Pudarnya Sihir Tablet Emas Ancam ‘Kehidupan’ Patung Museum

Senin, 29 Desember 2014 19:52 Penulis: Mahardi Eka
Pudarnya Sihir Tablet Emas Ancam ‘Kehidupan’ Patung Museum dok. 20th Century Fox
Kapanlagi.com - Oleh: Abbas Aditya

Menjelang Natal tahun 2006 silam Shawn Levy sukses memvisualisasikan mimpi terliar masa kecil orang-orang saat berkunjung ke museum dalam film NIGHT AT THE MUSEUM. Ia menjawab banyak 'what if' patung dan benda-benda di dalam sana hidup, berbicara, lalu berinteraksi satu sama lain. Tak heran bila komedi fantasi yang diadaptasi dari buku anak karya Milan Trenc tersebut berhasil menduduki tangga box office.

Enam tahun setelah dirilisnya film kedua, Ben Stiller kembali didapuk sebagai Larry Dalley, sekuriti yang bekerja di museum Natural History. Sama seperti sebelumnya, sepak terjang duda satu anak ini masih ditemani deretan patung lilin yang hidup pada malam hari. Sebut saja monyet cerdas bernama Dexter; dua miniatur mantan musuh yang kini bersahabat: Jedediah (Owen Wilson) dan Octavius (Steve Coogan); Atilla pemimpin kelompok Barbar (Patrick Gallagher); Ahkmenrah pemilik artefak tablet emas (Remi Malek); Sacagawea yang lemah lembut (Mizuo Peck); sampai Presiden Amerika ke-26, Theodore Roosevelt, yang diperankan Robin Williams.

Natural History menjamu tamu penting dari pemerintahan untuk menunjukkan perkembangan museum seiring majunya teknologi. Namun acara itu gagal total saat koleksi patung yang diminta menghibur malah berbuat onar. Setelah melakukan penyelidikan, Larry mengungkap bila keanehan dipengaruhi tablet emas milik Ahkmenrah yang mulai berkarat.

Bersama waktu yang tersisa, Larry harus menemui patung Merenkahre—ayah Ahkmenrah—yang tersimpan di museum di Inggris. Karena hanya dia yang tahu bagaimana menghilangkan karat dan menyelamatkan ‘nyawa’ sahabat-sahabat Larry yang terbuat dari lilin tersebut.

Bila kalian mengikuti sejak awal, pasti bertanya-tanya drama apalagi yang akan dialami Larry dan patung-patung ini. Sayangnya, tidak ada hal baru ditawarkan. NIGHT AT THE MUSEUM: SECRET OF THE TOMB hanya melakukan perpanjangan dari apa yang hadir pada dua seri sebelumnya.

Meski lemah dalam pondasi cerita, tak lantas membuat film yang naskahnya ditulis oleh David Guion dan Michael Handelman ini masuk dalam kategori buruk. Saya menyebutnya stagnan. Terbukti, Shawn Levy masih mampu meracik segala elemen yang ada dengan cukup seru. Porsi komedi yang semakin kering itu ditukar dengan masuknya drama yang membuat haru biru penonton saat cerita akan berakhir.

All in all, NIGHT AT THE MUSEUM: SECRET OF THE TOMB memang bukan epilog yang diharapkan dari sebuah trilogi, bahkan dengan mudah dilupakan bagi sebagian orang. Tapi kehadirannya mampu melengkapi dongeng masa kecilmu.

(kpl/abs/dka)

Reporter:

Adi Abbas Nugroho


REKOMENDASI
TRENDING