INDONESIA

'MENGAKU RASUL', Pemimpin Padepokan Sesat

Minggu, 15 Juni 2008 18:44  | 

Ray Sahetapy







KapanLagi.com - Pemain: Ray Sahetapy, Vonny Cornellya, Jian Batari, Ihsan, Hengky Tarnando, Baby Zelvia, Alblen Fillindo Fabe

Starvision kali ini mengangkat film religi yang terinspirasi maraknya aliran sesat di Indonesia. Cerita ini diilhami oleh banyaknya orang yang mengaku sebagai rasul yang diutus untuk memurnikan akidah.

Dalam besutan sutradara Helfi Kadit, film ini berkisah mengenai padepokan sesat di daerah Jawa Barat. Padepokan sesat yang sebelumnya adalah sebuah pesantren itu dipimpin oleh Ki Baihaqi (Reza Pahlevi) dan Guru Samir (Ray Sahetapy). Pesantren itu menjadi padepokan sesat sejak Guru Samir menyatakan dirinya sebagai rasul.

Diceritakan pula Rianti (Jian Bantari) adalah mahasiswi yang sedang bimbang karena masalah keluarga dan masalah percintaan dengan sang kekasih. Rianti yang bertengkar dengan ayahnya karena hubungannya dengan Ajie (Alblen) tak direstui, memilih pergi. Rasa kecewa Rianti membuncah kala memergoki Ajie dengan wanita lain. Untuk menenangkan pikiran, Rianti bergabung dengan padepokan Guru Samir.

Ajie pun menyusul Rianti ke padepokan atas permintaan ibu Rianti (Baby Zelvia). Dia ingin mengajak Rianti pulang sekaligus menjelaskan tentang kesalahpahaman di antara mereka. Tapi Rianti sudah banyak berubah, bahkan dia tak ingin meneruskan hubungan dengan Ajie. Dia kini dekat dengan Reihan (Ihsan Idol), anak tiri Guru Samir.

Berbagai keganjilan ditemui oleh Ajie selama di padepokan, antara lain adanya penghapusan dosa dan jaminan masuk surga dengan cara membeli sertifikat. Tak sengaja pula, Ajie memergoki Guru Samir melakukan tafakur dengan cara yang tidak lazim, bahkan melihat Guru Samir memeluk seorang gadis di sebuah gudang yang mereka sebut sebagai rumah tirakat.

Ajie curiga Guru Samir penganut aliran sesat. Sebaliknya, Rianti tak percaya Guru Samir yang dipujanya berlaku sesat. Rianti pun tak keberatan saat Guru Samir ingin menikahinya. Ajie dibantu Raihan bertekad membongkar kebusukan Guru Samir.

Keadaan memanas saat salah satu jamaah padepokan, Marni (Fitri Ayu), mengaku dihamili Guru Samir. Ayah Marni marah besar, minta pertanggungjawaban Guru Samir.

Guru Samir tidak menolak pengakuan Marni. Dia, yang mengaku orang suci tak mungkin melakukan perbuatan nista seperti itu. Untuk membuktikan dia tak bersalah, Guru Samir membuktikan dengan memotong tangannya. Jika tangannya kembali utuh setelah dipotong, maka dia adalah benar orang suci yang setara dengan rasul.

Jamaah, termasuk Rianti, banyak yang percaya dan mengimani kepada Guru Samir saat terbukti tangannya bisa kembali utuh setelah dipotong.

Apa yang sebenarnya terjadi? Benarkah Guru Samir orang suci yang dikaruniai mukjizat?

Film yang mulai tayang di bioskop pada tanggal 5 Juni ini terbilang sangat berani, karena dia mengambil tema yang sangat sensitif bagi sebagian besar penduduk Indonesia yang mayoritas beragama Islam. Namun setelah sukses lolos sensor LSF, dan berhasil tayang di bioskop, film ini telah membuktikan diri mampu mengangkat hal 'tabu' secara apik.

Alur cerita yang lambat memang sedikit mengganggu. Meski demikian, pemain senior yang kemampuan aktingnya tak perlu dipertanyakan, berhasil memaku penonton untuk terus mengikuti cerita hingga akhir.

Namun sayang, kesabaran penonton menantikan kisahnya hingga akhir tak terbalas. Setelah cerita berakhir, penonton tak disuguhi penutup cerita yang diharapkan. Akhir cerita cenderung dipaksakan dan mengambang. Banyak hal yang ingin diketahui oleh penonton tak terungkap di akhir cerita. (kpl/lin)