The Mountain II
Action Drama War

The Mountain II

2016 135 menit
9/10
Rating 8.2/10
Sutradara
Alper Caglar
Penulis Skenario
Alper Caglar
Studio
3leven CaglarArts Entertainment Insignia Productions

Kabut tebal menyelimuti pegunungan yang sunyi, sementara suara tembakan dan jeritan samar terasa seperti gema yang tak pernah benar benar hilang. Di wilayah konflik yang keras dan tak ramah, perang bukan sekadar soal garis depan dan peta strategi, tetapi tentang keputusan hidup dan mati yang diambil dalam hitungan detik. Di tengah kondisi inilah First Lieutenant Oguz Caglar (Caglar Ertugrul) memimpin sebuah tim pasukan khusus dengan baret merah marun yang dikenal memiliki disiplin tinggi dan loyalitas tanpa syarat.

Oguz bukan pemimpin yang banyak bicara, tetapi setiap perintahnya lahir dari pengalaman panjang dan rasa tanggung jawab yang besar terhadap anak buahnya. Ia memimpin tujuh prajurit yang masing masing memiliki latar belakang berbeda, namun disatukan oleh satu komitmen yang sama, menjalankan misi demi melindungi warga sipil dan mempertahankan kehormatan negara. Di antara mereka ada Bekir (Ufuk Bayraktar) yang dikenal tenang namun tegas, Caglar (Ahu Turkpençe) sebagai pilot helikopter yang berani, serta Veysel (Murat Arkın) yang sering menjadi penopang moral tim di situasi paling genting.

Misi yang mereka emban kali ini bukan operasi biasa. Informasi intelijen menyebutkan adanya kelompok bersenjata yang menahan warga sipil di daerah pegunungan terpencil. Wilayah tersebut sulit dijangkau, cuaca tidak menentu, dan ancaman bisa datang dari arah mana saja. Oguz dan timnya harus bergerak cepat, namun juga penuh perhitungan. Setiap langkah di medan ini bisa berujung pada bencana jika salah mengambil keputusan.

Perjalanan menuju lokasi misi segera menunjukkan betapa berbahayanya situasi yang mereka hadapi. Helikopter yang membawa mereka harus terbang rendah di antara lembah dan puncak gunung, menghindari tembakan musuh yang siap menjatuhkan siapa saja yang melintas. Ketegangan terasa sejak awal, namun tak satu pun dari mereka menunjukkan keraguan. Bagi pasukan ini, rasa takut bukan sesuatu yang dihilangkan, melainkan dikendalikan.

Setibanya di darat, tantangan semakin nyata. Medan terjal memaksa mereka bergerak perlahan, sementara komunikasi dengan markas sering terputus. Di setiap desa kecil yang mereka lewati, bekas kehancuran terlihat jelas. Rumah rumah kosong, suara anak anak yang seharusnya bermain kini berganti keheningan yang menyesakkan. Pemandangan ini menjadi pengingat kuat bagi Oguz tentang alasan mereka berada di sana.

Ketika kontak pertama dengan musuh terjadi, situasi berubah menjadi kacau. Tembakan datang dari posisi tersembunyi, memaksa tim berlindung dan membalas dengan presisi tinggi. Koordinasi menjadi kunci. Oguz harus memastikan setiap anggota tim tetap aman sambil tetap melanjutkan misi utama. Di saat yang sama, ia harus mengambil keputusan sulit tentang kapan harus maju dan kapan harus mundur.

Di tengah baku tembak, tim menemukan jejak warga sipil yang ditahan. Waktu semakin sempit, karena setiap menit yang berlalu bisa berarti nyawa melayang. Bekir memimpin tim kecil untuk membuka jalur aman, sementara Oguz mengatur strategi utama. Kerja sama mereka diuji di bawah tekanan ekstrem, ketika satu kesalahan kecil saja bisa berakibat fatal.

Ketegangan tidak hanya datang dari musuh, tetapi juga dari kondisi internal. Kelelahan fisik, luka yang mulai terasa, dan beban emosional melihat penderitaan warga sipil perlahan menggerogoti mental tim. Namun justru di saat inilah solidaritas mereka terlihat paling kuat. Mereka saling menguatkan, mengingatkan satu sama lain bahwa misi ini lebih besar dari ketakutan pribadi.

Momen paling kritis terjadi ketika mereka akhirnya menemukan lokasi tempat para sandera ditahan. Wilayah itu dijaga ketat dan penuh jebakan. Oguz harus menyusun rencana penyelamatan dengan cepat, mempertimbangkan keselamatan sandera dan pasukannya sendiri. Tidak ada ruang untuk kesalahan, karena satu ledakan atau tembakan bisa memicu kekacauan besar.

Operasi penyelamatan berlangsung dalam ketegangan yang nyaris tak tertahankan. Teriakan, tembakan, dan suara ledakan bercampur menjadi satu. Di tengah kekacauan itu, Oguz tetap berdiri di garis depan, memastikan setiap sandera dievakuasi dengan aman. Keberanian para prajuritnya terlihat jelas, ketika mereka rela mempertaruhkan diri demi melindungi orang lain.

Namun perang selalu menuntut harga. Tidak semua berjalan sesuai rencana. Beberapa anggota tim harus menghadapi risiko besar, dan Oguz dipaksa membuat keputusan yang akan membekas seumur hidup. Di saat seperti inilah makna kepemimpinan benar benar diuji, bukan hanya soal strategi, tetapi tentang empati dan tanggung jawab moral.

Setelah misi selesai dan mereka kembali ke titik aman, keheningan terasa lebih berat daripada suara tembakan sebelumnya. Setiap anggota tim membawa pulang cerita dan luka masing masing, baik yang terlihat maupun yang tersembunyi. Oguz menyadari bahwa perang tidak pernah benar benar berakhir ketika senjata diturunkan, karena kenangannya akan terus hidup dalam benak mereka.

The Mountain II menyajikan potret keras tentang medan perang yang tidak hanya memperlihatkan aksi, tetapi juga sisi kemanusiaan para prajurit. Di balik seragam dan senjata, mereka adalah manusia dengan rasa takut, harapan, dan keberanian yang terus diuji. Ketika garis antara keberanian dan kehancuran semakin tipis, sejauh mana seseorang sanggup melangkah demi menyelamatkan nyawa orang lain?

Penulis Artikel: Anastashia Gabriel

Caglar Ertugrul First Lieutenant Oguz Caglar
Ufuk Bayraktar Specialist Bekir u00d6zbey
Ahu Tu00fcrkpenu00e7e Ceyda Balaban
Murat Serezli Lieutenant Colonel Veysel Gu00f6kmusa
Atilgan Gu00fcmu00fcs Master Sergeant Mustafa Sahin
Murat Arkin Staff Sergeant Arif Sayar
Armagan Oguz Sergeant Baybars Yucel
Ahmet Pinar Master Sergeant Esref Cullu
Au00e7elya u00d6zcan Nabat
Bedii Akin Boran

Jadwal Film