SELEBRITI

Transgender & Operasi Kelamin: Sah Secara Medis & Hukum Indonesia?

Jum'at, 20 April 2018 12:05 Penulis: Guntur Merdekawan

Prof. Djohan dan Tompi / Credit: Istimewa

Kapanlagi.com - Rabu (11/4) siang kami tiba di Kantor Bedah Plastik RSUD Soetomo, Surabaya. Kami yang terbiasa dengan udara sejuk kota Malang berkeringat karena cuaca panas yang terasa cukup terik. Kedatangan kami di tempat itu tak lain untuk menemui Prof. Dr. dr. Djohansjah Marzoeki Sp. BP. RE, salah satu Guru Besar FK Unair.

Janji temu kami sekitar tengah hari, tapi kami nampaknya perlu menunggu beberapa waktu karena Prof. Djohan (kami memanggil beliau demikian) sedang ada rapat akreditasi. Kami mengamati siang itu kantor sedang penuh kesibukan. Para staff dan dokter lalu lalang melewati kami.

Di tempat ini, kami berharap bisa berbincang ringan seputar topik operasi kelamin yang sedang banyak disajikan di tayangan televisi atau perbincangan di media sosial. Prof. Djohan, dengan gelarnya yang lengkap itu memang sosok yang sangat kompeten dan matang dengan pengalaman dalam bidang operasi bedah plastik, khususnya bedah kelamin. Salah satu keberhasilannya yang dikenal luas adalah operasi kelamin Dedi Yuliardi, atau yang sekarang lebih kalian kenal dengan nama Dorce Gamalama. Tiga puluh tahun telah berlalu setelah Prof. Djohan secara langsung memegang pisau bedah yang akan mengubah hidup Dorce selamanya.

Beberapa kali kami menengok ke dalam ruangannya, Prof Djohan masih berbincang serius dengan rekan-rekan profesor. Tak lama setelahnya, profesor keluar kantor dan menghampiri kami. “Dari KapanLagi ya?” sembari mempersilakan kami masuk. Bukan asistennya yang mempersilakan kami masuk, tapi beliau sendiri. Kesempatan untuk wawancara secara eksklusif dengan Dokter Djohan akhirnya tiba juga.

Waktu kami tidak banyak, karena Prof. Djohan memiliki jadwal yang padat. Kami pun berusaha tidak menyia-nyiakan waktunya. Seusai perkenalan singkat serta menjelaskan lebih detail tentang maksud kami Prof. Djohan mempersilakan kami untuk memulai wawancara dengan catatan. Ya, beliau paham benar bahwa apa yang akan kami bincangkan adalah hal yang masih menjadi kontroversi. Ada banyak pandangan tentang praktik operasi bedah kelamin ini. Maka kami sepakat untuk membicarakannya dari kacamata dunia kedokteran. Sesuai dengan apa yang menjadi keahlian Prof. Djohan. Tidak lebih.

"Operasi ini (operasi kelamin) di dunia kedokteran, beda dengan apa yang dipahami oleh masyarakat. Oleh karena itu, operasi ini menimbulkan kontroversi di masyarakat. Orang awam umumnya tidak memiliki ilmu kedokteran lalu mereka memakai wishful thinking, memakai pikiran-pikirannya sendiri untuk memberi komentar dan segala macam itu yang mungkin tidak terkait dengan ilmu kedokteran," jelas beliau.

Prof. Djohan tak perlu komentar, tak perlu pujian / Credit: KapanLagiProf. Djohan tak perlu komentar, tak perlu pujian / Credit: KapanLagi



Prof. Djohan mengamati bahwa bentuk tayangan atau wawancara terkait topik-topik ini perlu dijaga supaya tidak membenturkan pandangan masyarakat dengan pandangan kedokteran. "Ilmu kedokteran itu untuk kesejahteraan manusia, bukan untuk membentur-benturkan sesama manusia. Ilmu kedokteran itu independen. Tidak perlu komentar, tidak perlu pujian, tidak perlu apa. Yang perlu ada adalah indikasi dan kontra-indikasi. Kita (dokter) tidak boleh melakukan sesuatu kalau tidak ada indikasi, begitu pula harus mematuhi larangan untuk melakukan sesuatu kalau ada kontra-indikasi. Itu semua tercantum dalam ilmu kedokterannya sendiri," jelas beliau. Prof. Djohan menyebut lebih lanjut bahwa para dokter kerap mendapat larangan dari pihak lain atau kelompok lain namun tetap yang menjadi patokan adalah ilmu kedokteran itu sendiri.

Dalam bedah kelamin, indikasi yang dimaksud oleh Prof. Djohan adalah ketika calon pasien benar-benar menderita transeksual. Sederhananya adalah ketika seseorang memiliki perasaan berbeda dari kelaminnya, itulah yang disebut transeksual. "Misalnya, kelaminnya laki-laki tapi perasaannya perempuan. Kalau dia perempuan transeksual, kelaminnya perempuan, perasaannya laki-laki. Nah, keadaan yang seperti inilah yang diderita oleh penderita transeksual," jelasnya. Pun begitu ketika dokter menangani pasien yang demikian, tetap diperlukan konfirmasi.

"Ada yang mungkin hari ini kepingin, besok sudah nggak kepingin lagi (operasi bedah kelamin). Itu yang harus dikonfirmasi.Segala macam detail yang seperti itu yang harus dikonfirmasi. Karena itu perlu ada tim. Untuk konfirmasi, apakah memang statusnya begitu, di samping status yang lain. Apakah dia penyakitan atau apa, sebelum dioperasi itu harus dicek semua," terangnya.

Orang transseksual itu terganggu psikososialnya / Credit: KapanLagiOrang transseksual itu terganggu psikososialnya / Credit: KapanLagi



Prof. Djohan memaparkan secara sederhana bahwa kesehatan seseorang tidak dilihat dari badannya semata. Ada juga pikiran dan status psikososial yang perlu dipahami. "Satu itu badan, dua itu jiwa, dan tiga sosialnya. Yang berkaitan dengan badan itu batuk, luka, kanker. Itu semua badan. Kalau jiwa itu sedih atau gila. Kalau sosial itu malu, depresi, takut akan orang. Dua ini (jiwa dan sosial) itu yang kita sebut psikososial. Nah, orang transeksual itu yang terganggu kondisi psikosialnya," terangnya. Seseorang yang mengalami transeksual akan mengalami depresi, ill-feeling, tidak mampu melihat dirinya sendiri atau dalam pergaulan sosial.

Tidak Ada Jalan Kembali Setelah Operasi

Sama halnya seperti seorang dokter memastikan kondisi pasien memerlukan penangangan operasi bedah kelamin, seorang calon pasien pun harus melalui beberapa tahapan untuk bisa dioperasi. Semua itu diawali tentunya dengan datang ke dokter bedah plastik terlebih dahulu.

"Nanti salah satu dari kita (tim bedah plastik) melihat. Apakah orang ini potensial dan kita konfirmasi dulu. Misal ada pasien lelaki datang lalu saya tanya, 'Lha kok pakai pakaian perempuan?'. Kemudian dia menjawab, 'Iya dok dari kecil saya sudah seperti ini'. Saya tanya lagi, 'Sudah berapa lama berpakaian seperti perempuan?'," ujar Prof. Djohan menggambarkan proses awalnya. Beliau menekankan bahwa detail-detail yang seperti itu diperlukan untuk jadi pertimbangan. Hasil yang didapat dari wawancara awal ini yang nanti diserahkan kepada tim terkait, salah satunya adalah psikolog, untuk mendapatkan pertimbangan kedua. Selama menjalani profesi sebagai dokter bedah plastik, Prof. Djohan menanyakan kepada dirinya sendiri sebelum melakukan operasi, apakah memang pasien cukup menderita? Apakah nanti operasi bakal menambah bahagianya atau tidak. Beliau tidak mau melakukan operasi jika calon pasiennya tidak menunjukan indikasi perlu untuk dioperasi. "Kalau badannya masih laki-laki, pakaiannya masih terasa laki-laki, masak dioperasi. Kalau dari gayanya, lalu ternyata sudah pakai pakaian perempuan sekian tahun, ini nih yang butuh dioperasi. Terkonfirmasi," tegasnya.

Proses pengajuan operasi bedah kelamin / Credit: Liputan6.com - Tri Yasni dan AbdillahProses pengajuan operasi bedah kelamin / Credit: Liputan6.com - Tri Yasni dan Abdillah



Mengonfirmasi apakah pasien benar-benar transeksual tidak pernah mudah. Ada proses berlapis yang harus dilalui terlebih dahulu. Terkait proses tersebut, beberapa waktu lalu kami juga menghubungi Roslina Verauli, psikolog Anak Remaja dan Keluarga melalui sambungan telepon. Suaranya yang ramah dan lembut menjawab setiap pertanyaan kami.

"Kalau saya yang punya kasus seperti ini, yang saya mau cek dulu adalah kondisi biologisnya dulu. Jadi dianjurkan ke dokter dulu untuk cek kromosom secara genetik. Kromosom dan hormonnya benar nggak? Perkembangan hormon sama kromosom dia benar nggak? Jadi kalau saya sih pertama kali akan nganjurin dia ke dokter dulu, cek dulu. Kemudian yang kedua, secara seks nggak ada problem, laki-laki dan perempuannya jelas, baru kita masuk yang berikutnya secara psikologis," tuturnya.

Yang ditangani oleh Roslina pertama kali adalah penghayatan pasien akan femininitas dan maskulinitas dan orientasi seksualnya. Jika memang ada penghayatan pasien yang tidak tepat, pertama Roslina akan melakukan psikoterapi. "Berupa apa? Saya tanya sejak kapan isu dia menghayati tentang dirinya, peran laki-laki dan perempuan yang sudah dia belajar dari bapak ibunya apa dulu. Ibunya feminin malah maskulin, benerin genteng bocor misalnya, atau agresif, atau malah kayak laki-laki," ujarnya memberi contoh. Roslina memahami dan meyakini bahwa penghayatan tentang gender ini tidak bisa diajarkan. Semua bergantung kepada peran orangtua dan lingkungan tempat seseorang belajar tentang gender. Oleh karenanya peran seorang psikolog dalam proses bedah kelamin yang dijalani oleh pasien adalah untuk memastikan tidak ada penyesalan.

"Proses transgender atau transeksual kan bertahap ya. Semua dari atas sampai bawah. Dari atas dahinya laki kan lebih lebar dari perempuan. Terus rahang laki-laki kan lebih keras dari perempuan lalu terus sampai ke dadanya sampai kelaminnya terakhir. Sebelum setiap operasinya konsultasi ke psikolog untuk agar jangan sampai pas operasi terus menyesal, nanti balik lagi," jelasnya.


Video by: KapanLagi


REKOMENDASI
TRENDING