INDONESIA

[Review] 'CITA-CITAKU SETINGGI TANAH', Sederhana Tapi Mengena

Minggu, 07 Oktober 2012 07:06  | 

Agus Kuncoro


[Review] 'CITA-CITAKU SETINGGI TANAH', Sederhana Tapi Mengena
Cita-Cita Setinggi Tanah. Sumber: KapanLagi.com®


KapanLagi.com - Oleh : Puput Puji Lestari

Jika Anda merindukan drama keluarga yang bisa ditonton semua keluarga, CITA-CITAKU SETINGGI TANAH tak boleh dilewatkan. Film ini memberi suguhan yang nyaris sempurna dari cerita, gambar, musik, dan skenario. Ide ceritanya sederhana dan sering terjadi di kehidupan sehari-hari, misalnya ketika anak-anak ditanya tentang cita-cita.

Agus Suryowidodo (Muhammad Syihab Imam Muttaqin) putra pasangan Mintarsih (Nina Tamam) dan Ayah Agus (Agus Kuncoro) memiliki cita-cita sederhana yakni makan di restoran Padang. Ketika ibu guru meminta semua murid menulis cita-cita mereka, cita-cita sederhana Agus jelas berbeda dengan teman-temannya.

Teman-temannya menertawakan Agus, memintanya memilih cita-cita lain yang lebih tinggi. Ibu guru pun kembali bertanya untuk memastikan supaya Agus tidak keliru. "Iya, benar kok! Cita-cita saya adalah ingin makan di restoran Padang!" Agus tak bergeming. Sementara tiga teman dekatnya memiliki cita-cita setinggi langit.

Sri (Dewi Wulandari Cahyaningrum) ingin menjadi artis sinetron terkenal, Jono (Rizqullah Maulana Daffa) bercita-cita menjadi tentara, dan Puji (Iqbal Zuhda Irsyad) bercita-cita ingin membahagiakan orang lain. Cita-cita Agus seperti itu dikarenakan Ayah Agus bekerja di pabrik tahu, tiap hari Agus makan tahu bacem buatan ibunya. Meskipun tahu bacem ibunya disebut sebagai tahu bacem terenak, Agus ingin mencicipi makanan lain.

Masalah memilih cita-cita selesai, persoalan selanjutnya adalah menulis cita-cita itu menjadi karangan. Eyang Putri (Iwuk Tamam) yang sedang berkunjung memberi nasehat, cita-cita bukan untuk ditulis melainkan untuk diwujudkan. Karena itu Agus menunda menulis cita-citanya. Persoalan lain, waktu yang diberikan ibu guru terbatas. Ia harus segera makan di restoran Padang. Ia juga sadar baawa untuk cita-citanya itu ia butuh uang. Keadaan ekonomi yang sulit tidak memungkinkan bagi Agus meminta uang pada ayahnya. Agus memutar otak untuk mendapatkan uang.

Sinergi Eugene Panji sebagai sutradara dan Satriono sebagai penulis cerita terlihat sangat kuat di film ini. Tidak ada tumpang tindih visual dan audio, termasuk untuk pilihan kata. Keluar dari "elu gue", pilihan Eugene memilih setting Jogja adalah pilihan bijak. Selain pemandangan alam yang masih asri, anak-anak seolah diajak untuk kembali menjadi anak-anak. Masa bermain dan berkembang tidak dilewatkan dengan usaha mendewasakan anak-anak dengan segera.

Meskipun memasang nama besar seperti Agus Kuncoro dan Donny Alamsyah, Eugene tidak "mengeksploitasi" akting mereka. Mereka menjadi pemancing bagi akting anak-anak agar tetap natural. Satu-satunya yang mungkin membuat bosan adalah adegan yang diulang-ulang. Seperti saat berangkat sekolah melalui jalan yang sama. Atau bermain melalui gang sempit antara hutan dan kuburan muncul berkali-kali. Namun dari sudut pandang anak-anak mungkin adegan itu diperlukan agar memudahkan mereka mengingat cerita.

Lagu baru yang digarap oleh Endah N Rhesa juga menyatu dengan film ini. Arrangement ulang lagu Kampuang Nun Jauh di Matojuga klop dengan impian cita-cita makan di restoran Padang. Menonton film ini, Anda tidak perlu kuatir karena tidak ada bentakan atau suara meninggi yang kurang baik untuk anak-anak. Anda bisa melepaskan buah hati saat menikmati film ini. Apalagi nilai yang diajarkan di film ini juga tidak menggurui, sederhana tapi mengena.

(kpl/uji/dka)