Cara Menghitung Dividen: Panduan Lengkap untuk Investor

Cara Menghitung Dividen: Panduan Lengkap untuk Investor
cara menghitung dividen (h)

Sebelum mempelajari cara menghitung dividen, penting untuk memahami terlebih dahulu apa itu dividen dan jenis-jenisnya. Dividen adalah pembagian sebagian laba bersih perusahaan kepada para pemegang saham sebagai bentuk imbal hasil atas investasi yang telah ditanamkan. Pembagian dividen biasanya diputuskan dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) dan besarannya bergantung pada kinerja keuangan perusahaan serta kebijakan manajemen.

1. Pembuka: Memahami Dividen sebagai Keuntungan Investasi

Pembuka: Memahami Dividen sebagai Keuntungan Investasi (c) Ilustrasi AI

Dividen merupakan salah satu bentuk keuntungan yang paling dinanti oleh para investor saham. Berbeda dengan capital gain yang diperoleh dari selisih harga jual dan beli saham, dividen adalah pembagian laba perusahaan kepada pemegang saham secara langsung. Memahami cara menghitung dividen menjadi keterampilan penting bagi setiap investor yang ingin memaksimalkan imbal hasil investasinya.

Bagi investor pemula, cara menghitung dividen mungkin terdengar rumit pada awalnya. Namun, dengan memahami rumus dan konsep dasarnya, perhitungan dividen sebenarnya cukup sederhana dan dapat dilakukan oleh siapa saja. Kemampuan menghitung dividen membantu investor dalam menilai potensi pendapatan pasif dari saham yang dimiliki serta membandingkan daya tarik berbagai saham pembagi dividen.

Melansir dari Mekari, dividen adalah distribusi atau pembagian keuntungan yang didapatkan perusahaan kepada para pemegang saham berdasarkan jumlah saham masing-masing investor, yang diambil dari profit yang ditahan dan kas tersedia milik perusahaan. Dengan mengetahui cara menghitung dividen yang tepat, investor dapat membuat keputusan investasi yang lebih cerdas dan terukur untuk mencapai tujuan keuangan jangka panjang mereka.

2. Pengertian Dividen dan Jenisnya

Sebelum mempelajari cara menghitung dividen, penting untuk memahami terlebih dahulu apa itu dividen dan jenis-jenisnya. Dividen adalah pembagian sebagian laba bersih perusahaan kepada para pemegang saham sebagai bentuk imbal hasil atas investasi yang telah ditanamkan. Pembagian dividen biasanya diputuskan dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) dan besarannya bergantung pada kinerja keuangan perusahaan serta kebijakan manajemen.

Tidak semua perusahaan membagikan dividen kepada investornya. Perusahaan yang masih dalam fase pertumbuhan cepat seringkali memilih untuk menahan laba guna mendanai ekspansi bisnis. Sebaliknya, perusahaan yang sudah mapan dan memiliki arus kas stabil cenderung rutin membagikan dividen sebagai bentuk apresiasi kepada pemegang saham. Keputusan untuk membagikan dividen atau menahan laba merupakan bagian dari strategi keuangan perusahaan yang harus dipertimbangkan dengan matang.

Dividen dapat dibagikan dalam berbagai bentuk, dan setiap jenisnya memiliki karakteristik serta cara perhitungan yang berbeda. Jenis dividen yang paling umum adalah dividen tunai dan dividen saham, namun ada juga bentuk lain seperti dividen properti, dividen skrip, dan dividen likuidasi. Memahami perbedaan antara jenis-jenis dividen ini penting dalam konteks cara menghitung dividen yang akan diterima investor.

Dividen Tunai

Dividen tunai adalah jenis dividen yang paling populer dan paling disukai oleh investor. Pembagian dividen tunai dilakukan dalam bentuk uang yang langsung ditransfer ke rekening dana nasabah (RDN) investor. Jumlah dividen tunai yang diterima dihitung berdasarkan jumlah lembar saham yang dimiliki dikalikan dengan nilai dividen per lembar saham yang telah ditetapkan perusahaan. Dividen tunai biasanya dibagikan secara berkala, bisa tahunan, semesteran, atau bahkan triwulanan tergantung kebijakan perusahaan.

Dividen Saham

Dividen saham adalah pembagian dividen dalam bentuk saham tambahan kepada pemegang saham. Alih-alih menerima uang tunai, investor mendapatkan penambahan jumlah saham yang dimilikinya secara proporsional. Misalnya, jika perusahaan mengumumkan dividen saham dengan rasio 5:1, maka setiap pemegang 5 lembar saham akan mendapatkan 1 lembar saham baru secara gratis. Dividen saham tidak dikenakan pajak hingga saham tersebut dijual, berbeda dengan dividen tunai yang langsung dipotong pajak.

Dividen Properti dan Dividen Lainnya

Selain dividen tunai dan saham, terdapat jenis dividen lain yang lebih jarang diterapkan. Dividen properti adalah pembagian dividen dalam bentuk aset atau barang, bukan uang tunai atau saham. Dividen skrip merupakan surat janji hutang dari perusahaan untuk membayar dividen di kemudian hari ketika kas perusahaan sedang terbatas. Sementara dividen likuidasi adalah pengembalian modal kepada pemegang saham ketika perusahaan akan menghentikan operasionalnya atau mengalami kebangkrutan.

3. Cara Menghitung Dividen: Rumus dan Metode

Cara Menghitung Dividen: Rumus dan Metode (c) Ilustrasi AI

Cara menghitung dividen dapat dilakukan melalui beberapa metode perhitungan yang berbeda, tergantung pada informasi yang tersedia dan tujuan analisis investor. Metode perhitungan yang paling umum digunakan meliputi Dividend Per Share (DPS), Dividend Payout Ratio (DPR), dan Dividend Yield. Setiap metode memberikan perspektif yang berbeda tentang kebijakan dividen perusahaan dan potensi keuntungan yang dapat diperoleh investor.

Memahami cara menghitung dividen dengan berbagai metode ini memungkinkan investor untuk melakukan analisis yang lebih komprehensif. DPS memberikan informasi tentang jumlah dividen per lembar saham, DPR menunjukkan persentase laba yang dibagikan sebagai dividen, sementara Dividend Yield mengukur imbal hasil dividen relatif terhadap harga saham. Kombinasi ketiga indikator ini memberikan gambaran lengkap tentang daya tarik suatu saham dari perspektif dividen.

Dalam praktiknya, cara menghitung dividen memerlukan data keuangan perusahaan yang dapat diperoleh dari laporan keuangan tahunan atau pengumuman resmi perusahaan. Data yang diperlukan antara lain laba bersih perusahaan, jumlah saham beredar, kebijakan dividend payout ratio, dan harga saham saat ini. Dengan data-data tersebut, investor dapat menghitung potensi dividen yang akan diterima serta mengevaluasi apakah suatu saham layak dijadikan investasi untuk tujuan pendapatan dividen.

Dividend Per Share (DPS)

Dividend Per Share (DPS) adalah cara menghitung dividen yang menunjukkan jumlah dividen yang akan diterima untuk setiap lembar saham yang dimiliki. Rumus DPS adalah: DPS = Total Dividen yang Dibagikan / Jumlah Saham Beredar. Sebagai contoh, jika PT ABC membagikan total dividen Rp 500 juta dan memiliki 1 juta lembar saham beredar, maka DPS = Rp 500 juta / 1 juta = Rp 500 per lembar saham. Jika seorang investor memiliki 1.000 lembar saham, maka dividen yang diterima adalah 1.000 x Rp 500 = Rp 500.000 (sebelum pajak).

Dividend Payout Ratio (DPR)

Dividend Payout Ratio (DPR) adalah rasio yang menunjukkan persentase laba bersih perusahaan yang dibagikan sebagai dividen. Rumus DPR adalah: DPR = (Total Dividen / Laba Bersih) x 100%. Misalnya, jika PT XYZ memiliki laba bersih Rp 1 miliar dan membagikan dividen Rp 400 juta, maka DPR = (Rp 400 juta / Rp 1 miliar) x 100% = 40%. DPR yang ideal umumnya berkisar antara 30-50%, menunjukkan keseimbangan antara pembagian dividen kepada pemegang saham dan reinvestasi untuk pertumbuhan perusahaan.

Dividend Yield

Dividend Yield adalah cara menghitung dividen yang menunjukkan persentase imbal hasil dividen dibandingkan dengan harga saham saat ini. Rumus Dividend Yield adalah: Dividend Yield = (DPS / Harga Saham) x 100%. Sebagai contoh, jika DPS suatu saham adalah Rp 200 dan harga sahamnya Rp 4.000, maka Dividend Yield = (Rp 200 / Rp 4.000) x 100% = 5%. Dividend Yield yang tinggi menunjukkan potensi imbal hasil dividen yang menarik, namun investor juga perlu mempertimbangkan fundamental perusahaan untuk memastikan keberlanjutan pembayaran dividen.

4. Contoh Perhitungan Dividen Lengkap

Contoh Perhitungan Dividen Lengkap (c) Ilustrasi AI

Untuk memahami cara menghitung dividen secara praktis, mari kita lihat contoh perhitungan lengkap dengan studi kasus nyata. Misalkan PT Sejahtera Makmur Tbk memiliki laba bersih tahunan sebesar Rp 2 miliar dengan jumlah saham beredar 5 juta lembar. Dalam RUPS, perusahaan memutuskan untuk membagikan 45% dari laba bersih sebagai dividen tunai kepada pemegang saham. Harga saham PT Sejahtera Makmur saat ini adalah Rp 5.000 per lembar.

Langkah pertama dalam cara menghitung dividen adalah menentukan total dividen yang akan dibagikan. Total Dividen = Laba Bersih x DPR = Rp 2 miliar x 45% = Rp 900 juta. Selanjutnya, hitung Dividend Per Share (DPS) dengan rumus: DPS = Total Dividen / Jumlah Saham Beredar = Rp 900 juta / 5 juta lembar = Rp 180 per lembar saham. Angka ini menunjukkan bahwa setiap pemegang satu lembar saham akan menerima dividen sebesar Rp 180.

Untuk menghitung dividen yang diterima investor, kalikan jumlah saham yang dimiliki dengan DPS. Misalnya, Pak Budi memiliki 100 lot atau 10.000 lembar saham PT Sejahtera Makmur. Dividen sebelum pajak = 10.000 x Rp 180 = Rp 1.800.000. Namun, dividen tunai dikenakan pajak penghasilan (PPh) final sebesar 10%. Maka, Dividen setelah pajak = Rp 1.800.000 - (Rp 1.800.000 x 10%) = Rp 1.620.000. Jadi, Pak Budi akan menerima dividen bersih sebesar Rp 1.620.000 yang akan ditransfer langsung ke rekening dananya.

Untuk melengkapi analisis, kita juga dapat menghitung Dividend Yield dari saham ini. Dividend Yield = (DPS / Harga Saham) x 100% = (Rp 180 / Rp 5.000) x 100% = 3,6%. Dividend Yield sebesar 3,6% ini dapat dibandingkan dengan tingkat bunga deposito atau instrumen investasi lain untuk menilai daya tarik investasi. Jika dividend yield lebih tinggi dari bunga deposito dan perusahaan memiliki fundamental yang kuat, maka saham tersebut dapat menjadi pilihan menarik untuk investasi jangka panjang dengan tujuan pendapatan pasif.

5. Tanggal Penting dalam Pembagian Dividen

Dalam proses pembagian dividen, terdapat beberapa tanggal penting yang harus dipahami oleh investor agar dapat menerima dividen. Tanggal-tanggal ini menentukan siapa yang berhak menerima dividen dan kapan dividen akan dibayarkan. Memahami jadwal ini sangat penting dalam strategi investasi dividen, karena kesalahan timing dapat menyebabkan investor kehilangan hak untuk menerima dividen pada periode tersebut.

  1. Declaration Date (Tanggal Pengumuman): Tanggal ketika perusahaan secara resmi mengumumkan akan membagikan dividen, termasuk besaran dividen per saham dan jadwal pembayaran. Pengumuman ini biasanya dilakukan setelah RUPS dan dipublikasikan melalui Bursa Efek Indonesia serta media massa.
  2. Cum Dividend Date (Cum Date): Tanggal terakhir perdagangan saham di mana investor yang membeli saham masih berhak mendapatkan dividen. Jika Anda membeli saham pada atau sebelum cum date, Anda akan tercatat sebagai pemegang saham yang berhak menerima dividen. Ini adalah tanggal paling krusial bagi investor yang ingin mendapatkan dividen.
  3. Ex Dividend Date (Ex Date): Tanggal pertama perdagangan saham di mana pembeli saham tidak lagi berhak mendapatkan dividen periode tersebut. Ex date biasanya jatuh satu hari bursa setelah cum date. Pada tanggal ini, harga saham biasanya akan turun sekitar nilai dividen yang dibagikan karena saham tersebut sudah tidak lagi memberikan hak dividen.
  4. Recording Date (Tanggal Pencatatan): Tanggal ketika perusahaan mencatat dan mendata siapa saja pemegang saham yang berhak menerima dividen. Hanya investor yang namanya tercatat dalam Daftar Pemegang Saham pada tanggal ini yang akan menerima dividen. Recording date biasanya jatuh beberapa hari setelah cum date.
  5. Payment Date (Tanggal Pembayaran): Tanggal ketika dividen benar-benar dibayarkan dan ditransfer ke rekening dana nasabah (RDN) investor. Ini adalah tanggal yang paling ditunggu-tunggu oleh pemegang saham. Payment date biasanya jatuh sekitar 10-14 hari setelah recording date, tergantung kebijakan perusahaan.

6. Faktor yang Mempengaruhi Kebijakan Dividen

Faktor yang Mempengaruhi Kebijakan Dividen (c) Ilustrasi AI

Kebijakan dividen suatu perusahaan tidak ditentukan secara sembarangan, melainkan dipengaruhi oleh berbagai faktor internal dan eksternal. Memahami faktor-faktor ini penting bagi investor dalam menilai keberlanjutan pembayaran dividen dan prospek investasi jangka panjang. Faktor utama yang mempengaruhi kebijakan dividen adalah kinerja keuangan perusahaan, yang tercermin dari profitabilitas, pertumbuhan pendapatan, dan stabilitas arus kas.

Laba bersih perusahaan merupakan sumber utama pembayaran dividen. Perusahaan dengan laba bersih yang tinggi dan konsisten cenderung memiliki kemampuan lebih baik untuk membagikan dividen secara rutin. Namun, laba bersih yang tinggi tidak otomatis berarti dividen yang besar, karena perusahaan juga perlu mempertimbangkan kebutuhan reinvestasi untuk pertumbuhan bisnis. Rasio pembayaran dividen (dividend payout ratio) yang ideal biasanya berkisar 30-50%, memberikan keseimbangan antara reward kepada pemegang saham dan pendanaan untuk ekspansi.

Kebijakan manajemen juga sangat berpengaruh terhadap keputusan pembagian dividen. Manajemen yang berorientasi pada pertumbuhan mungkin memilih untuk menahan lebih banyak laba untuk investasi dalam proyek-proyek baru, sehingga dividend payout ratio-nya lebih rendah. Sebaliknya, manajemen yang fokus pada kepuasan pemegang saham jangka pendek cenderung membagikan dividen lebih besar. Preferensi pemegang saham mayoritas, kondisi industri, tingkat persaingan, dan peluang investasi yang tersedia juga menjadi pertimbangan penting dalam menentukan kebijakan dividen yang optimal.

7. Tips Memilih Saham Dividen yang Menguntungkan

Tips Memilih Saham Dividen yang Menguntungkan (c) Ilustrasi AI

Bagi investor yang mengincar pendapatan pasif dari dividen, memilih saham yang tepat adalah kunci kesuksesan. Tidak semua saham dengan dividend yield tinggi otomatis menguntungkan, karena yield yang tinggi bisa jadi disebabkan oleh penurunan harga saham akibat masalah fundamental perusahaan. Oleh karena itu, investor perlu melakukan analisis menyeluruh sebelum memutuskan untuk berinvestasi pada saham dividen tertentu.

  • Perhatikan Konsistensi Pembayaran Dividen: Pilih perusahaan yang memiliki track record membagikan dividen secara konsisten selama minimal 5-10 tahun terakhir. Konsistensi ini menunjukkan stabilitas keuangan dan komitmen manajemen terhadap pemegang saham. Perusahaan yang rutin membayar dividen bahkan di masa sulit cenderung memiliki fundamental yang kuat.
  • Analisis Dividend Payout Ratio: DPR yang ideal berkisar antara 30-50%. DPR yang terlalu rendah (di bawah 30%) mungkin menunjukkan perusahaan kurang generous kepada pemegang saham, sementara DPR yang terlalu tinggi (di atas 70%) bisa mengindikasikan perusahaan kesulitan mempertahankan pembayaran dividen di masa depan atau kurang fokus pada pertumbuhan.
  • Evaluasi Fundamental Perusahaan: Pastikan perusahaan memiliki fundamental yang sehat dengan melihat laporan keuangan. Perhatikan pertumbuhan pendapatan, margin laba, rasio utang terhadap ekuitas, dan arus kas operasional. Perusahaan dengan fundamental kuat lebih mampu mempertahankan dan meningkatkan dividen di masa depan.
  • Bandingkan Dividend Yield dengan Sektor Sejenis: Dividend yield yang ideal berbeda-beda tergantung sektor industri. Sektor perbankan, utilitas, dan telekomunikasi cenderung memiliki dividend yield lebih tinggi (4-7%), sementara sektor teknologi dan konsumer biasanya lebih rendah (1-3%). Bandingkan dividend yield dengan rata-rata sektor untuk menilai apakah suatu saham menawarkan nilai yang kompetitif.
  • Pertimbangkan Potensi Capital Gain: Investasi dividen yang ideal tidak hanya memberikan pendapatan pasif, tetapi juga potensi kenaikan harga saham. Cari saham dengan dividend yield menarik yang juga memiliki prospek pertumbuhan bisnis yang baik, sehingga Anda dapat menikmati keuntungan ganda dari dividen dan capital gain.

8. FAQ (Pertanyaan yang Sering Diajukan)

FAQ (Pertanyaan yang Sering Diajukan) (c) Ilustrasi AI

1. Bagaimana cara menghitung dividen yang akan saya terima?

Cara menghitung dividen yang akan Anda terima cukup sederhana. Pertama, cari tahu berapa Dividend Per Share (DPS) yang diumumkan perusahaan. Kemudian kalikan DPS dengan jumlah lembar saham yang Anda miliki. Hasilnya adalah dividen kotor sebelum pajak. Untuk mendapatkan dividen bersih, kurangi dengan pajak dividen sebesar 10%. Contoh: jika DPS Rp 100 dan Anda memiliki 1.000 lembar saham, dividen kotor = Rp 100.000, dividen bersih = Rp 90.000.

2. Apakah semua saham membagikan dividen?

Tidak semua saham membagikan dividen. Perusahaan yang masih dalam fase pertumbuhan pesat biasanya memilih untuk menahan seluruh laba untuk reinvestasi dan ekspansi bisnis. Sebaliknya, perusahaan yang sudah mapan dengan arus kas stabil cenderung rutin membagikan dividen. Keputusan membagikan dividen atau tidak merupakan kebijakan strategis yang diputuskan dalam RUPS berdasarkan kondisi keuangan dan rencana bisnis perusahaan.

3. Berapa pajak yang dikenakan atas dividen?

Dividen tunai yang diterima investor pribadi dikenakan Pajak Penghasilan (PPh) Final sebesar 10% yang dipotong langsung oleh perusahaan sebelum dividen ditransfer ke rekening investor. Sementara itu, dividen saham tidak dikenakan pajak pada saat diterima, tetapi akan dikenakan pajak capital gain sebesar 0,1% dari nilai transaksi ketika saham tersebut dijual. Untuk badan usaha, dividen dikenakan PPh Pasal 23 sebesar 15% dari jumlah dividen bruto.

4. Apa itu Dividend Yield dan bagaimana cara menghitungnya?

Dividend Yield adalah rasio yang menunjukkan persentase imbal hasil dividen dibandingkan harga saham saat ini. Cara menghitungnya adalah: Dividend Yield = (Dividen Per Saham / Harga Saham) x 100%. Misalnya, jika DPS Rp 150 dan harga saham Rp 3.000, maka Dividend Yield = 5%. Dividend Yield yang tinggi (di atas 4-5%) umumnya dianggap menarik, namun investor juga perlu mempertimbangkan fundamental perusahaan untuk memastikan keberlanjutan pembayaran dividen.

5. Kapan waktu yang tepat membeli saham untuk mendapatkan dividen?

Waktu yang tepat untuk membeli saham agar berhak mendapatkan dividen adalah pada atau sebelum Cum Dividend Date (Cum Date). Jika Anda membeli saham pada cum date, Anda masih berhak menerima dividen. Namun, jika membeli pada Ex Dividend Date (Ex Date) atau setelahnya, Anda tidak akan menerima dividen periode tersebut. Perhatikan juga bahwa harga saham biasanya turun sekitar nilai dividen pada ex date, sehingga strategi timing yang tepat sangat penting.

6. Apa perbedaan dividen tunai dan dividen saham?

Dividen tunai adalah pembagian dividen dalam bentuk uang yang langsung ditransfer ke rekening investor dan dikenakan pajak 10%. Dividen saham adalah pembagian dividen dalam bentuk saham tambahan yang meningkatkan jumlah kepemilikan saham investor tanpa mengurangi kas perusahaan, dan tidak dikenakan pajak hingga saham tersebut dijual. Dividen tunai memberikan likuiditas langsung, sementara dividen saham meningkatkan kepemilikan dan berpotensi memberikan keuntungan lebih besar di masa depan jika harga saham naik.

7. Bagaimana cara mengetahui jadwal pembagian dividen suatu perusahaan?

Jadwal pembagian dividen dapat diketahui melalui beberapa sumber resmi. Pertama, melalui pengumuman di website Bursa Efek Indonesia (BEI) pada bagian informasi perusahaan tercatat. Kedua, melalui aplikasi sekuritas atau trading yang Anda gunakan, biasanya tersedia menu khusus untuk jadwal dividen. Ketiga, melalui website resmi perusahaan pada bagian investor relations. Keempat, melalui portal berita keuangan seperti Kontan, Bisnis Indonesia, atau CNBC Indonesia yang rutin memberitakan jadwal pembagian dividen perusahaan-perusahaan publik.

(kpl/fed)

Rekomendasi
Trending