KapanLagi.com - Oleh: Mahardi Eka Putra
RECTOVERSO mungkin tak cocok dengan penonton yang terbiasa dengan dongeng cinta berakhir bahagia. Peringatan saja, ombnibus yang digarap 5 sutradara wanita (
Marcella Zalianty,
Rachel Maryam,
Olga Lydia,
Cathy Sharon, dan
Happy Salma) dalam debutnya ini alih-alih menyajikan kisah cinta yang berakhir bahagia, justru menyodorkan kisah cinta yang sedih. Akan tetapi, cerita sedih tersebut entah mengapa terasa begitu indah dipandang, didengar, dan juga dirasa.Lewat penuturannya,
RECTOVERSO menggiring penonton untuk merasakan rasanya tersenyum bahagia, tertawa senang, sampai menangis sedih.Meramu kelima kisah cinta adaptasi dari kumpulan cerpen
Dewi Lestari dengan banyak tokohnya tentu bukan hal yang mudah. Salah satu solusi yang dipakai kelima sutradara tersebut adalah menyajikan kelima kisahnya (
CICAK DI DINDING, MALAIKAT JUGA TAHU, FIRASAT, HANYA ISYARAT, dan
CURHAT BUAT SAHABAT) dalam potongan-potongan plot yang mendukung kisah yang satu dengan lainnya meski sejatinya lima kisah tersebut bisa berdiri sendiri sebagai sebuah cerita pendek.
MALAIKAT JUGA TAHUDalam
MALAIKAT JUGA TAHU, ada kisah Abang (
Lukman Sardi), penyandang autis yang hidup bersama dengan Ibu (
Dewi Irawan) dan gadis cantik yang numpang kost di rumahnya, Leia (
Prisia Nasution). Lalu dalam
CURHAT BUAT SAHABAT, ada curhatan Amanda (
Acha Septriasa) kepada sahabatnya, Reggie (
Indra Birowo) tentang problematika cintanya.
CURHAT BUAT SAHABAT
FIRASAT RECTOVERSO mengajak penonton untuk menyelami pergumulan batin Senja (
Asmirandah) dengan firasat-firasatnya yang tak sanggup ia sampaikan. Masih seputar pergulatan batin,
HANYA ISYARAT mengajak penonton menyepi ke pantai bersama Al (
Amanda Soekasah) bersama dengan rekan-rekan travellingnya. Bukan perjalanan biasa, namun demi mengutarakan kekagumannya kepada "pujaan rahasia".
HANYA ISYARATTerakhir ada kisah Saras (
Sophia Mueller) dan Taja (
Yama Carlos) yang lebih dewasa dan liar. Kisah mereka berdua ada dalam
CICAK DI DINDING.
CICAK DI DINDINGLIma kisahnya ini sebenarnya bisa dinikmati secara terpisah. Masing-masing punya semestanya sendiri. RECTOVERSO pun bisa tersaji seperti itu, akan tetapi
Marcelladan kawan-kawan memilih untuk meleburnya menjadi sebuah narasi panjang yang berujung pada satu tema, yakni cinta yang terucap. Rangkaian plot kelima kisah di atas dibangun perlahan dan runtut tanpa membuat penonton kebingungan dalam menikmati leburan tersebut. Tak ada satu cerita yang tampil mendominasi.Kalau pun
MALAIKAT JUGA TAHU menjadi yang paling diingat oleh penonton selepas film berakhir,
itu tak lain berkat pemilihan pemain yang pas.
Lukman Sardi mampu "menghilang" di balik sosok abang yang sedang jatuh cinta dengan caranya. Lalu didukung oleh
Dewi Irawanyang lewat aktingnya penonton bisa tahu mirisnya hati seorang ibu saat anaknya yang autis jatuh cinta kepada wanita yang tak mungkin bisa membalas cintanya.Lalu ada
CURHAT BUAT SAHABAT yang menjadi panggung
Acha membuktikan aktingnya selepas diganjar Piala Aktris Terbaik FFI. Acha dengan fasih menggambarkan perasaan seorang wanita yang ingin move on dari kehidupan cintanya yang putus nyambung. Sedang HANYA ISYARAT, secara pribadi menjadi yang paling menyentil kalbu lewat kedalaman dialognya meski tersaji dalam penuturan yang datar.
RECTOVERSO menjadi ekstensi karya tulis Dewi Lestari yang patut ditonton. Karena lewat rasa, telinga, dan mata, penonton larut dalam kisah cinta yang tak terungkap dalam RECTOVERSO.