FILM INDONESIA

Screenplay Bumilangit, Hitmaker, dan Visinema Pictures Resmi Gabung APFI

Selasa, 10 Desember 2019 14:45 Penulis: Dhimas Nugraha

Anggota APFI ©Dokumentasi Pribadi

Kapanlagi.com - Tiga perusahaan perfilman ternama Indonesia, yakni Hitmaker, Visinema Pictures,  Screenplay Bumilangit menyatakan bergabung ke dalam keanggotaan Asosiasi Perusahaan Film Indonesia (APFI) dalam Kongres ke-2 yang diadakan di Jakarta, Sabtu (7/12). 

Dengan bergabungnya tiga perusahaan film besar ini, maka akan semakin memperkuat jaringan APFI, dan tentunya dunia perfilman Indonesia. 

Asosiasi ini dirikan pada tahun 2015 oleh 7 perusahaan film, antara lain Starvision, Maxima Pictures, Mahaka Pictures (Erick Tohir dan Celerina Judisari), Falcon Pictures (HB Naveen), Rapi Films (Gope Samtani), Soraya Intercine Film (Raam Soraya), Mizan Pictures (Putut Widjanarko) dan Dede Yusuf sebagai Anggota Kehormatan.

 

 

1. Tiga Perusahaan Film

Rocky Soraya mendirikan Hitmaker Studios sejak 2015. Selama berdiri, ia telah berhasil memecahkan rekor MURI sebagai sutradara pertama di Indonesia yang berhasil menembus angka 1 juta penonton dalam empat karya film horor berturut-turut. 

Tahun 2008, Angga Dwimas Sasongko mendirikan Visinema Pictures. Sebelas tahun berjalan, perusahaan ini sudah melahirkan sejumlah film box office nasional, seperti  CAHAYA DARI TIMUR: BETA MALUKU (2010), FILOSOFI KOPI (2015) dan KELUARGA CEMARA (2019). 

Screenplay Bumilangit didirikan tahun 2003. Dipimpin oleh Bismakara Kurniawan dan Wicky v. Olindo, dengan Bumilangit Cinematic Universe, Screenplay berhasil memunculkan para jagoan Tanah Air ke layar lebar. Salah satu film yang paling fenomenal adalah GUNDALA (2019). 

2. Film Indonesia Mampu Bersaing dengan Film Luar

Ketua APFI Chand Parwez Servia mengatakan bahwa asosiasi yang dipimpinnya akan terus menghadirkan film-film bermutu yang bukan hanya menghibur, tapi juga mendidik, membawa pesan moral yang baik dan sukses secara komersial. 

Dalam empat tahun terakhir, film ini Indonesia mampu mendapat perhatian lebih dari para penonton. Terbukti dengan banyaknya film lokal yang mampu meraih jutaan penonton, mengalahkan film produksi luar negeri. 

“Sudah terbukti bahwa kita bisa, mari terus jaga momentum ini,” tegas Parwez. 

Sekretaris APFI Celerina Judisari menegaskan, saat ini APFI masih punya tantangan besar, yakni bagaimana caranya agar film Indonesia bisa menembus pasar Internasional. 

“Tentu semua aspek dari kegiatan perfilman harus kita tingkatkan, melalui pelatihan, penelitian, dan interaksi dengan komunitas perfilman global,” katanya.

3. APFI Membawa Visi Perfilman Indonesia

Saat dideklarasikan pendiriannya pada tanggal 12 Oktober 2015, sejumlah pihak menyambut hangat berdirinya APFI. Aktor senior Gusti Randa, misalnya, percaya kehadiran APFI akan berdampak positif bagi perfilman di tanah Air sepanjang organisasi ini konsisten dengan visi dan misi yang telah ditetapkannya. 

Hal ini terbukti, dalam satu dekade terakhir, film-film produksi APFI berhasil menembus Box Office film nasional. 

Sedangkan Triawan Munaf, Ketua Badan Ekonomi Kreatif saat itu, menyebut APFI sebagai tempat berkumpulnya orang-orang baik, sehingga dapat menjadi “api” bagi perfilman Indonesia yang membakar semangat untuk maju.

(kpl/DIM)

Editor: Dhimas Nugraha


REKOMENDASI
TRENDING