dua rakaat, dengan rakaat pertama membaca surat Al-Kafirun setelah Al-Fatihah, dan rakaat kedua membaca surat Al-Ikhlas setelah Al-Fatihah. Setelah shalat selesai, bacalah doa istikharah yang diajarkan Rasulullah dengan menyebutkan perkara yang sedang dihadapi.

Setelah berdoa, bukalah Al Quran seterbukanya secara acak. Pada halaman yang terbuka, hitunglah jumlah huruf kha (خ) dan huruf syin (ش) yang terdapat di halaman tersebut. Huruf kha melambangkan khair (kebaikan), sedangkan huruf syin melambangkan syarr (keburukan). Jika jumlah huruf kha lebih banyak dari huruf syin, maka itu pertanda baik dan dapat melanjutkan pilihan tersebut. Sebaliknya, jika huruf syin lebih banyak, disarankan untuk meninggalkan perkara tersebut.

Metode ini memberikan cara yang lebih teknis dalam mencari petunjuk dari Al Quran. Namun perlu diingat bahwa hasil istikharah bukanlah keputusan mutlak, melainkan petunjuk yang harus diikuti dengan usaha, doa, dan tawakal kepada Allah. Seorang Muslim tetap harus menggunakan akal sehat dan berkonsultasi dengan orang yang lebih berpengalaman sebelum mengambil keputusan final.

6. Pandangan Ulama tentang Hukum Istikharah dengan Al Quran

Para ulama berbeda pendapat mengenai hukum istikharah menggunakan Al Quran. Sebagian ulama membolehkannya sebagai wasilah untuk mendapatkan petunjuk Allah, sementara sebagian lainnya memakruhkan atau bahkan melarangnya. Perbedaan pendapat ini wajar terjadi karena Rasulullah SAW hanya mengajarkan satu jenis istikharah, yaitu melalui shalat dua rakaat yang diikuti dengan doa.

Imam Husain bin Yahya al-Zandawisti dari kalangan Hanafi membolehkan praktik istikharah dengan Al Quran. Beliau berpendapat bahwa mencari petunjuk melalui ayat-ayat Al Quran berbeda dengan praktik azlam yang diharamkan pada zaman jahiliyah. Istikharah dengan Al Quran dilakukan dengan niat memohon petunjuk Allah melalui kalam-Nya yang suci, bukan mengandalkan keberuntungan semata.

Namun menurut mazhab Syafi'i, sebagaimana dijelaskan oleh Imam Syihabbuddin al-Ramli dengan mengutip pandangan al-Damiri, hukum istikharah dengan Al Quran adalah makruh. Melansir dari Mufti of Federal Territory's Office Malaysia, pendapat serupa juga diungkapkan oleh Syaikh Sa'id Ba'ali dalam kitabnya Syarh al-Muqaddimah al-Hadramiyyah. Alasan kemakruhan ini adalah karena tidak ada dalil shahih yang mengajarkan praktik tersebut dari Rasulullah SAW. Oleh karena itu, umat Islam disarankan untuk kembali kepada cara istikharah yang diajarkan langsung oleh Nabi Muhammad SAW melalui shalat dan doa.

7. FAQ (Pertanyaan yang Sering Diajukan)

Apakah istikharah harus dilakukan dengan shalat terlebih dahulu?

Ya, cara istikharah yang diajarkan Rasulullah SAW adalah dengan melaksanakan shalat dua rakaat terlebih dahulu, kemudian dilanjutkan dengan membaca doa istikharah. Shalat merupakan bagian penting dari istikharah karena merupakan bentuk ibadah dan penghambaan kepada Allah sebelum memohon petunjuk-Nya.

Kapan waktu terbaik untuk melaksanakan shalat istikharah?

Shalat istikharah dapat dilaksanakan kapan saja kecuali pada waktu-waktu yang dilarang untuk shalat sunnah, yaitu setelah Subuh hingga matahari terbit dan setelah Ashar hingga matahari terbenam. Waktu yang paling dianjurkan adalah pada sepertiga malam terakhir ketika suasana lebih tenang dan khusyuk untuk bermunajat kepada Allah.

Apakah istikharah harus menunggu mimpi sebagai jawaban?

Tidak, menunggu mimpi bukanlah syarat dalam istikharah. Yang terpenting adalah melaksanakan shalat dan berdoa dengan khusyuk, kemudian bertawakal kepada Allah dan melakukan pilihan yang sudah ditentukan. Jika pilihan tersebut baik, Allah akan memudahkan jalannya. Jika buruk, Allah akan mempersulit atau mengalihkan kita dari pilihan tersebut.

Bolehkah istikharah dilakukan untuk memilih antara perkara wajib dan sunnah?

Istikharah hanya dilakukan untuk perkara-perkara mubah (boleh) atau ketika dihadapkan pada dua pilihan sunnah yang bertabrakan waktunya. Istikharah tidak dilakukan untuk perkara yang sudah jelas hukumnya seperti wajib, sunnah muakkad, makruh, atau haram. Misalnya, tidak perlu istikharah untuk memutuskan apakah akan shalat Zhuhur atau tidak, karena itu sudah wajib hukumnya.

Berapa kali istikharah boleh diulang untuk satu masalah?

Istikharah boleh diulang beberapa kali untuk satu masalah yang sama jika masih merasa ragu atau belum mendapat ketenangan hati. Ibnu Az Zubair bahkan melakukan istikharah sebanyak tiga kali untuk satu urusan. Yang penting adalah tetap ikhlas, khusyuk, dan bertawakal kepada Allah dalam setiap pelaksanaannya.

Apakah cara istikharah menggunakan Al Quran diperbolehkan dalam Islam?

Para ulama berbeda pendapat mengenai hal ini. Sebagian ulama seperti Imam Husain bin Yahya al-Zandawisti membolehkannya sebagai pelengkap dari shalat istikharah, sementara ulama mazhab Syafi'i memakruhkannya karena tidak ada dalil shahih dari Rasulullah. Yang paling aman adalah mengikuti cara istikharah yang diajarkan langsung oleh Nabi Muhammad SAW melalui shalat dan doa.

Apa yang harus dilakukan setelah melaksanakan istikharah?

Setelah melaksanakan istikharah, seorang Muslim harus bertawakal kepada Allah dan melaksanakan pilihan yang telah ditentukan dengan penuh keyakinan. Tidak perlu menunggu tanda-tanda khusus atau mimpi. Jika pilihan tersebut baik, Allah akan memudahkan prosesnya. Jika buruk, Allah akan mengalihkan atau mempersulit sehingga kita terhindar dari keburukan tersebut. Yang terpenting adalah tetap ridha dengan takdir Allah dan terus berusaha serta berdoa.

(kpl/fds)

Rekomendasi
Trending