'SENJAKALA DI MANADO' Bawa Drama Cinta & Keluarga Ala Kawanua

Kamis, 10 November 2016 12:52 Penulis: Fitrah Ardiyanti
'SENJAKALA DI MANADO' Bawa Drama Cinta & Keluarga Ala Kawanua Film Senjakala di Manado - Fero Walandouw - Mikha Tambayong/©twitter.com/SenjadiManadoID

Kapanlagi.com - SENJAKALA DI MANADO mempertemukan sederet aktor dan aktris berdarah Manado dari 3 generasi. Dari Rima Melati, Ray Sahetapy hingga Mikha Tambayong, film drama percintaan berbumbu sedikit komedi ini memang 100% Manado.

Menurut sutradara Denny Pusung, ia dan sang produser memang punya kebijakan untuk memilih para aktor dan aktris yang punya darah Manado. Apa alasannya?

"Dari awal ngobrol dengan produser, ini film 100% rasa Manado. Kebijakan memilih pemain minimal punya darah Manado, akan terasa lain. Bisa saja kalau pilih artis Jawa, tetapi rasanya kurang pas saja, apalagi bukan cuma bahasa Manado saja, ada bahasa Belanda juga. Mikha dan Fero yang kecil di Manado, mungkin lebih terbiasa mendengar bahasa Manado yang diucapkan opa dan omanya. Ini akan jadi nilai tambah di film ini," tuturnya saat dijumpai di acara preskon film SENJAKALA DI MANADO, di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, Selasa (8/11).

SENJAKALA DI MANADO hadirkan rasa 100% Manado/©twitter.com/SenjadiManadoIDSENJAKALA DI MANADO hadirkan rasa 100% Manado/©twitter.com/SenjadiManadoID

Film percintaan ini dibintangi oleh Ray Sahetapy sebagai Johnny, Mikha Tambayong sebagai Pingkan, Fero Walandouw sebagai kekasih Pingkan, Remy Silado dan Rima Melati sebagai Opa dan Oma Pingkan. Plotnya mengangkat kisah keluarga Manado dan seluk beluk percintaan Pingkan dan kekasihnya yang tak disetujui oleh sang papa.

Pingkan selama ini dibesarkan oleh Oma dan Opanya. Sementara sang papa, Johnny, memilih untuk berlayar selama 18 tahun 2 bulan 3 hari, meninggalkan keluaganya. Kembalinya Johnny ke rumah mengagetkan Pingkan yang tak pernah tahu sosok sang papa. 

Kebencian Pingkan makin menjadi kala Johnny tak merestui hubungannya dengan sang kekasih. Sang papa yang suka mabuk pernah mendapati kekasih Pingkan berpelukan dengan wanita di sebuah klub malam.

SENJAKALA hadirkan kisah cinta Pingkan dan kekasihnya/©twitter.com/SenjadiManadoIDSENJAKALA hadirkan kisah cinta Pingkan dan kekasihnya/©twitter.com/SenjadiManadoID

Bagi Mikha, film ini adalah sebuah tantangan buatnya. Sebab, ia tak fasih berbahasa Manado, karena ia lahir dan besar di Jakarta. Lewat SENJAKALA DI MANADO, ia banyak belajar, terutama soal bahasan dan budaya Manado.

"Ini bukan film biasa buat aku. Ini pembelajaran untuk aku, karena full bahasa Manado. Dari nol banget, dibantuin semuanya. Belajar tentang culture dan orang-orang Manado. Aku bangga bisa memerankan gadis Manado, belajar kulturnya, banyak yang bagus banget. Suatu kebanggaan untuk aku berada di tim ini. Yang aku paling bangga, kita bekerja sebagai keluarga," ujarnya.

PR Mikha makin bertambah ketika ia harus belajar bahasa Manado dalam waktu singkat untuk memerankan sosok Pingkan. "Kalau Fero jago, dia translator aku nih, aku yang paling parah (nggak bisa bahasa Manado), tetapi pas syuting, berkat bantuan tim aku udah bisa sedikit-sedikit," lanjutnya.

Fero bantu Mikha jadi translator bahasa Manado/©twitter.com/SenjadiManadoIDFero bantu Mikha jadi translator bahasa Manado/©twitter.com/SenjadiManadoID

Nggak heran jika aktor dan mantan kekasih Agatha Blink ini lancar berbahasa Manado. Sejak kecil hingga kuliah, Fero menghabiskan waktunya di kota yang punya nama lain Tinutuan ini.

"Saya 10 tahun di sana, sampai kuliah di sana. Gak mungkin kalau gak bisa bahasa Manado. Cuma memang dalam akting beda, biasa aku kamu, atau lo gue, nah pas pakai bahasa Manado jadi mikir juga. Misal kayak 'sudah gak usah' versi Manado itu butuh pemahaman dan pengertian, makanya kalau mau ngomong jadi sering mikir dulu," jelasnya.

Selain itu, ada penampilan spesial dari Elfonda Mekel atau Once. Selain mengisi original soundtracknya, ini juga jadi pengalaman pertama Once bermain dalam film yang 100% Manado.

Adu akting Mikha dan Ray sebagai anak dan bapak/©twitter.com/SenjadiManadoIDAdu akting Mikha dan Ray sebagai anak dan bapak/©twitter.com/SenjadiManadoID

"Saya jarang terlibat di sebuah film sekaligus menyanyi dalam OST. Ini pengalaman berarti untuk saya, karena ini film yang unik. Berkisah tentang keluarga Manado. Saya senang lagu ini bisa jadi soundtrack. Saya pilih lagu Cakrawala, kebetulan di album baru saya juga. Lagu ini pas dengan film ini, saya sangat bangga bisa berkontribusi di film ini. Semoga film ini bisa menginspirasi dengan baik," terangnya.

Deni Pusung juga ingin filmnya sangat otentik, hingga memutuskan untuk melakukan pengambilan gambar full di sana. Di mana saja sih lokasinya?

"Lokasi kita sesuaikan dengan cerita, ada di pegunungan Tomohon, ada perkampungan sana juga, ada di kota, main di pantai. Hampir semua tempat bagus di Manado dimasukkan di lokasi ini," tandasnya.

Selain pegunungan Tomohon, ada juga lokasi syuting yang bertempat di Bukit Doa, Danau Linouw, Puncak Rurukan, Gunung Lokon, dan Gunung Mahawu. Penasaran nggak sih dengan film drama yang juga menampilkan sisi indah kota Manado? Intip di sini trailernya.

(kpl/aal/tch)

Reporter:

Sahal Fadhli


REKOMENDASI
TRENDING