Benyamin, Legenda BetawiKemenangan Benyamin S Sebagai Aktor Terbaik Sempat Diragukan

Selasa, 17 Juni 2014 07:31 Penulis: Darmadi Sasongko
Kemenangan Benyamin S Sebagai Aktor Terbaik Sempat Diragukan Benyamin S © KapanLagi.com
Kapanlagi.com - Oleh: Darmadi Sasongko

Film berjudul Honey, Money, And Djakarta produksi tahun 1970 menjadi film pertama Benyamin S, kendati saat itu hanya berperan sebagai cameo. Dia sebagai penyanyi yang tampil di even Jakarta Fair, yang memang menjadi setting film garapan sutradara Misbach Yusa Biran itu.

Peran sebagai cameo juga diterima Ben di film Hostess Anita dan Brandal-Brandal Metropolitan, dan baru di film Dunia Belum Kiamat mulai mendapat peran yang lumayan besar. Berangsur-angsur, Ben mulai dipercaya mendapat peran menengah atau pemeran pembantu, saat berperan di film Benteng Betawi (1971), Si Pitung (1971), Angkara Murka (1972) dan Bing Slamet Setan Jalanan (1972).

Ben pun akhirnya mendapat kesempatan menjadi bintang utama di Intan Berduri (1972) arahan sutradara Turino Junaidi. Film berdurasi 104 menit ini terbilang serius yang di kemudian hari membuktikan kemampuan akting Benyamin.

Benyamin S © KapanLagi.comBenyamin S © KapanLagi.com

Film ini pun menjadi film terbaik peraih Piala Citra Festival Film Indonesia 1973, sekaligus secara kontroversial mengantarkan Ben sebagai pemeran utama pria terbaik. Sementara, lawan mainnya, artis Rima Melati juga menggondol kategori pemeran utama wanita terbaik.

Kemenangan Ben menimbulkan keraguan bagi insan perfilman Indonesia. Karena sejak awal Ben hanya dikenal sebagai penyanyi pop Melayu dan tidak diperhitungkan menjadi pemenang. Pengunjung yang hadir di acara puncak FFI pada Sabtu, 31 Maret 1973, seolah tidak percaya dengan kemenangan Benyamin malam itu.

"Bisa saja orang berpendapat macam-macam. Memang surprise bahwa saya menang, tapi itu keputusan juri. Dulu, ketika mula-mula saya menyanyi lagu-lagu Betawi, banyak yang tidak suka. Lagu-lagu saya dianggap kampungan. Tapi sekarang?" kata Benyamin mengomentari kemenangannya seperti dikutip dari buku Kompor Mleduk,  Benyamis S, karya The Creative Library.

Namun apapun kenyataan harus diterima, malam itu Ben bisa menyisihkan para pesaingnya, di antaranya Sophan Sophiaan lewat film Perkawinan dan Soekarno M Noer lewat film Mama.

Benyamin S © KapanLagi.comBenyamin S © KapanLagi.com

Sejak sukses Intan Berduri, Ben banyak mendapat tawaran akting. Dia disebut sebagai aktor termahal dengan bayaran tertinggi saat itu, yakni sekitar Rp 3 juta per film. Rata-rata sekitar 10 film dibintanginya setiap tahun terhitung sejak 1973 hingga 1977.

Akting Ben kembali dianggap sukses saat membintangi film Si Doel Anak Modern (1976). Dia kembali dinobatkan sebagai Pemeran Utama Pria Terbaik pada FFI 1977, begitu pun lawan aktingnya, Christine Hakim juga dinobatkan sebagai pemeran wanita terbaik.

Kejadian ini nyaris sama dialami Ben saat menang lewat Intan Berduri (1972). Peran Ben yang memainkan peran karakter masih dianggap tetap menonjolkan sebagai seorang pelawak. Sutradara Syumanjaya dianggap gagal mengarahkan Ben menjadi aktor berkarakter seperti keinginan semula.

Apapun Ben kembali meraih Piala Citra sebagai pemeran utama pria terbaik untuk kedua kalinya. Namun film Si Doel Anak Modern gagal menjadi film terbaik, karena memang tidak ada pemenang untuk kategori tersebut.

(kpl/dar)


REKOMENDASI
TRENDING