AKBS Mendukung Pembuatan 'LASTRI'
Kapanlagi.com - Dukungan pembuatan film LASTRI datang lagi dan kali ini sejumlah orang yang tergabung dalam Aliansi Kebebasan Berekspresi Surakarta (AKBS) melakukan audiensi di Mapolwil Surakarta, Selasa, (18/11). Sejumlah orang mendatangi Mapolwil Surakarta, menyatakan, agar aparat Kepolisian untuk melakukan penegakan hak asasi manusia, terkait larangan pembuatan film LASTRI. Koordinator AKBS di Surakarta, Kelik Ismunandar mengatakan, pihaknya menuntut kepolisian untuk melaksanakan penegakan hak manusia sesuai yang tercantum dalam Undang-Undang Dasar 1945, UU nomor 39 tahun 1999, dan UU nomor 11, 12 tahun 2005. Selain itu, pihaknya juga meminta untuk menindak tegas aparat yang melakukan pembiaran ketika terjadinya ancaman oleh kelompok tertentu yang hadir dalam dialog dengan kru film LASTRI.Oleh karena itu, pihaknya menolak pemberangusan dan segala bentuk pengebirian kreatifitas terhadap proses pembuatan film LASTRI itu dengan seolah mengatasnamakan masyarakat Surakarta. Selain itu, pihaknya juga mendesak kepada aparat yang berwewenang untuk menjaga kewibawaan dari segala bentuk tekanan dari kalangan manapun yang mengancam kemerdekaan ber-ekspresi dan berkesenian serta massa depan demokrasi. Sejumlah orang tersebut saat di Mapolwil berkeinginan menemui Kapolwil Surakarta, Kombes Pol. Taufik Ansorie. Namun, Kapolwil tidak berada di tempat dan kemudian diterima dua perwira Satmapta Polwil Surakarta, AKP Awali dan AKP R. Seta. Setelah menyerahkan pernyataan sikap dari AKBS, sejumlah orang tersebut kemudian meninggalkan Mapolwil. Dukungan pembuatan film LASTRI sebelumnya juga datang dari belasan massa yang tergabung dalam Forum Komunitas Peduli Ekspresi Berkesenian Surakarta (FKPEBS) dengan melakukan aksi damai di Mapolwil Surakarta. Mereka yang dikoordinatori oleh Kanjeng Rudy Subanidro, juga menyatakan, mendukung pembuatan flim LASTRI dan menyayangkan atas segala pelarangan yang dilakukan terhadap pembuatan film tersebut. Film LASTRI merupakan kisah percintaan yang mengambil setting ilustrasi zaman tragedi Nasional pada tahun 1965. Namun, film arahan sutradara Eros Djarot yang mengambil lokasi di Solo dan sekitarnya itu, tiba-tiba terganjal akibat diprotes oleh sekelompak masyarakat dengan cara menghentikan proses pembuatan film tersebut.
(Setelah 8 tahun menikah, Raisa dan Hamish Daud resmi cerai.)
(kpl/dar)
Advertisement
