Benyamin, Legenda BetawiSekilas Tentang Nenek Moyang Benyamin S

Senin, 09 Juni 2014 12:11 Penulis: Darmadi Sasongko
Sekilas Tentang Nenek Moyang Benyamin S Benyamin S © KapanLagi.com
Kapanlagi.com - Oleh: Darmadi Sasongko

Keputusan Sukirman tidak salah, bahkan sangat beruntung saat memacari gadis Betawi bernama Siti Aisyah. Dia adalah putri H. Rofiun, seorang pendekar terpandang, tokoh Betawi di wilayah Kemayoran.

Rofiun konon memiliki hubungan darah dengan Si Jago, pendekar legendaris Betawi yang namanya juga diabadikan menjadi Bendungan Jago di Kemayoran. Sikapnya dermawan dengan kehidupan sederhana, yang membuatnya disegani.

"Tanah Engkong luas banget, dari situ (Kemayoran) sampai ke Sunter. Saya nggak tahu ada berapa hektar. Pokoknya anaknya yang 9 orang itu kebagian tanah semua. Bendungan Jago ada, Komplek Listrik ada. Nah tempat tinggal saya itu di depan jembatan yang ada pohon sengon, itu daerah kelahiran saya. Itu tanah warisan enyak saya," kata Benyamin S dalam buku Kompor Mleduk Benyamin S, The Creative Library (2007).

Benyamin S © KapanLagi.comBenyamin S © KapanLagi.com

Sukirman akhirnya menikahi Aisyah. Dia dikaruniai delapan anak yakni Rahani, Mohammad Noer, Otto Soeprapto, Siti Rohayah, Moenadji Ruslan, Saidi dan si 'bontot' Benyamin yang lahir 5 Maret 1939 dan kelak menjadi seniman besar Betawi.

Karena itu, nama Benyamin di belakangnya diikuti hurus 'S' yang diambil dari nama ayahnya, Sukirman. Tapi S juga biasa dilafalkan Suaeb, yang konon berawal karena kesulitan orang-orang Betawi memanggil nama Sukirman. Akhirnya Rofiun memutuskan memanggil sang mantu dengan Suaeb, dan diikuti oleh orang-orang sekitarnya.

Rofiun sendiri dikenal dengan nama Jiung. Itu juga diambil dari namanya setelah pulang haji, Haji Rofiun yang disingkat menjadi Jiun. Karena kebiasaan lidah Betawi menjadi Jiung.

Nama Sukirman sendiri bukan nama Betawi, karena memang berasal dari Porworejo, Jawa Tengah. Dia merantau untuk sekolah sekaligus mencari ilmu, hingga akhirnya 'terdampar' menetap di Jakarta. Sukirman yang lulus Hollandsche Inlandsche Scholen (HIS) bekerja sebagai tukang bubut dan merawat peralatan kereta api di Manggarai. Saat itulah dia kenal dengan Siti Aisyah dan diambil mantu oleh Jiung.

Benyamin S © KapanLagi.comBenyamin S © KapanLagi.com

Namun takdir berkata lain, Sukirman harus berpulang di usia bayi bontotnya masih umur dua tahun. Dia meninggal dalam perantauan di Belitung, Sumatera Selatan tahun 1941 akibat sakit tumor.

Karena itu, Benyamin sangat dekat dengan Jiung. Sejak balita, tidak pernah bertemu dengan sosok ayah. Jiung pun dianggap ayah, dan selalu dipanggil Babe. Aisyah sebagai orang tua tunggal yang kemudian sangat berpengaruh dalam perkembangan kehidupan Ben.

Kejujuran dan sikap apa adanya ditanamkan Aisyah begitu kuat. Ben sangat takut kalau ibunya marah. Baginya, Emak direpresentasikan sebagai Tuhan.

(kpl/dar)


REKOMENDASI
TRENDING