Idris Sardi Sang MaestroDekat Soekarno, Idris Sardi Sempat Tolak Undangan Soeharto

Selasa, 13 Mei 2014 18:31 Penulis: Darmadi Sasongko
Dekat Soekarno, Idris Sardi Sempat Tolak Undangan Soeharto Idris Sardi © KapanLagi.com
Kapanlagi.com - Oleh: Darmadi Sasongko

Beberapa kali Idris Sardi berusaha menolak diundang Presiden Soeharto untuk tampil di Istana Negara. Situasi politik kala itu menjadi alasannya, kendati tidak pernah diucapkannya secara langsung. Dia mengaku dekat dan pengagum berat Presiden Soekarno, sehingga situasi peralihan kekuasaan tahun 1967 masih membekas di hatinya. Seribu satu alasan digunakan Idris untuk menolak permintaan tampil dari pihak Istana.

"Terus terang, walaupun saya nggak suka politik, tapi saya pecinta Soekarno. Apalagi waktu itu hubungan saya dengan Bung Karno cukup dekat. Makannya saya berbohong pas didatangi utusan Pak Harto yang meminta saya tampil di Istana Negara dalam resepsi 17 Agustus 1974," kata Idris Sardi seperti dikutip dari Buku Idris Sardi: Perjalanan Seorang Maestro Biola Indonesia karya Fadli Zon.

Idris saat itu beralasan kalau dirinya hendak tampil di sebuah show di Jepang. Namun alasannya ketahuan bohong dan akal-akalan, setelah pihak Istana meminta orang untuk mengecek keberadaan show tersebut. Idris tidak bisa berkutik dan akhirnya tampil di acara kenegaraan tersebut, dengan segala permintaannya dipenuhi.

Saat itu Idris meminta panggung silinder dengan luas satu meter dan tinggi empat puluh centimeter sebagai tempat berdirinya. Dia juga mengajukan syarat, agar mobilnya bisa dibawa masuk ke komplek Istana untuk membawa peralatan. Dia juga diperbolehkan check sound menjelang acara, di saat Presiden sedang istirahat siang. Semula permintaan itu sempat dilarang, namun Idris tetap mendesak dengan alasan demi penampilan terbaiknya.

Idris Sardi © KapanLagi.comIdris Sardi © KapanLagi.com

Acara kenegaraan pertama bagi Idris Sardi di pemerintahan Presiden Soeharto malam itu pun di luar kebiasaan. Repertoar yang dimainkan Idris tidak hanya lagu-lagu perjuangan atau lagu wajib nasional, seperti tradisi sebelumnya. Beraneka ragam lagu dimainkan, termasuk lagu daerah, pop Indonesia bahkan lagu barat, di antaranya seperti Aryati, Selendang Sutra, Sepasang Bola Mata, Yellow Bird, Ramona, I Left My Heart.

"Tetapi saya tetap berasumsi bahwa hari ini adalah resepsi kemenangan. Karena itu kita juga harus menyenangkan seluruh undangan yang ada di sini, termasuk para tamu yang hadir," katanya berdalih.

Usai acara, lewat seorang ajudan Pak Harto dan Ibu Tien minta bertemu langsung dengan Idris Sardi. Dia pun mulai berpikir macam-macam dan khawatir kena semprot atas penampilannya malam itu yang 'liar'.

Namun di luar prasangkanya, justru Pak Harto dan Ibu Tien memujinya. Mereka dengan bahasa yang santun dan priai justru memberikan penghormatan yang tidak disangkanya.

"Pak Harto bilang ke saya, 'Mas Idris tadi penampilannya bagus. Tapi karena banyak orang kita jadi tidak bisa mendengar dengan baik'. Ibu Tien juga bilang seperti itu. Saya sungguh terkejut. Ternyata saya tidak dimarahi toh," kata Idris menirukan.

Pertemuan itu juga membuang berbagai kesan tentang Soeharto di matanya. Dia kaget dengan keramahan dan perhatian Pak Harto yang menanyakan kesehatannya. Idris saat itu memang sering pendarahan karena ambien, dia tidak menyangka seorang Soeharto memberikan perhatian pada penyakitnya.

"Saya dengar Mas Idris suka sakit. Sering pendarahan terus. Kalau masih ada apa-apa, segara datang ke Dokter Kepresidenan. Biar nanti dokter yang urus penyakitnya," kata Idris menirukan Soeharto sambil merenungkan kembali kalimat itu.

(kpl/dar)


REKOMENDASI
TRENDING