INDONESIA

[Review] 'CAHAYA DARI TIMUR: BETA MALUKU'

Sepakbola Satukan Perbedaan
Selasa, 24 Juni 2014 19:51  | 

Chico Jericho


Sepakbola Satukan Perbedaan




KapanLagi.com - Oleh: Abbas Aditya

Pada tahun 2006 silam Maluku berhasil menyabet Piala Medco setelah melawan DKI Jakarta di partai puncak. Dari situlah kita mengenal sosok Alfin Tuassalamony dan Hendra Adi Bayauw. Namun tahukah kamu bila perjalanan dua nama tersebut sampai pada titik sekarang dilatarbelakangi niat tulus pria bernama Sani Tawaniella?

Ya, memang tidak ada yang mengenal siapa Sani. Sampai suatu hari Angga Dwimas Sasongko bertemu dengannya dan mulai menggagas kisah tukang ojek tersebut setelah gagal menjadi pemain bola profesional.

Bersetting pada tahun 2000-an ketika Ambon, Maluku, tengah dilanda konflik, Sani (Chico Jericho) tak tahan melihat anak-anak terluka akibat terlibat bentrokan. Maka ia pun menggiring mereka untuk berlatih bola daripada menyetor nyawa.

Sosok Sani membawa semangat baru bagi anak-anak Maluku di tengah konflik yang melanda.Sosok Sani membawa semangat baru bagi anak-anak Maluku di tengah konflik yang melanda.


Bertahun-tahun berlalu, skill anak-anak Tulehu yang dilatih Sani semakin terasah. Namun hidup Sani tidak banyak perubahan; tetap jadi tukang ojek dan banyak hutang demi mengisi perutnya dan keluarga.

Hingga kemudian Rafi (Frans Nandissa) membentuk sebuah tim sepak bola dengan anak didik Sani tanpa melibatkan pelatihnya. Rafi merasa bakat yang diasah akan sia-sia jika mereka tidak diikutkan dalam sebuah pertandingan. Perselisihan Rafi dan Sani inilah yang kemudian berkontribusi menorehkan catatan sejarah baru Maluku.

Butuh waktu 7 tahun untuk melahirkan CAHAYA DARI TIMUR: BETA MALUKU. Dan setelah melihat hasil akhir dari sebuah proses cukup panjang tersebut, film terbaru Angga Dwimas Sasongko setelah HARI UNTUK AMANDA ini berhasil menjadi film yang sangat matang dan hangat.

Tema sepak bola dalam blantika perfilman nasional memang bukan barang baru. Pun dengan elemen from zero to hero yang diemban. Namun dari segi naskah, kerja sama antara Angga dengan Roby Taswin selaku sinematografer dalam menghadirkan visualisasi yang Indah, ditunjang aspek lain yang saling bersinergi, berhasil menjadi kesatuan utuh.

Chico Jericho yang diplot sebagai leading actor pun berhasil memberikan kontribusi kuat dalam film ini. Siapa menyangka dari bintang sinetron yang selalu tampil rapi dan tampan, bisa menjadi orang lain dengan sangat menyakinkan.

Belum lagi pemain baru yang merupakan anak-anak Maluku asli dari Aufa Assegaf, Bebeto Leutually sampai Frans Nandissa, berhasil memainkan peran mereka dengan sangat natural.

Akhir kata, CAHAYA DARI TIMUR: BETA MALUKU adalah sajian yang relevan dengan kondisi Indonesia saat ini. Walau disisipi dramatisasi, namun terasa pas dan menginspirasi.

Baca review kami yang lain

Jakarta, Wanita Dan Cinta Yang Gelisah
Terbang Kembali Bersama Para Naga
Memupuk Harapan Lewat Berlari
Ulah Dua Polisi Bodoh Yang Lebih 'Gila'
Bersatu Rebut Kembali Teater JKT48

 

(kpl/abs/dka)