Posisi Seni dalam Budaya Pop Berhadapan dengan Kompetisi Ide
Kapanlagi.com - Sutradara film Garin Nugroho mengemukakan, posisi seni dalam budaya populer saat ini berhadapan dengan kompetisi ide yang luar biasa banyak dan beragam.
"Dulu saya membuat film hanya bersaing dengan lima orang, tapi sekarang sangat banyak," katanya dalam acara workshop film yang diselenggarakan panitia Festival Seni Surabaya (FSS) 2005 di Balai Pemuda Surabaya, Jumat.
Ia menjelaskan, para pembuat film saat ini hidup dalam berlimpah ruahnya ide dan kesempatan untuk bersaing. Karenanya, selain banyak peluang yang terbuka, saat ini juga banyak pembuat film yang mati karena kalah berkompetisi.
"Sekitar lima hingga 10 tahun yang lalu sedikit orang yang membuat film, sekarang sudah banyak. Banyak pula yang menemukan `jalan tikus` untuk membuat karya berkualitas. Kalau dulu hanya satu dua jalan tikus," katanya.
Advertisement
Meskipun demikian, ia mengingatkan agar pembuat film tidak hanya berhenti dan bangga setelah menemukan ide yang dinilainya bagus. Ide hanya merupakan tangga pertama untuk menuju tangga berikutnya.
"Ide itu perlu dielaborasi, baik dalam kaitan dengan manajemen maupun kretivitasnya. Orang yang hanya mencintai ide itu omong kosong, kalau tanpa diwujudkan," katanya.
Ia juga mengemukakan, seorang pembuat film harus tahu betul dimana meletakkan ambisinya. Misalnya untuk film ekonomi berbeda dengan film sosial. Demikian juga dengan kemampuan khusus yang ada pada dirinya.
"Raam Punjabi ahli di studio dan dia tahu betul kemampuannya. Salah kalau saya yang sangat pribadi meniru dia. Semua memiliki konsekuensi dan tantangannya masing-masing. Anda harus tahu ambisi dan kemampuan anda dimana," ujarnya.
Menurut dia, untuk orang dengan tipe pribadi seperti dirinya, memiliki konsekuensi yang sangat berat karena semuanya harus diurus sendiri dan harus memiliki kemampuan mengorganisir kelompoknya.
"Saya ini harus membuat naskah sendiri, mencari dana sendiri dan menyutradai sendiri. Berat sekali. Tapi kalau ditanya dimana kenikmatannya, itu tergantung masingt-masing," katanya.
Dikatakannya, orang juga sering terjebak dengan egonya sendiri sehingga mengalahkan ego filmnya. Mereka tidak mau belajar dari orang lain karena ego diriya lebih mengedepan.
"Itu namanya menghianati kemampuannya sendiri. Saya sendiri masih sering belajar dengan anak-anak muda yang berbakat karena dari mereka pasti ada sesuatu yang baru. Belajar dari kompetitor kita itu adalah ilmu yang paling baik," katanya.
Workshop yang dipandu dosen komunikasi Unair, Igak Satriya Wibawa itu diikuti puluhan aktivis pembuat film pendek di Surabaya.
(Menyusuri jejak Indonesiadi Balik Produksi Drama Korea.)
(*/erl)
Advertisement
D Academy 8
- Lesti Kejora Berita TerbaruPotret Lesti Kejora - Alexa di Panggung Dangdut Academy 8, Cantik dan Glamor










































