Drama Intrik dan Perebutan Harta Warisan Keluarga Saif Ali Khan

Jum'at, 18 Desember 2015 10:38 Penulis: Wulan Noviarina
Drama Intrik dan Perebutan Harta Warisan Keluarga Saif Ali Khan Saif Ali Khan ©istimewa
Kapanlagi.com - Seperti kebanyakan kisah kerajaan dan para ahli warisnya. Tidak ada cerita yang benar-benar mulus, jauh dari intrik dan drama di dalamnya. Termasuk cerita keluarga kepangeranan Pataudi yang kini pucuk pimpinannya dipegang oleh Saif Ali Khan.

Harta warisan keluarga pangeran Pataudi yang sudah diturunkan dari generasi ke generasi, tidak hanya menyulut intrik antar saudara. Pemerintah India pun ikut meminta bagian atas harta yang mereka sebut sebagai rampasan perang dari pihak musuh itu.

Harta Musuh

Sebelum berpisah jadi dua negara, India dan Pakistan adalah satu kesatuan dalam nama British India. Pada tahun 1947, mereka berpisah dan mendeklarasikan negara masing-masing.

Naasnya, lokasi kepangeranan Bhopal ada di antara India dan Pakistan Modern. Sebagian leluhur Saif Ali Khan ada yang ikut Pakistan, ada juga yang ikut India.

Sebenarnya, bukan nenek Saif Ali Khan yang jadi Begum of Pataudi, karena ia bukan anak pertama dari Hamidullah Khan. Seharusnya Abida Sultan, anak pertama Hamidullah yang jadi penerus tahta kepangeranan Bhopal.

Rumah ini adalah salah satu harta musuh yang diminta oleh pemerintah India. ©indialegalRumah ini adalah salah satu harta musuh yang diminta oleh pemerintah India. ©indialegal


Namun saat India dan Pakistan berpisah, Abida memilih untuk tinggal di Pakistan. Kedudukannya sebagai penerus kepangeranan pun digantikan oleh nenek Saif, Sajida Khan.

Kepindahan Abida ke Pakistan inilah yang membuat India marah. Mereka pun menyebut bahwa harta keluarga kepangeranan Bhopal seharusnya jadi milik pemerintah, karena masuk dalam kategori harta rampasan milik musuh.

Rebutan Aset

Pasca kematian Hamidullah, pemerintah Union mengakui Sajida sebagai pewaris tahta kepangeranan. Namun hal ini tidak dapat diterima oleh ibu Sajida, Begum Kaikhusrau dan dua orang saudaranya, Abida dan Rubia Sultan.

Meski demikian, pemerintah tetap mengukuhkan Sajida sebagai Begum Nawab of Pataudi karena Abida, kakaknya sudah pindah ke Pakistan. Bertiga, Begum Kaikushrau, Abida dan Rubia mengajukan tuntutan ke pengadilan namun tidak membuahkan hasil.

Masih belum puas dengan tuntutan pertama, Abida dan Rubia kembali mengajukan tuntutan kala Sajida meninggal dan posisinya digantikan oleh ayah Saif, Mansoor Ali Khan. Abida dan Rubia tidak terima jika penerus tahta kepangeranan Bhopal jatuh ke tangan anak Sajida, Mansoor. Namun lagi-lagi usaha ini juga tak mendapatkan hasil apa-apa.

Berbagai istana keluarga Saif jadi rebutan di keluarga. ©indialegalBerbagai istana keluarga Saif jadi rebutan di keluarga. ©indialegal

Pasca kematian Abida, perjuangan untuk merebut aset diteruskan oleh anaknya, Shahyar Khan. Namun tak lama, akhirnya Shahyar memutuskan untuk menyerah dan tak lagi meminta bagian dari harta warisan kepangeranan Bhopal.

Namun tidak demikian dengan Rabia, yang masih meminta bagian dari harta warisan yang ditinggalkan oleh ayahnya. Namun sampai akhir hidupnya, Rabia tak mendapatkan apa yang ia inginkan.

Perebutan Terus Berlanjut

Tuntutan Rabia dan Abida yang ditolak pengadilan membuat semua harta keluarga Pataudi ada di tangan Sajida. Segalanya baik-baik saja sampai Sajida meninggal dunia.

Mansoor Ali Khan (ayah Saif) dan kedua saudaranya, Saleha dan Sabiha saling berebut harta warisan sepeninggal ibu mereka. Mansoor yang mendapatkan tahta kepangeranan Bhopal dituding sudah menguasai segalanya dan tak menyisakan apapun untuk adik-adiknya.

Urusan warisan ini pun sampai ke pengadilan, yang akhirnya memutuskan bahwa Mansoor mendapatkan 50 persen harta. Sementara adiknya mendapatkan masing-masing 25 persen dari warisan yang ditinggalkan oleh Sajida.

Sharmila Tagore meneruskan perebutan warisan mendiang suami dengan saudara iparnya. ©dulheraja.co.inSharmila Tagore meneruskan perebutan warisan mendiang suami dengan saudara iparnya. ©dulheraja.co.in


Sidang kasus ini berlangsung cukup lama, mulai kepergian Sajida pada tahun 1995 sampai Agustus 2003. Namun keputusan pengadilan yang membagi rata harta keluarga ini tak dapat diterima oleh Saleha dan Sabiha.

Pada tahun 2005, Sabiha mengajukan tuntutan lain lewat pengadilan Bhopal soal pembagian warisan ini. Ia meminta beberapa hektar tanah di Ahmedabad yang dulunya jadi sekretariat kepangeranan Bhopal.

Sampai Mansoor Ali Khan meninggal dunia, pertempuran keluarga Pataudi di pengadilan belum usai. Pasca sepeninggal Mansoor, pertarungan ini dilanjutkan oleh istrinya, Sharmila Tagore.

Tak mau lama bersengketa dengan saudara iparnya, Sharmila meminta agar pengadilan kembali membagi rata harta mereka. Ia datang ke Bhopal dengan niat untuk berbagi dan tinggal di sana selama empat hari. Namun komunikasi antara mereka masih tetap buntu, tak menghasilkan apapun.

Awalnya Sharmila ingin menjual properti ini, dan hasilnya dibagi rata dengan Saleha dan Sabiha. Namun hal ini ditentang oleh Saif dan Kareena Kapoor, karena mereka sayang kalau properti peninggalan keluarga sampai jatuh ke tangan orang lain.

Perjuangan Saif Ali Khan

Pasca dinobatkan sebagai pangeran Bhopal, Saif Ali Khan bertanggung jawab atas properti keluarga Pataudi. Tidak hanya menjaga, Saif juga harus menghadapi tuntutan dari pemerintah yang meminta agar ia membuktikan bahwa dirinya benar-benar keluarga Hamidullah Khan agar istana Pataudi tidak disita oleh pengadilan.

Selain itu Saif juga harus meneruskan kasus tuntutan dari saudara ayahnya, menemani sang ibunda untuk mengurus di pengadilan. Dan sampai saat ini masih belum juga berakhir.

Di tengah perebutan harta warisan ini, Sharmila Tagore sudah membuat perjanjian dengan Saif dan kedua anaknya yang lain, Soha Ali Khan dan Saba Ali Khan. Mereka sudah dibagi harta masing-masing agar tidak saling berebut di masa mendatang.

Sampai kapan perjuangan Saif akan berlangsung?

(kpl/phi)

Editor:

Wulan Noviarina


REKOMENDASI
TRENDING