Idris Sardi Sang MaestroNikolai Varfolomeyev Pun Tersihir Gesekan 'Bocah' Idris Sardi

Senin, 12 Mei 2014 17:31 Penulis: Darmadi Sasongko
Nikolai Varfolomeyev Pun Tersihir Gesekan 'Bocah' Idris Sardi Idris Sardi © KapanLagi.com
Kapanlagi.com - Oleh: Darmadi Sasongko

Nikolai Varfolomeyev, seorang musikus pelarian asal Rusia yang juga mantan pemain cello orkes Philharmoni Tsar (Rusia), langsung terpikat menyaksikan permainan biola Bocah Ajaib, Idris Sardi. Dia langsung menerima sang bocah sebagai murid Sekolah Musik Indonesia (SMIND) di Kota Yogyakarta, di mana Nikolai menjabat sebagai kepala sekolah.

Mas Sardi, ayah Idris Sardi, semula sering bertemu Varfolomeyev saat sama-sama siaran acara musik di Radio Republik Indonesia (RRI). Suatu saat, dia memberanikan diri untuk bertanya, soal kemungkinan anak sulungnya menjadi murid di SMIND.

Nikolai tersihir dengan kemampuan Idris. Bocah sepuluh tahun yang masih menempuh pendidikan di Sekolah Keputran I Yogyakarta itu, akhirnya menjadi mahasiswa luar biasa di Sekolah Musik Indonesia. Idris menunjukkan kemampuan bermusik, bukan sekadar menumpang ketenaran nama ayahnya yang memang seorang guru musik.

Idris Sardi usia 9 tahun di rumahnya di Kawasan Sawah Besar, Sumber Foto: @fadlizonIdris Sardi usia 9 tahun di rumahnya di Kawasan Sawah Besar, Sumber Foto: @fadlizon

Bukan tiba-tiba bocah Idris memiliki kemampuan berlebih. Buku Idris Sardi, Perjalanan Sang Maestro Biola Indonesia karya Fadli Zon menceritakan Idris kecil yang sejak balita sudah mendengar senandung biola ayah dan kakeknya. Karena memang keluarganya penyuka alat musik biola.

Baru di usia lima tahun orang tuanya, Mas Sardi dan Hadidjah mendampingi bakatnya secara serius. Orang tuanya secara disiplin mengajaknya berlatih tidak mengenal waktu. Dibiasakan selesai sholat subuh, sudah mandi dan mulai belajar. Kata ayahnya, Tuhan memberi sesuatu yang berbeda dengan bangun lebih awal.

"Jika kamu benar ingin belajar biola, kamu harus bangun pagi. Kenapa Allah bikin subuh itu pagi, karena ada urusan air yang membuat semuanya serba berbeda. Kamu belajar sekarang (pukul 05.00) dengan belajar jam enam sampai jam tujuh, itu beda," kata Idris menirukan sang ayah dikutip dari Buku Idris Sardi, Perjalanan Sang Maestro Biola Indonesia.

Mas Sardi yang tinggal di rumahnya di Daerah Ketapang, Gang Unilan, Sawah Besar Luar Jakarta, tidak mau setengah-setengah mengarahkan anaknya. Dia tidak mau anaknya sekadar ikut-ikutan lantaran melihat keluarganya sering memegang biola.

Idris Sardi menjadi solist consertmaster dalam pertunjukan di Gedung Negara Yogyakarta, 15 Agustud 1951, Sumber Foto: @fadlizonIdris Sardi menjadi solist consertmaster dalam pertunjukan di Gedung Negara Yogyakarta, 15 Agustud 1951, Sumber Foto: @fadlizon

Bahkan, Mas Idris selama enam bulan berusaha meyakinkan diri untuk benar-benar melihat anaknya memiliki minat bermain biola. Dia mengajak Idris mengenal biola dengan perasaan cinta dari dalam hati.

"Waktu Kecil saya melihat bapak tak pernah lepas dari biola sepanjang waktu. Sepanjang hari. Wajar kalau bapak khawatir saya hanya ikut-ikutan beliau. Mungkin bapak sebenarnya takut saya sekadar iseng-iseng saja," tegasnya.

Didikan Mas Sardi memberikan dasar karakter hidup dan bermusik yang tidak bisa terlupakan. Ditambah tempaan Nikolai Varfolomeyev, membuatnya piawai mengasah permainan biola. Tahun 1951, Idris Sardi yang bercelana pendek diangkat sebagai solist concertmaster (pemain utama) pada orkes Sekolah Musik di Yogyakarta. Dia bersanding dengan teman-teman seangkatannya yang rata-rata berusia di atas 20 tahun.

(kpl/dar)


REKOMENDASI
TRENDING