Mendaki Puncak Carstenz, Nadine Chandrawinata Belajar Soal Hidup

Sabtu, 10 Desember 2016 07:00 Penulis: Arai Amelya
Mendaki Puncak Carstenz, Nadine Chandrawinata Belajar Soal Hidup Nadine Chandrawinata © KapanLagi.com®/Budy Santoso

Kapanlagi.com - Berpredikat sebagai Puteri Indonesia 2005 tak serta merta membuat Nadine Chandrawinata lekat dengan imej perempuan cantik yang manja. Terbukti pada awal Mei 2016 kemarin, Nadine berhasil menjejakkan kakinya di puncak Carstenz, pegunungan Jayawijaya,Papua yang memiliki tinggi 4.400 mdpl itu.

"Aku nggak kepikiran bakal sampai di puncaknya, mengibarkan bendera sambil bicara Sumpah Pemuda dan menyanyikan Indonesia Raya. Pas di atas sana, sudah nangis semuanya karena sampai di sana jam 12 siang dan harus turun jam satu karena biasanya akan ada badai. Bener aja, pas di Carstenz sudah turun hujan es dan sepatu udah licin. Aku udah nangis nggak bisa tahan, mau balik lagi nggak bisa karena perjalanan udah enam jam. Baru kita turun karena akan badai," cerita Nadine.

Intinya dalam hidup itu adalah apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan. Manusia memang cuma bisa berserah diri dan berusaha.
Nadine Chandrawinata
 

Perempuan cantik berusia 32 tahun ini mengaku kalau dia mendadak cengeng lantaran tak menyangka bisa sampai di puncak Carstenz. Mampu berada di salah satu puncak tertinggi di Indonesia, Nadine pun belajar jadi seorang pendaki gunung yang sopan sekaligus banyak sekali instrospeksi diri dan belajar makna kesederhanaan.

Seperti ini gaya Nadine di puncak CarstenzSeperti ini gaya Nadine di puncak Carstenz

"Pas naik ke puncak aku ulang tahun, di sana pun cuma makan roti bakar dengan satu lilin dan bareng sama porter serta hewan peliharaan mereka. Kita cuma beralas daun dan di tengah-tengah ada perapian. Kebanyakan dari porter itu perempuan, totalnya sampai 30 orang dan mereka naik ke puncak cuma pakai rok tanpa sepatu sambil nahan dingin. Aku aja masih komplain ini itu, tapi belajar bersyukur karena nggak nyangka bisa ada di sana," lanjut kakak kandung si kembar Marcell dan Mischa ini.

Carstenz pun membuat Nadine sadar bahwa susah bagi manusia untuk menghilangkan ego dalam diri, rasa manja dan pemikiran-pemikiran negatif. Perempuan berdarah Jerman-Tionghoa-Indonesia ini pun belajar untuk selalu bersyukur dan tidak menggantungkan diri ke orang lain. Memiliki niat bisa mendaki tujuh puncak gunung tertinggi lainnya di Indonesia, Nadine merasa bahwa puncak Carstenz memberikan pengalaman hidup luar biasa baginya.

"Intinya dalam hidup itu adalah apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan. Ada dua buah momen yang bikin aku ngerasa 'kita manusia kecil banget ya' yaitu pas lewat tebing dan hampir terpeleset ke bawah, itu bener-bener ngerasa kalau Tuhan udah deket banget. Tapi pas sampe puncak dan melihat jalur yang udah kulewati, takjub banget dan aku berdoa. Manusia memang cuma bisa berserah diri dan berusaha," tutup Nadine.

(kpl/aal/aia)

Reporter:

Sahal Fadhli


REKOMENDASI
TRENDING