Cara Melakukan Tawaf dan Sa'i bagi Lansia agar Ibadah Tetap Aman dan Khusyuk
Cara melakukan tawaf dan sa (h)
Kapanlagi.com - Menunaikan ibadah haji dan umrah di usia lanjut merupakan anugerah yang memerlukan perencanaan ekstra. Cara melakukan tawaf dan sa'i bagi lansia perlu diperhatikan secara khusus karena kedua ritual ini menuntut kekuatan fisik yang signifikan.[1]
Tawaf mengelilingi Ka'bah tujuh kali dapat menempuh jarak 0,5 hingga lebih dari 4 km tergantung lantai yang digunakan, sementara sa'i antara Safa dan Marwah menempuh total sekitar 3,15 km untuk tujuh putaran.[2] Bagi jamaah lansia, jarak ini bisa terasa sangat berat tanpa persiapan yang tepat.
WHO merekomendasikan agar jamaah, terutama individu berusia lanjut, menghindari paparan sinar matahari langsung dan minum air dalam jumlah cukup.[3] Memahami cara melakukan tawaf dan sa'i bagi lansia bukan hanya soal teknis ibadah, tetapi juga tentang menjaga keselamatan dan kenyamanan agar ibadah dapat dijalani dengan penuh kekhusyukan.
Advertisement
1. 1. Cara Memilih Waktu Terbaik untuk Tawaf dan Sa'i bagi Lansia
Langkah pertama dalam cara melakukan tawaf dan sa'i bagi lansia adalah memilih waktu pelaksanaan yang tepat. Kepadatan jamaah dan suhu udara sangat berpengaruh terhadap kenyamanan dan keselamatan lansia selama beribadah.[4]
Pilih waktu setelah Subuh atau menjelang dini hari: Waktu setelah Fajr (salat Subuh) hingga pertengahan pagi umumnya merupakan periode yang lebih tenang di Masjidil Haram, dengan cuaca yang lebih sejuk dan jamaah yang lebih sedikit.[4]
Hindari jam-jam puncak kepadatan: Sebagai aturan umum, lakukan tawaf di luar waktu puncak seperti tepat setelah Maghrib dan waktu salat Jumat. Menghindari periode ini dapat membantu menghindari kepadatan.[4]
Pertimbangkan musim dan hari kunjungan: Jamaah lokal memadati masjid pada hari Kamis dan Jumat, menciptakan kepadatan yang lebih tinggi. Liburan sekolah di negara-negara Muslim juga sering meningkatkan jumlah pengunjung.[4]
Gunakan lantai atas untuk tawaf yang lebih nyaman: Lantai atap paling cocok untuk jamaah lansia, keluarga, dan pengguna kursi roda karena menawarkan ruang yang lebih terbuka. Meskipun jarak per putaran lebih jauh, pergerakan lebih stabil dan risiko terdesak lebih kecil.[2]
2. 2. Cara Melakukan Tawaf dengan Kursi Roda atau Skuter Listrik
Syariat Islam memberikan keringanan (rukhsah) bagi jamaah yang tidak mampu secara fisik. Memahami cara melakukan tawaf dan sa'i bagi lansia dengan bantuan alat mobilitas adalah hal penting agar ibadah tetap sah dan nyaman.[5]
Ketahui hukum penggunaan kursi roda saat tawaf: Tawaf boleh dilakukan dengan naik kursi roda, digendong, atau menggunakan skuter. Hal ini sesuai dengan pendapat mayoritas ulama yang memperbolehkan tawaf tanpa harus berjalan kaki bagi yang memiliki uzur.[5]
Manfaatkan layanan kursi roda gratis di Masjidil Haram: Presidensi Urusan Dua Masjid Suci menyediakan sekitar 12.000 kursi roda standar secara gratis. Namun, pihak masjid tidak menyediakan pendorong, sehingga jamaah perlu membawa pendamping atau menyewa jasa pendorong.[6]
Pertimbangkan kursi roda listrik di lantai khusus: Kursi roda listrik dan cart tersedia untuk disewa di lantai-lantai tertentu masjid, terutama di lantai pertama dan kedua area Mataf. Harga biasanya berkisar SAR 50 hingga SAR 100 tergantung durasi dan jarak.[7]
Gunakan aplikasi pemesanan kursi roda: Tanaqol adalah aplikasi khusus untuk menyewa kursi roda dan skuter listrik di Masjidil Haram, memungkinkan jamaah dengan keterbatasan mobilitas melaksanakan ritual ibadah dengan mudah. Fiturnya mencakup pemesanan sebelumnya untuk menghindari antrean, opsi sewa per jam, dan layanan pemandu.[8]
Perhatikan jalur khusus kursi roda: Di Masjid Suci, tersedia jalur landai, elevator, dan area salat khusus untuk memudahkan pergerakan dan partisipasi dalam ritual ibadah.[9]
Baca juga: Urutan ibadah umroh lengkap dari ihram hingga tahallul
3. 3. Cara Melakukan Sa'i dengan Aman dan Nyaman bagi Lansia
Sa'i merupakan ritual yang juga memerlukan strategi khusus untuk jamaah berusia lanjut. Sa'i dengan kursi roda atau skuter diperbolehkan bagi jamaah yang memiliki uzur, seperti lanjut usia, sakit, hamil, atau penyandang disabilitas. Berikut cara melakukan tawaf dan sa'i bagi lansia, khususnya pada bagian sa'i.[10]
Gunakan metode istirahat-istirahat: Jamaah lansia disarankan berhenti sejenak dan beristirahat selama dua menit di setiap putaran sa'i untuk menurunkan denyut nadi. Langkah ini memberikan kesempatan bagi jantung untuk beristirahat agar tenaga tidak terlalu terforsir.[5]
Manfaatkan fasilitas pendingin air di jalur sa'i: Jalur sa'i saat ini sudah dilengkapi pendingin udara dan air zamzam yang tersedia di sepanjang jalur. Manfaatkan fasilitas ini untuk cooling break sejenak.[10]
Pertimbangkan skuter matik di lantai 3: Skuter matik roda empat bertenaga baterai disediakan secara khusus di lantai tertentu untuk jamaah yang memerlukan bantuan mobilitas. Kondisinya lebih longgar karena jalur ini terpisah dari jamaah pejalan kaki.[5]
Atur kecepatan langkah secara stabil: Perempuan dan jamaah lansia boleh berjalan dengan kecepatan normal di semua putaran, tanpa harus berlari kecil (ramal) yang hanya disunnahkan bagi laki-laki muda pada putaran tertentu tawaf.[11]
Didampingi jamaah yang lebih muda: Jamaah yang lebih muda dan sehat diharapkan mendampingi jamaah lansia agar tidak tertinggal dari kelompoknya dan mendapat bantuan bila diperlukan.[5]
Baca juga: Cara menjaga wudhu selama ibadah haji agar tetap sah
4. 4. Cara Menjaga Hidrasi dan Nutrisi Selama Tawaf dan Sa'i
Dehidrasi merupakan ancaman serius bagi jamaah lansia saat melaksanakan ibadah. Akibat perubahan fisiologis karena penuaan, dehidrasi lebih umum terjadi pada individu berusia lanjut. Perubahan ini meliputi menurunnya fungsi ginjal, rendahnya total cairan tubuh, dan berkurangnya sensasi haus. Maka, menjaga hidrasi adalah bagian penting dari cara melakukan tawaf dan sa'i bagi lansia.[12]
Minum sebelum merasa haus: Konsumsi sekitar 250 ml cairan setiap 30–45 menit terbukti dapat mencegah penyakit terkait panas. Jangan menunggu rasa haus muncul, terutama bagi lansia yang sering tidak merasakan haus meski tubuh sudah kekurangan cairan.[12]
Konsumsi cairan elektrolit: Selain air putih, bawa dan konsumsi minuman isotonik atau oralit untuk mengganti elektrolit yang hilang melalui keringat, terutama sebelum memulai sa'i.[12]
Hindari kafein berlebihan: Kopi dan teh bersifat diuretik yang memicu buang air kecil lebih sering, sehingga justru mempercepat dehidrasi. Prioritaskan air Zamzam dan minuman isotonis.[3]
Perbanyak konsumsi serat dan protein: Jamaah lansia perlu mengonsumsi makanan yang mudah dicerna namun kaya serat dan protein. Hindari makanan terlalu pedas atau berminyak yang dapat memicu gangguan pencernaan.[3]
Baca juga: Cara menjaga kulit saat ibadah haji karena cuaca ekstrem
5. 5. Cara Mempersiapkan Fisik Sebelum Keberangkatan
Persiapan fisik untuk melaksanakan tawaf dan sa'i tidak bisa dilakukan dalam semalam. Pastikan Anda dalam kondisi kesehatan fisik yang baik. Kunjungi penyedia layanan kesehatan untuk pemeriksaan menyeluruh dan diskusikan kondisi medis atau kekhawatiran yang ada. Persiapan ini merupakan fondasi dari cara melakukan tawaf dan sa'i bagi lansia yang aman.[13]
Lakukan latihan jalan kaki rutin: Mulailah membiasakan berjalan kaki selama 20–30 menit di pagi hari secara rutin 3–4 kali seminggu. Tingkatkan intensitas secara bertahap agar kaki terbiasa berjalan tanpa henti selama 1–2 jam.[13]
Latih keseimbangan tubuh: Lansia rentan terjatuh di area yang licin atau berdesakan. Jatuh, terutama di kalangan jamaah lansia, dapat terjadi selama ibadah haji yang menuntut fisik dan kondisi keramaian. Latihan keseimbangan ringan di rumah sangat membantu menjaga stabilitas tubuh.[13]
Biasakan menggunakan alas kaki yang akan dipakai: Gunakan sandal atau sepatu yang akan dikenakan saat ibadah untuk berlatih agar kaki terbiasa dan mencegah lecet saat di Tanah Suci.[13]
Konsultasikan kondisi kesehatan ke dokter spesialis: Lansia sebaiknya melakukan kontrol rutin setidaknya 6 bulan sebelum keberangkatan. Asesmen fungsional sebelum haji perlu dilakukan untuk mengidentifikasi pasien dengan risiko tinggi mortalitas akibat penyakit kardiovaskular.[14]
Baca juga: Pengertian manasik haji beserta tujuan dan tata cara
6. 6. Cara Mengurus Obat-obatan dan Dokumen Medis
Kelengkapan obat-obatan dan dokumen medis adalah aspek vital yang sering terabaikan. Berikut langkah-langkah mengurus perbekalan medis sebagai bagian dari cara melakukan tawaf dan sa'i bagi lansia yang matang.[13]
Pastikan stok obat rutin mencukupi: Jika Anda memiliki obat-obatan yang diresepkan, pastikan persediaan yang cukup selama perjalanan. Bawa obat dalam kemasan aslinya, beserta salinan resep.[13]
Siapkan surat keterangan dokter dalam bahasa Inggris: Dokumen ini diperlukan untuk pemeriksaan di bandara maupun rujukan medis darurat di Arab Saudi.[13]
Kenakan gelang identitas medis: Kenakan gelang medis yang memuat informasi kesehatan vital untuk situasi darurat. Pastikan gelang identitas dan kartu kesehatan selalu dipakai dan tidak pernah dilepas.[8]
Lengkapi vaksinasi wajib dan tambahan: Kementerian Kesehatan Arab Saudi merekomendasikan vaksin influenza musiman bagi mereka yang berisiko tinggi, seperti lansia dan mereka yang memiliki penyakit penyerta.[15]
7. Rukhsah (Keringanan) dalam Islam untuk Jamaah Lansia
Islam adalah agama yang penuh rahmat dan memberikan keringanan (rukhsah) bagi hamba-Nya yang memiliki keterbatasan fisik. Menurut kemenag.go.id, Kementerian Agama RI mengusung tagline "Haji Ramah Lansia" sebagai upaya untuk menyediakan kemudahan bagi jamaah berusia lanjut. Buku Tuntunan Manasik Haji dan Umrah bagi Lansia yang disusun Kemenag memuat sejumlah keringanan yang dapat dimanfaatkan.[5]
Tawaf tanpa berjalan kaki: Jamaah lansia boleh melakukan tawaf dengan kursi roda, digendong, atau menggunakan skuter. Tidak ada kewajiban berjalan kaki bagi mereka yang memiliki uzur.[5]
Sa'i dengan kendaraan: Sa'i juga boleh dilakukan dengan kursi roda atau skuter, menyesuaikan situasi dan kondisi jamaah. Hal ini didasarkan pada pendapat di kalangan ulama Mazhab Syafi'i.[5]
Mewakilkan lontar jumrah: Bagi jamaah lansia yang tidak mampu melaksanakan lontar jumrah, prosesi ini dapat diwakilkan kepada orang lain dengan syarat si wakil harus melempar atas nama dirinya terlebih dahulu.[5]
Salat di luar Masjidil Haram: Jamaah lansia cukup salat di hotel atau masjid terdekat tanpa khawatir kehilangan keutamaan salat di Masjidil Haram, karena tetap mendapat pahala yang sama selama berada di Tanah Haram.[5]
Wudhu bukan syarat mutlak sa'i: Menurut mayoritas ulama, wudhu tidak menjadi prasyarat mutlak untuk sa'i, meskipun disunnahkan. Ini meringankan beban jamaah lansia yang kesulitan memperbarui wudhu berulang kali.[10]
Badal haji sebagai opsi terakhir: Bagi lansia yang benar-benar tidak mampu secara fisik, badal haji dapat menjadi solusi syar'i di mana orang lain melaksanakan haji atas nama mereka.[10]
Baca juga: Pengertian haji mabrur beserta ciri-ciri dan cara meraihnya
8. Risiko Kesehatan Saat Tawaf dan Sa'i bagi Lansia
Memahami risiko kesehatan adalah bagian tak terpisahkan dari persiapan cara melakukan tawaf dan sa'i bagi lansia. Kelelahan, dehidrasi, kondisi kesehatan yang sudah ada, dan penyakit menular seperti COVID-19 dan MERS-CoV merupakan masalah kesehatan umum selama haji. Selain itu, sekitar 40% jamaah haji Indonesia adalah lansia, yang lebih rentan mengalami kondisi kesehatan terkait penuaan.[16]
Imran Cahyono dari Pusat Kesehatan Haji menyampaikan, "Inisiatif ini sangat berguna untuk memastikan kesehatan jamaah utama selama haji. Ini akan meningkatkan kesehatan haji dan mencegah penularan penyakit menular di antara para jamaah."[16]
Jamaah dengan penyakit jantung yang sudah ada berisiko tinggi mengalami stres fisik yang memicu iskemia. Penyakit kardiovaskular merupakan penyebab kematian paling umum selama haji.[14] Sementara itu, pada haji 2024, suhu mencapai 52°C, menyebabkan lebih dari 2.700 kasus kelelahan akibat panas dalam satu hari.[17]
Ather Hussain, imam Inggris dan pemandu haji dari Bilal Tours, bercerita tentang pengalamannya pada haji 2024, "Sangat, sangat berat. Saya belum pernah melihat begitu banyak orang berjuang secara kolektif pada saat yang bersamaan, tetapi pada saat yang sama, saya melihat orang-orang melakukan apa pun yang mereka bisa untuk membantu."[18]
9. Fasilitas Aksesibilitas di Masjidil Haram untuk Lansia
Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi menyediakan layanan komprehensif untuk memastikan pengalaman yang nyaman dan aksesibel bagi jamaah lansia, orang dengan cedera fisik, dan pengguna kursi roda. Memahami fasilitas yang tersedia sangat membantu jamaah lanjut usia dalam merencanakan cara melakukan tawaf dan sa'i bagi lansia secara optimal.[9]
Kursi roda gratis: Pemerintah Arab Saudi, melalui Presidensi Umum Urusan Dua Masjid Suci, menyediakan layanan kursi roda gratis untuk jamaah di dalam Masjidil Haram. Jamaah cukup menyerahkan identitas diri sebagai deposit sementara.[7]
Skuter listrik dan buggy: Kendaraan listrik tersedia di lantai atas Masjidil Haram untuk tawaf dan sa'i, menawarkan pilihan yang lebih cepat dan nyaman bagi lansia.[7]
Elevator dan jalur landai: Masjidil Haram dilengkapi dengan baik untuk jamaah dengan keterbatasan fisik, memiliki eskalator dan jalur landai untuk memudahkan kursi roda berpindah dari satu lantai ke lantai lain.[7]
Pintu masuk khusus kursi roda: Terdapat sejumlah pintu yang ditunjuk untuk jamaah berkursi roda, termasuk Gerbang Raja Abdul Aziz, Gerbang Al-Safa, Gerbang Hunain, dan Gerbang Al-Marwah, memudahkan akses masuk ke area ibadah.[7]
Relawan dan staf terlatih: Staf dan relawan terlatih juga siap memberikan bantuan, memastikan semua jamaah dapat menjalankan kewajiban ibadah dengan bermartabat dan mudah.[9]
Layanan Mutawif: Banyak agen di sekitar Masjidil Haram menawarkan layanan Mutawif. Mutawif adalah pembantu terlatih yang memandu dan mendampingi jamaah selama ritual ibadah. Layanan meliputi penyediaan kursi roda, bantuan mendorong, panduan ritual, dan kadang interpretasi doa.[7]
Baca juga: Urutan ibadah haji lengkap dari awal sampai akhir
10. Peran Pendamping Selama Tawaf dan Sa'i
Kehadiran pendamping yang andal merupakan kunci kelancaran ibadah bagi jamaah lansia. Muhammad Al-Sulami, seorang pendorong kursi roda veteran di Masjidil Haram selama lebih dari 20 tahun, pernah menyampaikan, "Kepadatan adalah masalah paling sulit yang kami hadapi saat menjalankan pekerjaan kami."[6]
Pendamping tidak hanya membantu secara fisik, tetapi juga memberikan ketenangan emosional. Selama musim haji, otoritas Arab Saudi mengerahkan relawan berpengalaman untuk membantu jamaah berkebutuhan khusus. Para relawan ini menawarkan dukungan fisik, panduan, dan bahkan layanan penerjemahan bila diperlukan.[8]
Keluarga yang membawa lansia sebaiknya menunjuk minimal satu pendamping tetap yang memahami tata cara tawaf dan sa'i secara mendetail. Pendamping juga perlu dibekali pengetahuan tentang tanda-tanda kelelahan dan heatstroke agar bisa mengambil tindakan cepat apabila diperlukan.[13]
Baca juga: Ucapan doa untuk orang berangkat haji dalam bahasa Arab
11. Tips Perlengkapan Khusus untuk Jamaah Lansia Saat Tawaf dan Sa'i
Memilih perlengkapan yang tepat sangat menunjang kenyamanan ibadah. Penyakit terkait panas dapat diminimalkan dengan menggunakan perlengkapan pelindung seperti payung, tabir surya, kacamata hitam, mengenakan pakaian tipis, dan menggunakan kipas. Berikut daftar perlengkapan penting bagi jamaah lansia.[12]
Pakaian berbahan katun yang longgar: Bahan yang menyerap keringat dan longgar membantu menghindari biang keringat serta iritasi kulit. Pilihlah pakaian katun untuk mencegah lecet dan menjaga kenyamanan serta sirkulasi udara.[13]
Alas kaki yang nyaman dan sudah terbiasa dipakai: Jangan menggunakan alas kaki baru yang belum pernah dikenakan. Pastikan juga kain ihram terpasang dengan aman agar tidak melorot saat berjalan.[13]
Botol semprot air: Berguna untuk mendinginkan suhu wajah dan tangan saat cuaca panas ekstrem guna mencegah heatstroke.[12]
Payung untuk perlindungan matahari: Penggunaan payung, topi, atau tabir surya selama haji masih di bawah standar. Padahal, tidak menggunakan payung meningkatkan risiko penyakit panas di kalangan jamaah lebih dari 8 kali lipat.[12]
Tas kecil berisi obat-obatan darurat: Simpan obat jantung, diabetes, atau asma dalam tas yang mudah dijangkau dan selalu dibawa selama ibadah.[13]
Gelang identitas dan kartu kesehatan: Pastikan informasi medis vital tercantum dan selalu dikenakan sepanjang perjalanan ibadah.[8]
Baca juga: Perbedaan haji dengan umroh yang wajib dipahami umat Muslim
12. Pencegahan Heatstroke Selama Tawaf dan Sa'i bagi Lansia
Heatstroke adalah kondisi yang mengancam jiwa akibat paparan suhu tinggi dalam waktu lama atau aktivitas fisik yang intens. Jamaah yang menunaikan haji sangat rentan karena faktor usia lanjut, kondisi kesehatan kronis, dan kegagalan mengikuti pedoman keselamatan.[19]
Ira Purnamasari, dosen Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surabaya, menegaskan, "Suhu tubuh harus segera diturunkan, karena jika tidak, dapat memicu kerusakan organ vital yang dapat menyebabkan kejang dan kematian."[20]
Jamaah harus menghindari aktivitas fisik berlebihan selama haji untuk memprioritaskan kesehatan. Disarankan untuk menggunakan kursi roda saat melaksanakan tawaf dan saat berjalan antara Safa dan Marwah pada saat kondisi menekan.[13]
Langkah pencegahan praktis yang dapat dilakukan jamaah lansia meliputi: minum cairan secara teratur tanpa menunggu haus, menghindari paparan sinar matahari langsung terutama antara pukul 11.00–15.00, menggunakan payung dan pakaian berbahan ringan, serta segera mencari pertolongan medis jika mengalami gejala seperti pusing, mual, atau kulit memerah dan kering.[12]
Baca juga: Pengertian haji tamattu dan panduan lengkap tata caranya
13. Kesiapan Mental dan Spiritual Lansia Sebelum Tawaf dan Sa'i
Selain persiapan fisik, kesiapan mental dan spiritual memainkan peran besar dalam keberhasilan ibadah. Jamaah lansia sering merasa cemas saat berada di lingkungan asing yang sangat ramai, dan ketenangan mental sangat berpengaruh pada kondisi fisik secara keseluruhan.[13]
Keluarga perlu memberikan motivasi positif bahwa Allah memberikan keringanan dalam beribadah bagi yang tidak mampu. Jika Anda merasa lelah setelah tawaf atau kaki terasa pegal, Anda boleh beristirahat sampai merasa siap. Tidak perlu memaksakan diri melakukan ibadah sunnah secara berlebihan jika kondisi fisik sedang menurun.[21]
Mengikuti manasik haji sebelum keberangkatan sangat dianjurkan agar jamaah lansia memahami setiap tahapan ibadah dan tidak merasa kebingungan saat di Tanah Suci. Fokuskan pembelajaran pada rukun dan wajib haji agar tidak terbebani dengan detail yang tidak esensial.[10]
Baca juga: Cara menjalankan ibadah haji untuk keluarga melalui badal haji
14. Memilih Akomodasi yang Tepat untuk Menunjang Ibadah Lansia
Lokasi penginapan sangat menentukan tingkat kelelahan jamaah lansia sebelum dan sesudah melaksanakan tawaf dan sa'i. Hotel-hotel modern di Mekkah diwajibkan oleh kementerian untuk menyediakan fasilitas bagi jamaah berkebutuhan khusus, seperti kamar mandi yang dimodifikasi, elevator, jalan yang lebar di dalam kamar, dan pintu masuk ramah kursi roda.[8]
Pilihlah penginapan yang terletak sedekat mungkin dengan Masjidil Haram agar lansia tidak menguras energi saat berangkat dan pulang ibadah. Jarak hotel dan ketersediaan lift menjadi pertimbangan utama. Beberapa hotel di sekitar Masjidil Haram juga menyediakan kursi roda bagi tamunya secara gratis.[7]
Layanan antar-jemput memungkinkan transfer langsung antara hotel dan Masjidil Haram pada periode yang lebih tenang, meminimalkan keterlambatan. Fasilitas semacam ini sangat membantu jamaah lansia yang tidak kuat berjalan jauh.[4]
Baca juga: Tata cara umrah sesuai syariat yang wajib diketahui
15. FAQ
Apakah lansia wajib berjalan kaki saat tawaf dan sa'i?
Tidak wajib. Jamaah lansia diperbolehkan menggunakan kursi roda, skuter listrik, atau bahkan digendong saat tawaf dan sa'i. Ini merupakan keringanan (rukhsah) yang diberikan Islam bagi mereka yang memiliki uzur fisik, dan ibadahnya tetap sah.
Berapa jarak yang harus ditempuh saat tawaf dan sa'i?
Jarak tawaf bervariasi mulai dari 0,5 km hingga lebih dari 4 km tergantung lantai yang digunakan, sementara total jarak sa'i sekitar 3,15 km untuk tujuh putaran. Cara melakukan tawaf dan sa'i bagi lansia yang bijak adalah memilih lantai atas yang lebih longgar meskipun jaraknya sedikit lebih jauh.
Kapan waktu terbaik bagi lansia untuk melakukan tawaf?
Waktu terbaik adalah setelah salat Subuh hingga pertengahan pagi atau setelah salat Isya hingga menjelang Subuh. Periode ini biasanya lebih sejuk dan lebih sepi, sehingga jamaah lansia dapat beribadah dengan lebih nyaman tanpa berdesakan.
Apakah wudhu wajib untuk sa'i?
Menurut mayoritas ulama, wudhu tidak menjadi syarat wajib untuk sa'i meskipun tetap dianjurkan. Ini berbeda dengan tawaf yang mensyaratkan jamaah berada dalam keadaan suci. Bagi lansia yang kesulitan memperbarui wudhu berulang kali, ketentuan ini merupakan keringanan tersendiri.
Bagaimana cara mendapatkan kursi roda gratis di Masjidil Haram?
Jamaah dapat mengambil kursi roda gratis di titik-titik yang disediakan di sekitar pintu masuk Masjidil Haram, seperti dekat Gerbang Raja Abdul Aziz dan Gerbang Safa. Cukup serahkan identitas diri sebagai deposit sementara, lalu kembalikan kursi roda setelah selesai ibadah.
Apa risiko kesehatan terbesar bagi lansia saat melakukan tawaf dan sa'i?
Risiko terbesar meliputi dehidrasi, heatstroke, kelelahan ekstrem, dan kambuhnya penyakit kronis seperti hipertensi atau penyakit jantung. Cara melakukan tawaf dan sa'i bagi lansia yang aman harus selalu memprioritaskan hidrasi, istirahat cukup, dan menghindari paparan panas berlebihan.
Apakah jamaah lansia boleh memisah pelaksanaan tawaf dan sa'i?
Boleh. Jamaah lansia tidak harus langsung melanjutkan sa'i setelah tawaf. Diperbolehkan beristirahat terlebih dahulu, bahkan kembali ke penginapan untuk memulihkan tenaga, lalu melanjutkan sa'i pada kesempatan berikutnya selama masih dalam rangkaian ibadah yang sama.
Daftar Referensi
- Al Maqam Transport. Tawaf Distance in Umrah (Complete Guide): KM, Time & Best Floor for Tawaf. Diakses pada 7 Mei 2026, dari https://almaqamtransport.com/tawaf-distance/
- HajjUmrahPlanner. Umrah Guide – How to Perform Umrah Step by Step. Diakses pada 7 Mei 2026, dari https://hajjumrahplanner.com/umrah-guide/
- WHO EMRO. General Health Advice and Guidelines for Pilgrims. Diakses pada 7 Mei 2026, dari https://www.emro.who.int/media/news/general-health-advice-and-guidelines-for-pilgrims.html
- Makarem Hotels. The Best Times to Perform Tawaf: Tips for Avoiding Crowds. Diakses pada 7 Mei 2026, dari https://makaremhotels.com/en/news/best-time-to-perform-tawaf
- Kemenag.go.id. Hukum Islam Menyarankan Jemaah Haji Lansia Tawaf Menggunakan Kursi Roda/Skuter. Diakses pada 7 Mei 2026, dari https://kemenag.go.id/tanya-jawab-fiqih/hukum-islam-menyarankan-jemaah-haji-lansia-tawaf-menggunakan-kursi-roda-skuter-Sii4b
- About Islam. Taking Care of Disabled & Elderly Pilgrims. Diakses pada 7 Mei 2026, dari https://aboutislam.net/muslim-issues/science-muslim-issues/taking-care-disabled-elderly-pilgrims/
- Seventh Sea Holidays. How To Find Wheelchair Assistance In Haram. Diakses pada 7 Mei 2026, dari https://seventhseaholidays.com/how-to-find-wheelchair-assistance-in-haram/
- Dur Hajj. Planning an Accessible Hajj Journey: A Guide for Pilgrims with Special Needs. Diakses pada 7 Mei 2026, dari https://durhajj.com/planning-an-accessible-hajj-journey-a-guide-for-pilgrims-with-special-needs/
- CBHUK. Services for the Elderly and Wheelchair Users. Diakses pada 7 Mei 2026, dari https://cbhuk.org/services-for-the-elderly-and-wheelchair-users/
- Kapanlagi.com. Pengertian Sai dalam Ibadah Haji dan Umrah Lengkap dengan Tata Cara serta Hikmahnya. Diakses pada 7 Mei 2026, dari https://www.kapanlagi.com/feeds/pengertian-sai-dalam-ibadah-haji-dan-umrah-lengkap-dengan-tata-cara-serta-hikmahnya-ad85a15f4b.html
- Pilgrim Hub. How To Perform Tawaf – Complete Step by Step Guide For Pilgrims. Diakses pada 7 Mei 2026, dari https://pilgrimhub.co/blogs/news/how-to-perform-tawaf
- Frontiers in Public Health. Mitigation Strategies for Heat-Related Illness during Mass Gatherings: Hajj Experience. Diakses pada 7 Mei 2026, dari https://www.frontiersin.org/journals/public-health/articles/10.3389/fpubh.2022.957576/full
- Nusuk Saudi Arabia. Hajj Health Guidelines. Diakses pada 7 Mei 2026, dari https://hajj.nusuk.sa/nusuk/health/guidelines
- WHO EMRO. Health Issues in the Hajj Pilgrimage: A Literature Review. Diakses pada 7 Mei 2026, dari https://www.emro.who.int/emhj-volume-25-2019/volume-25-issue-10/health-issues-in-the-hajj-pilgrimage-a-literature-review.html
- PMC/NCBI. The Annual Hajj Pilgrimage – Minimizing the Risk of Ill Health in Pilgrims from Europe. Diakses pada 7 Mei 2026, dari https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC7110525/
- WHO Indonesia. Ensuring Health and Well-Being for Hajj Pilgrims through Outreach. Diakses pada 7 Mei 2026, dari https://www.who.int/indonesia/news/detail/12-06-2023-ensuring-health-and-well-being-for-hajj-pilgrims-through-outreach
- The Lancet. Hajj 2024 Heatwave: Addressing Health Risks and Safety. Diakses pada 7 Mei 2026, dari https://www.thelancet.com/journals/lancet/article/PIIS0140-6736(24)01440-5/fulltext
- NPR. 1,300 People Died in Heat-Stricken Hajj Pilgrimage. Diakses pada 7 Mei 2026, dari https://www.npr.org/2024/06/21/nx-s1-5013582/hajj-heat-deaths-saudi-arabia
- PeerJ. Heatstroke Knowledge and Predictors among Hajj Health Volunteers in Saudi Arabia. Diakses pada 7 Mei 2026, dari https://peerj.com/articles/20816/
- Universitas Muhammadiyah Surabaya. Preventing Heatstroke during the Hajj Season. Diakses pada 7 Mei 2026, dari https://www.um-surabaya.ac.id/en/article/cegah-heatstroke-pada-musim-haji-dosen-um-surabaya-lakukan-5-hal-ini
- PMC/NCBI. Characteristics of Heat Illness during Hajj: A Cross-Sectional Study. Diakses pada 7 Mei 2026, dari https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC5832155/
(kpl/fed)
Advertisement
D Academy 8
-
Ulang Tahun Selebritis Ulang Tahun Soimah Dirayakan di Panggung Dangdut Academy 8